Friday, June 18, 2004

-:- LULUS!! -:-


Pembaca yang budiman, tak terasa, telah cukup lama Pipi menemani kita semua dengan cerita-cerita konyolnya selain kisah haru, setia kawan, gila dan lucu. Sekian lama Pipi menjadi murid smp Angkasa dengan ciri khas tomboy, gokil, model kuncir rambut yang ga pernah diganti sampai geng REWO dan pacarnya, si Piko. Telah lama Pipi menghibur kita bukan? Saat ini Pipi akan hadir menjadi gadis remaja smu yang masih tetep tomboy, gokil, konyol dan lucu. Namun perlu diingat, kunciran rambut Pipi mungkin akan tergantikan dengan model rambut cepak!! Ouw, perubahan besar hadir dalam diri Pipi begitu dirinya menginjak bangku smu Angkasa.

Lalu bagaimana dengan Pedro? Pedro pun lulus dari smu Angkasa dan kuliah pada satu-satunya universitas di kota Ende. Pedro yang selalu menjadi obyek otak gila Pipi tetap menjadi abang yang manis, namun menjadi lebih dewasa. Hanya satu yang ga berubah dari Pedro, cowok tinggi itu tetap pacaran sama Juleha, anak tetangga rumahnya. Pedro masih tetap mengajak Kevin, sahabatnya itu untuk ngebasket di halaman belakang rumah mereka. Kevin, pada cerita yang sudah-sudah adalah cowok yang pernah disukai Pipi, namun cinta monyet itu terbang seketika begitu Kevin mengajak kekasihnya ikutan ngebasket bersama.

Papi telah naik jabatan menjadi kepala Seksi pada perusahaan tempat beliau bekerja, pak Santoso dianggap mampu menduduki jabatan tersebut dan kemungkinan bisa menjadi kepala kantor!! Namun begitu, jangan dikira Pedro dan Pipi bisa merasakan yang namanya duit jajan 'lebih'. Karena papi dan mami selalu menyisihkan sebagian penghasilan papi untuk masa depan mereka sendiri. Papi ingin Pedro dan Pipi kelak suatu hari nanti dapat menggondol gelar sarjana. Paling tidak, mereka dapat mengenyam pendidikan lebih dari orangtua mereka sendiri.

Mami yang bernama Ferawati akan tetap tergila-gila pada telenovela trus menangis tersedu-sedu setiap adegan yang mengharu biru berlangsung dan tentu saja tetap ceriwis. Apalagi menghadapi Pipi yang memasuki dunia remaja sesungguhnya. Mami memang lebih cerewet dari sebelumnya!! Bisa bayangkan ga siy? Mami yang emang sudah cerewet itu bertambah cerewet? Hihihihi.

Bi Ijah? Oh yah .. bi Ijah tetap menjadi pembantu setia di rumah keluarga Santoso. Pembantu paruh baya itu tetap setia bila diajak Pipi ngobrol ngalor ngidul di halaman belakang rumah. Tetap setia memasak untuk mereka. Bi Ijah pun sekarang telah pintar membuat selai kepiting untuk teman makan roti!! Khas buatan mami itu sekarang malah ingin dikembangkan lagi .. ck ck ck. Bi Ijah sekarang memang sedikit pikun, maklum, usia bertambah kan?

Erick. Mungkin sosok Erick sedikit terlupakan karena Erick hanya tokoh yang muncul saat liburan ke Ende. Erick sekarang telah duduk di bangku kelas dua SD di Jogja. Erick yang bandel dan jahil nantinya akan datang berlibur kembali, sayang sekali, nakalnya masih ga berubah dan itu sedikit membuat Pipi stress!!!!

Geng REWO. Nah ini dia, geng REWO, geng Pipi bersama ketiga orang sahabat smp nya. Phia, Rara dan Gita juga Pipi sama-sama melanjutkan sekolah ke smu Angkasa karena aturan yayasan seperti itu. Phia, tetap ceriwis dengan celotehnya yang seakan ga ada capeknya itu. Ada saja bahan omongan yang muncul di kepalanya dalam kebersamaan mereka. Rara, semakin feminin dan tumbuh menjadi gadis yang lebih dewasa dalam usianya yang sekarang. Rara masih tetap menjadi incaran para cowok! Tapi patah hatinya di masa smp telah membuatnya selalu berpikir seribu kali untuk menerima cowok. Bagaimana dengan Gita? Cewek ndut ini belum bisa langsing juga meskipun telah diet mati-matian!! Koko, pacar si Gita sendiri merasa enjoy dengan kegendutan sang kekasih. Sepertinya, cinta mereka adalah cinta sejati yang sulit untuk dipisahkan lagi!!

Komar bagaimana dong? Nah ini dia tokoh Komar yang malang. Komar pun melanjutkan sekolah ke smu Angkasa, sama seperti Pipi dan geng REWO nya. Hanya saja Komar mendapat beasiswa untuk itu. Karena selain otaknya mampu, kehidupan Komar pun memang pantas untuk mendapat bantuan. Makanya Pipi dan teman-temannya masih sering ngumpulin duit sisa jajan untuk Komar meskipun Komar sendiri berusaha untuk menolak. Komar masih tetap menjadi loper koran (untuk membantu ibunya yang seorang tukang cuci). Masih ingat kan Komar mendapat pekerjaan itu dari seorang mantan pacar Pedro yang lebih tua yang bekerja pada penerbit Flores Pos. Komar pun akhirnya masuk menjadi anggota geng REWO yang terbaru. Disini Rara melihat sisi ganteng Komar sebagai cowok! Nah loh!!

Piko adalah pacar Pipi yang sekarang setelah Rahul mengkhianatinya. Bersama Piko, Pipi menemui kebahagiaan meskipun dirinya masih suka melirik cowok-cowok cakep, salah satunya Samuel, si pemilik kucing hitam yang pernah ditolongin Pipi pada seri sebelum ini. Piko telah naik kelas dua sekarang dan menjadi senior Pipi di smu Angkasa. Namun Pipi sendiri merasa, hubungannya bersama Piko ga akan bertahan lama, entah kenapa? Apakah gara-gara Samuel yah? Entahlah.

Samuel .. nah ini dia tokoh baru dalam serial Pipi. Samuel adalah tetangga baru Pipi namun beda gang. Samuel adalah pemilik kucing hitam yang pernah ditolong Pipi. Samuel adalah anak kuliahan seperti Pedro. Samuel tamatan smu Negeri di kota ini dan menjadi teman setia Pipi pada episode yang akan datang. Pipi lebih suka curhat-curhatan bersama Samuel. Ada kalanya Pipi ga sanggup curhat sama geng REWO, maka Samuel akan menjadi tempatnya melampiaskan semua rasa. Pipi yang lugu dan lucu selalu membuat Samuel betah berlama-lama memandanginya. Samuel menyukai Pipi, kepolosannya, keluguannya, lucunya, tomboynya ... sampai gokilnya. Bersama Samuel, Pipi merasa terlindungi sekaligus bangga. Karena Samuel memiliki segala yang diinginkan Pipi. Peduli, perhatian, sayang dan kepintaran. Pipi suka cowok pintar.

Kevin, sahabat Pedro yang pernah menjadi cinta monyet Pipi itu akhirnya menaruh perhatian pada Pipi begitu dia melihat penampilan Pipi yang baru. Pipi yang lebih terlihat fresh dengan rambut cepak dan seragam putih abu-abu. Kevin masih pacaran sama Vera sih, tapi sepertinya Kevin lebih suka menggoda dan memikirkan Pipi!! Nah loh!!

Jadwal hidup Pipi pun berubah. Pipi ga lagi mengikuti privat Matematika di sekolah. Dalam seminggu, kegiatan sore Pipi yang paling tetap adalah : les Komputer setiap Selasa dan les Bahasa Inggris setiap Kamis pada tempat kursus yang sama, Servas College. Phia dan Rara ga ikutan kursus selain Gita. Namun kekompakan mereka tetap tak tertandingi, tetap menolong anak-anak yang digenjet di sekolah dan membantu sahabat yang kesusahan!!

Bagaimana dengan Penulis? Yeahh penulis tetep gendut! :P Penulis tetap seperti ini, menyajikan cerita Pipi yang asal-asalan. Cerita yang berdasarkan pada kejadian kita sehari-hari, yang terkadang terlupakan!! Penulis akan tetap setia pada Pipi ... ci ci cieee :)) Pipi pun menatap penulis dengan pandangan puas .. *TOZZ!!!*

tuteh, 16 Juni 2004

Wednesday, June 16, 2004

-:- Kucing Siapa? -:-


Pipi celingak celinguk mencari-cari asal suara lemah itu. Kalau ke dapur, suara itu menghilang. Kalau ke kamar, suara itu ga kedengaran sama sekali. Kalau ke beranda baru deh suara itu semakin jelas terdengar. Lirih .. memilukan .. Pipi shock. Huehuehue. Penulis ngeliatin aja ulah si Pipi yang tomboy itu. Heran aja, sudah hampir masuk SMU, tetep saja kunciran rambutnya ga berubah! *cetakz!!* aww .. kepala penulis dikaretin euy. Pipi galak! Hihihi. Di beranda Pipi mulai menajamkan pendengarannya.

"Meong meong .. miauuuwwwwww!!" Pipi tersentak. Dimana sih sebenarnya posisi makhluk itu? Makhluk yang sudah dua puluh menit ini membuang waktu Pipi dengan mencari keberadaanya kesana kemari. Bolak balik kayak seterikaan sampe bi Ijah geleng-geleng jempol. Huehuehue.

"Miaaauuuuwwwwwww!!" saat Pipi mendekati sudut rumah depan sebelah kiri, suara itu semakin jelas terdengar, merobek gendang kuping nya. Barangkali kalau diartikan kucing itu pasti bilang gini "Gue disini Pipi geblek!!" penulis cepat-cepat ngumpet di antara pot bunga mami. Pipi panas dingin. Duh ... kesian *cup cup cup* nih penulis kasih permen! Jangan nangis yah Pipi sayang .. *blegud!!* awww .. jahat deh Pipi ^^ masa pot mawar mami dihantam di kepala penulis? Igh!

"Meong .. miaw .." oh itu dia! Pipi langsung semangat begitu melihat seekor anak kucing di sudut rumah. Kakinya terkait diantara pot-pot bunga milik mami yang dijejerin disitu. Pipi mendekatinya, mata kucing kecil itu menatap Pipi dengan pandangan yang begitu mengiba. Pipi tersenyum, lega bisa menemukan asal suara pilu itu.

"Duh kucing manis, kasihan kaki elu .. sakit??" Pipi meraih tubuh kucing itu dan melepaskan himpitan dua pot di kakinya. Kucing itu tersenyum juga .. hihihi .. ga lah .. kucing itu menjilat-jilat tangan Pipi sebagai ucapan terima kasih. Pipi menggendong kucing itu. Dibawanya ke beranda, duduk di kursi dan memangku kucing itu penuh sayang.

Kucing kecil yang manis. Bulunya hitam semua kecuali pada bagian dada, ujung tangan dan ujung kaki. Duh si kucing, seperti memakai tuxedo saja. Pipi gemas dibuatnya. Kucing itu bersih. Punya siapa? Pipi memainkan bulu-bulu kucing itu dengan lembut .. bulunya lembut. Mata kucing itu indah .. kumisnya juga. Pipi tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya begitu si kucing menatap Pipi dengan tatapan yang .. hmm .. bikin Pipi sayang banget sama dia.

"Kucing kecil .. elu milik siapa sih sebenarnya?"
"Miawww .."
"Duh, Pipi pengennya kamu bukan milik siapa-siapa deh, biar kamu disini saja yah sama Pipi .. bersahabat dengan Pipi. Mau kan?"
"Miawww miawww .."
"Kamu pintar deh .. ga kayak bang Pedro yang bego!! Huahahahah."
"Miawww!!"
"Huahahahahah .. bang Pedro emang bego kan? Hihihi, ah kucing pintar."

Kucing itu tiduran di pangkuan Pipi dengan manja, menikmat belaian Pipi pada bulu-bulunya yang lembut. Dari dalam terdengar langkah kaki.

"Pipi!!!!!!!!" tuh pasti mami deh. Suaranya mestiiii deh guede volumenya.
"Hadir miiiii!!!!"
"AAaaarrrrggghhhh tidakkkk!!!!!!!!"
"Mami ga pa pa?"

Pipi meletakkan kucing kecil di kursi dan berjalan ke arah mami yang histeris. Mami salah makan obat apa yah? Kok sampai histeris begitu?

"Mi, mami kenapa?"
"Itu kucing punya siapa?! Hayo balikin!!!"
"Bukan punya siapa siapa mi. Tadi kakinya nyangkut diantara pot bunga mawar milik mami trus Pipi tolongin deh."
"Aduh Pipi .. buang sana! Kamu ini ... mami ga suka ada binatang piaraan di rumah selain ikan-ikan tak berguna milik Pedro!"
"Duh mami .. kucing ini kan butuh pertolongan, ya Pipi tolong dong. Kan mami pernah bilang, kita patut menolong sesama makhluk hidup!"
"Tapi kucing itu Pi .. "
"Mi, Pipi janji, kalau kucing ini ada yang punya, pasti pemiliknya akan mencari dan Pipi akan kembaliin."
"Lalu????"
"Kalau ga ada yang cariin .. kucing itu tetap disini dulu yah mi .. plis mi .. plis. Kasihan loh mi, lihat saja, kucing itu begitu .. menggemaskan."
"Tidakkkk!!!!!!"

Dari dalam terdengar langkah kaki lagi, tergopoh-gopoh. Papi dan Pedro saling tolak menolak, pengen lebih dulu sampai ke beranda, ingin menyaksikan sendiri kehebohan yang terjadi.

"Loh mami dan Pipi ternyata, ga heran deh!!!"

Pedro cengar cengir disamping Papi.

"Kucing siapa itu Pi?"
"Ga tau kucing siapa pi, tadi Pipi temui di antara pot bunga milik mami."
"Ga ada pemiliknya?"
"Ga ada pi .."
"Ya udah, rawat saja."

Justru mami yang ngamuk begitu mendengar omongan papi.

"GGAAAAAAA BISA!!!!!!"
"Mi??" .. Papi, Pipi dan Pedro terperangah. Bukannya apa-apa, mami kalau lagi njerit gitu persis banget sama tarzan! Huehuehue.

Pipi berengut. Kesal deh ngeliat tingkah mami yang persis anak kecil. Masa rawat kuping saja ga boleh? Lagian kucing itu kan butuh pertolongan. Kalau ada pemiliknya datang mencari, Pipi pasti bakal ngembaliin kucing itu ke pemiliknya, itu janji Pipi dalam hati. Kucing itu begitu manis, ga rela rasanya Pipi membiarkan kucing itu diusir-usir orang seandainya kakinya tadi ga terkait diantara pot bunga milik mami. Pedro cekikikan ga jelas. Pipi melotot, abangnya itu memang paling aneh sedunia, tapi selain itu, abangnya adalah tempat Pipi berbuat jahil habis-habisan!!

"Mami ga mau kamu ngerawat kucing itu ... karena mami ga mau kamu kehilangan!!"
"Maksut mami?"
"Dulu mami pernah punya hewan piaraan juga .."
"Oh .. yang macan tutul itu yah mi?" seloroh papi asal. Mami mencibir, Pedro semakin terkikik dan Pipi menanti cerita mami selanjutnya dengan penasaran.
"Mami punya kuicing yang namanya Santoso .."

Papi langsung terkesiap .. melotot persis orang abis liat hantu. Santoso? Ah mami, itu kan nama papi!!! Argghh!!!

"Maaf pi, namanya memang Santoso kok, siapa yang menduga kalau suami mami sekarang namanya pun Santoso? Hmm .. kucing itu amat mami sayangi ,, sampai-sampai mami rela berbagi apa saja dengan kucing itu, sampai kasur!!"
"Teruss??"
"Terus kucing itu mati .. ketabrak .. mami merasa kehilangan yang amat sangat sampai sekian bulan bersedih hati .."
"Huhuhuhuhu .. hua huaa huaa .. papi sedih!!!"

Pipi dan Pedro saling pandang dan terkikik .. papi dan mami memang pasangan yang cocok deh .. sama-sama pedit dalam urusan duit .. sama-sama suka terharu kalau nonton atau denger cerita sedih .. sama-sama suka dibohongin oleh Pipi dan Pedro!!

"Sudah sudah .. yang penting kucing itu ga boleh tinggal disini .. mami ga mau kamu merasakan apa yang dulu pernah mami rasakan!!"
"Tapi mi .. kucing ini ...."

Belum selesai Pipi memprotes, satu sosok cowok, yang ck ck ck cakepnya bikin Pipi kejang-kejang seketika datang.

"Assalamu'alaikum .. maaf om, tante, dan semua .. bolehkah saya tanya, itu kucing siapa?"
"Ini kucing ga tau punya siapa .. nyangkut di pot bunga dan gue tolongin."
"Oh .. terima kasih .. Higa!! Higa!!"

Dalam hitungan detik kucing itu bangkit dan nyosor ke si cowok. Pipi melongo, papi hanya bisa diam memperhatikan, mami lega banget, dan Pedro cekikikan akibat demam tinggi .. trus salah negak obat! :D hueahwuaeh.

"Oh iya, kenalkan, saya Samuel, tetangga baru disini .. baru dua minggu pindahan .. rumah saya agak jauh sih .. di gang sebelah .. heheheh .. oia, saya terima kasih banget yah adek sudah tolongin saya."
"I .. iiyaaaaaa .. ga pa pa ..." Pipi ga mampu berkata-kata saking cakepnya itu cowok. Piko lewat deh!!

Samuel pun pamit pulang. Tinggalah Pipi di teras rumah sendirian, memikirkan cakepnya itu cowok. Duh .. bang Pedro aja ga secakep itu. Mami lega karena Pipi ga usah punya hewan piaraan, miara kuncir rambut sendiri saja susah! Papi menganggap hal itu telah berlalu dan menyongsong hari baru yang penuh ceria *ga ada hubungannya yak? :P* dan Pedro masih cekikikan, ngikiknya masih kedengaran meskipun dia udah masuk ke dalam rumah.

Doh Samuel!! Cakepnya dikawwwwww .. jerit batin Pipi. Seandainya .. seandainya hueheueheu, Pipi senyum-senyum sendiri. Ups, dosa yah? Kan sudah ada Piko. Well, Pipi sebentar lagi ujian akhir SMP loh!! Sebentar lagi Pipi bakal makai rok abu-abu dan say goodbye sama rok biru miliknya. Pipi dan anggota geng REWO telah sepakat untuk melanjutkan sekolah ke smu Angkasa, smu yang memang diwajibkan bagi tamatan smp Angkasa untuk lanjutkan studi disitu. Sedangkan Pedro sebentar lagi bakal kuliah dan meninggalkan smu Angkasa .. well .. good luck Pipi!!!

tuteh, 14 Juni 2004

Saturday, May 08, 2004

.:. A F I .:.


Pipi saat ini lagi terkena virus AFI! Penulis menyaksikan sendiri bagaimana cewek ceking dan tomboy ini tergila-gila menatap layar tivi tanpa kedip begitu tayangan AFI disiarkan setiap malam minggu! Sebenarnya Pipi agak telat juga sih. AFI 1 baru saja lewat dan cewek itu cuek-cuek saja sama AFI 1. Tapi begitu AFI 2 ditayangkan, cewek itu seperti terhipnotis. Mau tau jagoan Pipi? Dia nge-fans banget sama Adit yang berasal dari Surabaya itu!

Tapi sayang, kegemaran Pipi ini malah mengganggu hubungannya sama Piko. Setiap malam minggu tiba, Pipi mulai mondar mandir nggak karuan persis cacing kepanasan. Gelisah banget deh pokoknya. Dia bingung, mulai mencari-cari alasan agar Piko jangan sampai datang buat ber-malam minggu bersamanya. Dua minggu berturut-turut mereka nggak ketemu pas malam minggu. Yang pertama Pipi ngasih alasan sakit perut dan meng sms Piko agar nggak usah datang. Yang kedua Pipi bilang kalau mami minta ditemenin ke salon. Padahal semua itu bohong! Pipi malah asik nonton AFI bareng mami, papi dan bi Ijah. Pedro sendiri lebih suka keluar jalan-jalan sama Juleha!

Pengaruh AFI memang menempel begitu kuat ke dalam diri Pipi *ciee*. Tuks, pala penulis kena timpuk :PP Loh kenyataan kan? Setiap hari yang dibicarakan Pipi itu hanya afi dan afi. Di sekolah, Pipi suka banget membicarakan afi bareng geng Rewo-nya. Di rumah Pipi suka nyanyiin lagu-lagu dari album afi 1. Itu masih wajar sih, dari pada kasus Harry Potter yang lalu, dimana Pipi sudah seperti orang gila membayangkan dirinya adalah murid Hogwarts yang memiliki tongkat sihir dan berteman dengan Hermione! Wow, abg memang suka begitu yah? Dugg, kali ini penggaris Pipi nangkring di jidad penulis :PP

"Menuju Puncakkk .. yea yea .." mulai deh si Pipi, tereak-tereak sendiri pas pulang sekolah. Mami yang lagi asik nonton telenovela Marimar jadi kaget. Heran deh mami, Marimar kan udah ditayangkan berulang-ulang, tapi masih saja si mami betah menonton!
"Pi, jangan brisik!" perintah mami.
"Yee, Pipi kan suka banget sama lagu itu miiiii .." balas Pipi cuek sembari berlalu ke kamarnya. Selepas ganti baju, si tomboy langsung ke meja makan.
"Bi Ijaaaahhh!!!!" teriaknya.
"Ya non Pipi!! Hadirr!!" sip deh. Pembokat tua yang satu ini emang fungkeh!
"Bi, nanti malam taruhan yuk, siapa yang bakal tereliminasi." bi Ijah langsung berbinar matanya.
"Hmm menurut bibi .. si Tia kali ya non?" bujubuneng!! Pipi langsung kesedak air putih. Untung air putih yah Pi? Kalau durian gimana coba?! Huehuehue.

"Bi, Tia itu nggak bakal tereliminasi deh, denger saja suaranya, keren abis!!" bi Ijah mikir lagi ..
"Ya sudah, menurut Pipi sendiri, si Rindu deh yang tereliminasi ..." bi Ijah bengong.
"Kok Rindu sih non? Dia kan cakep .. tinggi .. " Pipi tergelak.
"Aduh biiii .. yang dinilai sama yang ngirim sms itu bukan hanya kecantikannya saja, melainkan juga suara sama sikapnya sehari-hari!! Lihat dong diarynya." wah Pipi, betul-betul jadi pengamat afi sejati deh.
"Kita lihat saja nanti malam yah non .. tapi omong-omong .. non Pipi nggak diapelin Piko lagi?" nah yah .. Pipi langsung inget Piko. Gimana yah? Alasan apa lagi yang akan diberikannya pada Piko?! Tak rela rasanya melepaskan afi begitu saja. Rugi!!

Habis makan Pipi langsung ke kamarnya. Mikir dan mikir. Sudah dua minggu dia nggak ketemu Piko. Ketemu sih di sekolah, tapi itu kan hanya bilang halo aja. Sedangkan ketemuan dalam arti pacaran mah .. jauhhh. Dua minggu sudah Pipi berbohong pada Piko. Dia sendiri sebetulnya kangen berat sama Piko, nggak tega kalau harus berbohong lagi. Tapi bagaimana dengan afi nanti malam?! Apakah Pipi harus melewatkan tontonan itu begitu saja? Nggak lucu dong. Uhhh .. Pipi gemas sendiri.

Duh, seandainya saja afi ditayangkan setiap minggu siang .. seandainya!! Maka malam minggu nya nggak perlu jadi korban seperti ini. Duh .. pusing!! Lalu, tring tring!! Muncullah ide di kepala Pipi. Bagaimana kalau nanti malam dia mengajak Piko nonton bareng afi saja. Dari pada harus berbohong lagi? Pipi toh sudah nggak punya alasan lagi dan Piko pasti nggak mau terima alasan apa pun dari Pipi. Ya oke-lah kalau gitu. Pipi pun tersenyum sendiri. Biar saja Piko bengong melihat keseriusannya menonton tivi dan memberikan komentar pada penampilan para akademia .. yeeaaa .. apa juaaaa bisa terbukti andai langkahmu tidak terhentiiii .. menuju puncakk .. aw!!

Malam tiba. Pedro sudah sejak sore pamit keluar sama Juleha. Papi, mami dan bi Ijah malah sudah asik di depan tivi. Tinggal lah Pipi di ruang tamu, nunggu Piko. Tidak ada pemeberitahuan pembatalan dan Piko sudah seharusnya datang. Malam minggu euy!! Kan asik tuh dapat kiss hikhikhik. Pipi jadi membayangkan first kiss nya bareng Piko. Doh, pengennnn!!!

Nah itu dia, suara motor Piko.
"Assalamu'alaikum!!" suara Piko membahana.
"Kumsalam!! Masuk Ko!!" Piko langsung mencium pipi Pipi sekilas trus duduk. Pipi menyuguhkan secangkir teh dan sepiring puding buatan mami.
"Tumben Pi."
"Tumben? Tumben apanya Ko??"
"Nggak telpon dan sms .. kan malam minggu .. biasanya elu ngasih tau ini itu biar gue nggak datang."
"Yeeee .. kok gitu sih?!" wajah Pipi memerah.
"Hehehe .. gue minum dulu yah?" Pipi menanti Piko minum dan menyikat puding nya sebelum bicara soal nonton bareng afi.

"Hmm Ko .." Piko menoleh.
"Ya??"
"Hmm .. gue .."
"Elu kenapa Pi? Sakit perut??"
"Bukan!! Igh!! Gue .. hmm gue mau ngajak elu Ko."
"OH yah? Kemana?"
"Nonton."
"Nonton? Nonton ke bioskop! Aduh Pi .. Flores Teater kan sudah lama tutup akibat bangkrut!!!"
"Bukan itu!!! Gue mau ngajak elu nonton afi .."
Piko terdiam ... lalu tergelak!!
"Afi?? Kok .. kok .. sama?!!!!"
"Hah?! Maksutnya??"
"Gue juga pengen ngajak elu nonton afi di rumah gue!! Actually, dua malam minggu kemaren membawa dampak buruk ke gue. Gue jadi ngefans sama para akademia afi .. "
"Loh .. kok bisa Ko?! Kenapa nggak bilang dari kemaren-kemaren sih?!"
"Loh, mana gue tau kalau elu juga suka nonton afi? Yang gue tau, elu sakit perut, trus keluar bareng mami .. gara-gara itu juga sih gue jadi ngendon di rumah, trus nonton afi!!"
"Dan elu suka afi jugak?? Wahahahaha .. elu mau tau? Gara-gara afi juga lah gue ngasih alasan macam-macam biar elu nggak datang .. maaf ya Ko. Abis, gue suka banget sama mereka."
"Yaoloh Pi .. nggak pa pa lagi. Kan kita masih bisa ketemu hari Minggu?! Kenapa nggak bilang sejak awal sih? Huehueheu .. nggak apa lah .. " Piko mengacak-acak rambut Pipi gemas.

"Pipiiiiiiiiiiii!!!!!! Udah mulaiii!!!!" teriakan mami mengagetkan keduanya. Lalu dengan langkah seribu mereka berlari ke ruang keluarga itu. Papi, mami dan bi Ijah heran melihat kehadiran Piko.
"Loh, ada Piko toh .. ya udah .. sana kembali ke ruang tamu .." komentar mami tanpa dosa, tanpa salah .. hehehe.
"Aduh mi .. Piko dan Pipi tuh pengen nonton afi jugak, ya kan Ko?" Piko mengangguk.
"Iya tante, kita berdua sama-sama ngefans sama para akademia." jawab Piko membenarkan. Akhirnya mereka pun menghabiskan malam minggu dengan menonton afi bersama papi, mami dan bi Ijah.

Ribut! Yang jelas masing-masing punya jagoan. Pipi sampai bengong melihat antusiasnya Piko menonton, sampai berkeringat gitu, tereak-tereak, ngasih aplaus dan suit suit gitu. Papi pun ikut-kutan. Papi dan Piko sama-sama menjagokan Tia! Pipi tetap kukuh sama Adit. Mami suka banget sama Miki dan Pasha yang suaranya serak itu. Sedangkan bi Ijah ga tetap! Kadang suka Rindu, kadang suka Adi, kadang suka sama Nia. Duh Nia kan emang cakep!!

Akhirnya malam minggu ini Pipi nggak jadi berbohong lagi sama Piko. Dia nggak jadi ngasih alasan yang bukan-bukan ke Piko. Solusi dari masalah ini telah ditemukan. Toh Piko pun menyukai tayangan yang satu ini. Lihat saja betapa bersemangatnya dia menonton! Duh, afi, betul-betul menjadi hiburan keluarga deh. Bapak-bapak, ibu-ibu sampai anak-anak pun suka sama tayangan yang satu ini, karena memang betul-betul menghibur dan penonton diajak untuk ikut serta di dalamnya dengan mengirimkan sms!! Ck ck ck, penulis geleng-geleng kepala .. what?? Semuanya melotot ke arah penulis .. takutt .. kabboorrr ahhh nonton afi jugakkkk!! Hihihihi.

Catatan : hubungan cinta, tak perlu berbohong di dalamnya. Dengan jujur, masalah apa pun akan ditemukan jalan keluarnya, Amin. Hehehe.

tuteh, 8 April 2004

Wednesday, April 14, 2004

FIRST KISS WITH PIKO


Udah pada tau kan kalau Pipi itu lagi pacaran sama Piko, cinta anak muda yang menggairahkan. Pipi betul-betul jatuh cinta sama pesona Piko yang memukau. Nah, mereka kan sudah cukup lama pacaran, pikiran Pipi mulai terarah pada yang namanya ciuman. Wajar sih untuk ukuran abg kelas 3 smp. Well, Pipi dan Piko selama ini kalau jalan, paling ke toko, ke pantai, ke taman dan ke toko buku. Selebihnya sekedar makan di warung atau main di rumah Pipi sendiri.

Pacaran anak kecil! Begitu bisik hati Pipi setiap kali jalan sama Piko. Pipi ingin sesuatu yang lain, Pipi ingin dicium, tentu saja dicium Piko. Seperti apa sih rasanya? Pipi membatin ingin tau. Apa seperti ciuman Harry Potter ke ceweknya? Atau seperti ciuman sekilas yang sempat dilihatnya di telenovela? Huah, ada sensai ganjil yang menjalar di hatinya dan membuat perutnya seperti diobrak abrik, Pipi mules. Penulis suit suit!! *sambit!!* gober Pipi pun mendarat mulus di kepala Penulis. Idih si Pipi, galak deh aw!

Apa Pipi mulai menunjukkan tanda-tanda genit? Kelas 1 smp Pipi sudah tau yang namanya PMS, masa haid pertama saat pelajaran olahraga. Mami pun dengan bahasa ibu menjelaskan padanya apa itu menstruasi dan bagaimana gejala-gejalanya, sampai dampak psikologis dari menstruasi. Mudah marah, gampang tersinggung dan amat sangat sensitif. Pipi ngerti semua itu. Yang diinginkannya sekarang adalah, ciuman Piko!! Pipi rada iri juga sih waktu Gita bilang "Semalam gue dicium Koko di pipi." well, di pipi pun oke lah. Kapan Piko anak menciumnya?

Apa dia harus mulai duluan? Wikz, cewek kok agresif banget Pi? Pipi cemberut. Piko itu sopan banget sebagai cowok. Megang tangan itu hal yang paling optimal yang pernah dilakukan Piko padanya. Gatel? Ga juga ah, batin Pipi lagi. Masa pengen dicium saja kegatelan namanya? Tomboy sih tomboy, tapi hasrat sebagai cewek itu ada kan? Apalagi dia sering berduaan Piko, meskipun di tempat umum, hatinya tetap saja ser ser gitu.

"Jeduarrrrr!!!!!" Pedro mengagetkannya. Pipi melotot. Pedro tertawa senang, puas bisa mengagetkan adiknya yang usil itu.
"Ngelamun nih Pi?" tanya Pedro.
"Ga, mancing." jawab Pipi cuek.
"Oh, udah dapat ikan berapa?" Pedro lebih cuek.
"Satu .. ikan bego dengan tampang lugu yang mudah dibohongin." jawab Pipi. pedro sadar, dia lah ikan itu.
"Dudutz dah!" pipi terkekeh puas.

"Elu kok jadi aneh Pi? Kurang ceria seperti biasa." Pedro duduk disamping Pipi, selonjorin kakinya di meja, Pipi memeluk bantak sofa.
"Orang ngelamun kok aneh bang. Abang tuh yang aneh." Pedro kaget.
"Gue aneh? Wakz, gue masih normal tauk! Waras!" elit Pedro.
"Aneh ah, suka ngerecoki orang ngelamun." timpal Pipi. Pedro diam. Ga pernah menang adu mulut sama adiknya yang rada gokil ini.
"Kenapa sih elu sering ngelamun? Ga usah melamunkan duit jajan kita yang ga pernah bertambah nominalnya. Elu tau kan mami? Mana mau ngasih duit lebih buat kita?" Pipi manggut-manggut. Andai saja yang dipikirkan itu soal duit! Dia lagi mikir ciuman itu kayak gimana dan pengen dicium Piko!

"Eh Pi, gue punya cerita nih, tapi jangan bilang siapa-siapa yah." Pedro kembali bicara.
"Soal Juleha lagi? Bosen ah, Juleha jelek gitu diomongin terusssss." goda Pipi.
"Biyarin wekz, yang penting kan cinta. Cinta itu .. bla bla bla .." Pipi tutup kuping, mulai deh Pedro kumat.
"Iya iya .. trus mau cerita apa bang?" tanya Pipi penasaran.
"Yahhh karena gue anggap elu udah gede, udah layak diajak curhat masalah beginian .. kan bentar lagi smu, eh mo lanjutin smu dimana Pi? Bentar lagi gue lulus smu loh, elu ke smu Angkasa aja, biyar gantiin gue disono hihhi." Pipi manyun, duhhh abang ini niat cerita ga sih?!

"Iya iya . trus??" Pipi menatap Pedro ingin tau.
"Begitulah .. namanya juga orang gede pacaran Pi. Eh, Pipi juga udah pacaran yah, padahal masih kecil gitu huhuhuhu." Pipi melongo, Pedro benar-benar lagi kumat!!!
"??? Trus??" Pipi mulai lemes, menampakan gejala epilespi, bentar lagi pasti mulutnya berbusa.
"Yeah .. tapi ingat Pi, pacaran sih pacaran, norma dan etika harus tetap dijaga. Ada ga yah buku soal .. hmmm .. norma-norma dalam berpacaran khusus abg?" tanya Pedro cuek. Pipi menangis.
"Abang!!!!!!! Niat cerita ga sih?! Kok jadi ngelantur gitu?! !@#$%^&*(_+" Pipi menjerit kesal. Pedro terkekeh, hikhikhikihkhik.

"Gara-gara yang mau gue ceritain itu, makanya jadi ngelantur gini. Pi, dua hari lalu, elu tau kan, gue ngajak Juleha jalan-jalan, pakek motor papi?" Pipi mengangguk. Dia ingat, mami dan papi mencak-mencak, mau ke kantor papi menghadiri acara kantor, ga ada kendaraan dan terpaksa naik angkot! Duh, untuk sebuah inti cerita, Pipi harus rela mendengarkan prolog yang begitu panjang.
"Kita kan keluarnya abis maghrib gitu, puter-puter kota yang kecil dan indah ini, eh gue sekalian promosi yah hahahaha." Pipi memandang Pedro dengan pandangan terhina, amat sangat!!
"Trus pulangnya dah agak malam gitu, dah jam delapanan. Sampai di depan rumah Juleha, gue tanya, Ju, orangtuamu ada ga? Trus Juleha bilang orangtuanya lagi pergi sejak sore ..." dari sini Pipi mulai menyimak dengan serius.
"Trus .. gue bilang, Ju, gue cium elu yah .." hah?! Pipi ibarat disambar petir mendengarnya, betapa lugunya si abang, betapa .. betapa .. memalukan.

"Eh tau ga apa kata Juleha? Dia bilang, dia sudah nunggu saat ini sejak lama!!" jeduarrrrrrr kembang api meledak di kepala Pipi. Juleha ... sama seperti abangnya, sungguh .. sungguh .. memalukan.
"Ya udah, abang trus kiss her lips yang lembut .. Juleha pasrah! Wahahah." Pipi menatap abangnya tak percaya.
"I .. i .. itu first kiss bang?" Pipi tersendat bertanya.
"Ga dong, gue kan udah sering ciumin posternya nelly furtado ma pink!!" satu bantal kursi menyambar Pedro. Dia terkekeh.
"Tau ga Pi, dahsyatnya ciuman itu? Gue ga brasa dimarahin papi gara-gara motornya kepakek! Gue serasa di awang-awang, senang deh ... " Ouw, senang yah kalau abis ciuman? Pipi kembali memikirkan angan-angannya dicium Piko. Apa Piko bisa seberani dan memalukan seperti abangnya?

Ataukah dirinya yang akan bersikap memalukan seperti abangnya? Pipi membayangkan bibir Piko menyentuh pipi-nya .. bibirnya .. wakzzz!! Pipi mules, dia berlari ke kamar mandi.
"Hoi Pi, belum selesai neh!! Doh segitu aja ampe ke kamar mandi!!" Pedro menggoda Pipi.
"Mulessssssss!! Ceritanya bikin mulesss!" terak Pipi sebelum masuk kamar mandi.
"Busyetttt dah!!" gerutu Pedro.

Malamnya Piko sms-in Pipi. Dia pengen dateng ke rumah Pipi. Ouw, Pipi senang dong, soalnya ini kan bukan malam minggu. Tumben si Piko mau dateng, lebih kebetulan lagi, Pipi itu masih terus memikirkan ciuman Piko, pengen gitu, hihihi. Tepat pukul tujuh Piko dateng.
"Naik apa ke sini?" tanya Pipi, menyuguhkan segelas teh di meja.
"Minjem motor papa." jawab Piko. Pipi duduk di hadapan Piko. Perasaannya jadi tak menentu.
"Pi, duduk disamping gue dong, masa duduk jauhan? Gue kan kangen." ujar Piko, Pipi pun nurut duduk di samping Piko. Piko mulai deh cerita-cerita seputar sekolah dan teman-temannya. Pipi mendengarkan saja dengan pikiran masih terarah pada CIUMAN!

"Pi, elu kok diem?" tanya Piko menyadari kebisuan Pipi yang amat tidak wajar.
"Hmm ga pa pa kok." jawab Pipi. Piko memegang kunciran rambut Pipi.
"Pi, mami dan papi elu kemana? Kok ga kelihatan?" tanya Piko lagi.
"Oh, mami dan papi lagi di kamar, papi katanya kurang enak badan, jadi minta mami ngerokin. Bang Pedro, biasa, keluar, tadi dijemput bang Kevin." kata Pipi. Entah hanya pikirannya atau memang Piko yang bersikap aneh. Piko tolah toleh, memperhatikan keadaan sekitar.

"Pi .."
"Hmm??"
"Merem deh .." eh? Apa ga salah?
"Elu mau kentut?" wadaw Pipi.
"Yeee... bukan. Gue mau .. hmm .." Piko ga meneruskan kata-katanya.
"Mau kiss gue?" pertanyaan itu pun meluncur dengan bebasnya dari bibir Pipi. Pipi memerah muka, menyadari ketololannya. Betul-betul jadi obsesi deh.
"Kok tau?!" waaaaa Pipi keringetan .. betul nih? Dream come true? Apa ini cuma mimpi saja? Pipi mencubit lengannya.
"Arrrhhhhhhggg!!" Pedro menjerit kecil. Pipi kaget. Waduh, saking nervousnya Pipi salah mencubit lengan Piko.
"Sorry Ko .. hihihi." Pipi belum sempat ngomong lagi, tiba-tiba.

*Cupz* Pedro mengecup bibirnya singkat, sekilas yang membawa dampak yang begitu besar buat cewek tomboy ini. Pipi terpana, matanya melotot, sesaat Pipi seperti ga nginjek bumi. Piko heran, dikibaskan tangannya di wajah Pipi. Pipi tersentak.
"Pipi marah?" tanya Piko. Pipi menggeleng. Malu, tersipu.
"Gue cinta elu Pi .." ujar Pedro setelahnya. Pipi menunduk malu. Mau rasanya adegan itu terulang lagi dan lagi. Mereka terdiam, tiba-tiba muncul Pedro.

"Hoiii asyiknya pacarannn wahahaha." Pedro cengar cengir.
"Eh bang Pedro." ujar keduanya barengan.
"Dari tadi Ko? Haus neh, tehnya gue minum yah?" dasar ga tau malu, Pipi melotot, sebel sama ulah Pedro. Pedro terkekeh, puasssssssss.
"Gue ke dalam dulu ya Ko .." usai menegak teh Piko, Pedro ngeloyor pergi. Jam sembilan Piko pun pamit pulang. Pipi mengantarnya sampai depan pintu, dan Piko, menyambar bibirnya lagi, lebih lama dari tadi dan mengedipkan sebelah matanya. Pipi ga sekaget tadi, tapi senengnya bukan main deh. Piko pun menghilang dengan raungan motor papanya.

Pipi mengunci pintu trus masuk kamar. Dia berbaring, senang, gembira, semua rasa jadi satu. Malam ini, dia dicium Piko! Oh, gitu toh rasanya, kayak ga nginjek bumi hihihii. Pipi menatap langit-langit kamar, ada wajah Piko disitu. Pipi merem, ada wajah Piko disitu. Pipi pun tertidur dan wajah Piko dengan first kiss nya menghias mimpi Pipi malam itu. Pipi's first kiss!!

tuteh, 10 April 2004

Tuesday, April 06, 2004

HOREEEEEEEE ... PEMILU!!!!!


Hari Senin, tanggal 6 Maret adalah hari Pemilu. Pipi yang tomboy dan ceking itu amat sangat riang gembira. Dari pagi, dia sudah mandi, sarapan bersama papi, mami dan Pedro, nyanyi-nyanyi, bahkan bantuin mami nyiram kembang! Pasalnya sekolah-sekolah diliburkan, hari libur nasional deh.
"Tumben kamu Pi." kata mami.
"Mumpung libur kan mi ..." jawab Pipi santai.
"Tapi ga biasanya deh seorang Pipi rela nyiram kembang ..." ujar mami terheran-heran. Duh mami, ga mau dibantu apa?!!!
"Kan biar mami bisa konsentrasi." ujar Pipi lagi.
"Konsen? Emang mau belajar buat ujian?!" ledek mami terkekeh.
"Oh, tentu saja bukan ujian .. tapi konsen, ntar nyoblos mau milih partai apa, gitu mi." kata Pipi sok bijak. Dan mami semakin terkekeh mendengarnya.
"Ada-ada saja kamu Pi!" seru mami sambil berlalu. Pipi cuek, terus nyiram kembang yang tertata apik di teras rumahnya.

"Pipiiiiiiiiiii!!!" suara Pedro mengagetkannya. Pedro muncul di depan pintu dengan tampang jijay.
"Yaa bang Ped!! Apaan sih tereak-tereak gitu, cempreng tauk suaranya!!" balas Pipi.
"Kalau ga tereak, elu mana mau njawab?" jawab Pedro tak kalah cuek.
"Ada apa?" tanya Pipi sembari melepaskan gayung.
"Kaos elu yang dapat gratis itu mana?" tanya Pedro. Pipi tercengang. Kaos salah satu partai yang sempat bikin heboh saat dipakainya itu?? Untuk apa sih bang Pedro tanya-tanya soal kaos itu?
"Ada .. ngapain?"
"Pinjem dong!!" ujar Pedro. Heh? Pinjem? Duit dong!!
"Sewa!!" Pedro melotot.
"Widih! Kaos dapat gratisan aja kok disewa .. pinjem!" Pedro ngotot. Pipi lebih ngotot lagi ampe pipinya berotot huehue.

"Gaaaaa!!! Sewa!!!" kali ini Pipi balas menjerit. Keok!! Ayam tetangga mati satu :P Pedro dan Pipi saling melotot. Akhirnya Pedro nyerah.
"Iya deh .. sewa, ga mahal kan?" suara Pedro melembut.
"Dua pulu rebu. Deal?" ujar Pipi.
"Pemerasan itu namanya Pi!" sembur Pedro. Pipi mengangkat alis.
"Deal or not? Kalau ga mau ya sudah .." Pipi melenggang santai ke dalam rumah. Pedro mengejarnya.
"Oke oke .. dua puluh ribu .." horeee batin Pipi melonjak kegirangan! Dua puluh ribu untuk kaos gratisan? Ambil aja sekalian, ga usah disewa!
"Sip deh, duit dimuka." ujar Pipi dan mengadahkan tangannya. Pedro bersungut-sungut meraih uang dari kantong blue jinsnya yang ga kecuci 2 bulan :P
"Gitu dong!" Pipi menyambar uang dari tangan Pedro trus ke kamarnya ngambil kaos yang dimaksut. Pedro nunggu di ruang makan.
"Nih kaosnya ... tapi untuk apa sih kaos ini bang Ped?" tanya Pipi ingin tau.
"Untuk dipakek nyoblos ntar .." jawab Pedro ringan trus masuk ke kamarnya sendiri. Huh, Pipi kembali ke teras nyiram kembang yang dah pada kelelep!

Dari teras Pipi melihat kesibukan orang-orang. TPS berada di dekat masjid, ada halaman kosong disitu. Pipi sendiri kemarin sempat nganterin kue dan minum untuk orang-orang yang bekerja, sumbangan dari mami yang tumben ga pedit. Capek nyiram kembang Pipi duduk santai di teras, memperhatikan orang-orang. Heran aja deh si Pipi, itu ibu-ibu kok pada cantik-cantik? Bapak-bapak pada rapih jali, kayak mau kondangan aja. Pipi tertawa sendiri. Dan herannya Pedro justru rela melepaskan duit dua puluh ribu demi sebuah kaos gratisan! Pipi tertawa puas. Dua puluh ribu bo .. lumayan.

Lagi asik-asik merhatiin orang tiba-tiba papi muncul. Pipi kaget, itu papi atau John Travolta sih? Kemeja putih bersih, celana cutbray item, rambut diminyakin plus kacamata item. Silau man .. batin Pipi.
"Wahhhh papi ternyata ganteng yah .. kalau dilihat dari monas! waahaha." goda Pipi terkekeh-kekeh. Syndrom Pemilu, orang-orang menjadi sadar bahwa diri mereka jelek, jadi kudu dandan!!
"Dasar anak kurang ajar, papi kan emang ganteng .." ujar papi jijayyyy. Pipi terbahak-bahak. Papi menuju pagar rumah.
"Loh pi, ga nunggu mami dan bang Pedro?" tanya Pipi.
"Hidup boleh bersama, urusan pemilu masing-masing!" jawab papi cuek trus keluar pagar, berbaur dengan orang-orang lainnya yang menuju TPS.

Ga brapa lama Pipi mencium aroma parfum yang bukan main menyengat hidung. Treng treng .. mami berdiri di pintu rumah. Hah?! Tadi papi, sekarang mami yang agak 'genit'.
"Mami?!" ujar Pipi.
"Kenapa sayang? Mami cantik yah?" tanya mami lugu. Pipi rasanya ingin muntah.
"Ngapain pake kebaya lengkap gitu mi? Rambut di konde lagi, kayak mau ke kondangan saja mi. Aduh mi .. itu selop tumitnya tinggi banget! Awas jatuh mi!" tereak Pipi.
"Dasar anak kecil! Ga tau apa kalau ikutan pemilu itu harus rapih .." Pipi bertampang bego .. rapih yah? Kelewatan sih ini namanya.
"Iya deh .. terserah mami .. hati-hati yah mi .." ujar Pipi ngalah. Mami, siapa yang berani ngelawan?
Mami pun keluar pagar, ber say hello sama ibu-ibu yang ga kalah ganjennya menuju TPS bersama-sama.

Lagi-lagi Pipi dibuat geleng-geleng kepala melihat Pedro. Abangnya itu memakai kaos gratisan dan bluejins yang sama. Bedanya Pedro malah pakek sandal jepit!
"Wow .. betul betul berbeda .." seru Pipi. Pedro nyengir kuda.
"Beda? Tambah cakep yah .." suit suittt Pipi ngakak abis.
"Apanya yang cakep! Papi dan mami tuh yang cakep hehehe. Bang Ped, kenapa sih bela-belain makek kaos itu? Padahal papi dan mami pakaiannya kayak orang mau kondangan loh .." tanya Pipi.
"Ada deh .. anak kecil tau apa .. ini kali pertama abang nyoblos .." jawab Pedro sambil lalu .. dia keluar pagar .. menuju TPS.

Tinggal bi Ijah yang belum nongol. Bi Ijah kemana sih? Pipi penasaran, trus ke dapur .. apa bi Ijah masak yah? Namun bi Ijah ga ada di dapur. Baru Pipi mau ke kamar bi Ijah, pembantu tua itu dah muncul dengan senyum memukau. Bi Ijah tampak beda kalau pakek gincu!
"Oiiii bibi .. cakeppp!!" ujar Pipi dengan dua jempol di udara.
"Hihihi .. masa cakep non ... orang hanya pakek lipstick aja kok." memang sih bi Ijah tetap biasa-biasa saja, tapi tetap beda bagi Pipi, karena bi Ijah makek gincu. Bi Ijah pun pamit ke TPS meninggalkan Pipi sendiri di rumah. Yah, nasib yang belum cukup umur!!

Sambil nunggu papi, mami, Pedro dan bi Ijah pulang nyoblos, Pipi tidur-tiduran di sofa. Sms-an sama Piko, Piko masih setahun lagi baru cukup umur buat nyoblos. Sedangkan geng REWO yang lain pun bernasib sama kayak Pipi, bengong di rumah. Mau kemana? Toko-toko tutup, warung tutup, sekolah libur. Mau ke warnet? Paling tutup juga, lha wong kota kecil kok, gitu ujar Pipi di dalam hati. Mau baca gober? Libur baca gober dulu ah .. Harry Potter? Sudah ditamatkannya. Pipi pun terus sms-an sama teman-temannya.

Dua jam kemudian papi, mami, Pedro dan bi Ijah pun pulang. Mereka berempat langsung duduk mengelilingi Pipi. Pipi bangun, duduk, penasaran, partai apa sih yang dicoblos sama anggota keluarganya.
"Pappppp tadi nyoblos apa??" tanya Pipi. Papi tersenyum sendiri.
"Bingung Pi .. kertas suaranya gede!!!! Kayak koran!! Tadi papi berlama-lama di TPS, mbaca dulu, liat dulu hehehe." ujar papi.
"Masa?? Trus papi nyoblos apa dong?" tanya Pipi antusias.
"Lupa .. hehehe" waduh papi ... bikin yang denger bete deh.

"Mi .. mami gimana?" tanya Pipi ke mami.
"Hmm apa yah tadi?" yah mami ...
"Soalnya tadi mami juga berlama-lama di TPS. Trus .. liat-liat dulu nama calon disitu .. wow, bagus-bagus loh Pi .. " seru mami. Papi cemberut mendengarnya. Mereka tertawa.
"Lalu????????" tanya Pipi lagi.
"Mami sih .. tadi nyoblos ... nama yang bagus heheheh." yah mami, setali tiga uang sama papi. Pipi menoleh ke Pedro.

"So, bang Ped gimana?" tanya Pipi. Rasanya tak perlu lagi mengulangi pertanyaannya.
"Nyoblos yang mau ngasih duit ke abang dong!!!! Lima puluh ribu untuk nyoblos, dengan syarat makek kaos nya mereka wahahah ... masih untung tiga puluh ribu." ujar Pedro lugu. Papi dan mami kaget.
"Kamu dapat duit?!!!!!!!!!!! Itu namanya money politik! Ga boleh gitu lain kali!" semprot papi. Pedro senyum simpul.
"Wah Pedro .. kenapa ga kasih tau mami sih? Kan lumayan lima puluh ribu." dasar mami .. malah mengagetkan semua yang mendengar hahaha.
"Idih mamiiiiiiiiiiiiiiii" seru mereka bersamaan.

"Dan bi Ijah?"
"Bibi sih setia sama pohon jambu .." jawab bibi kalem. Oh .. Pipi ngerti maksut bi Ijah.
"Kenapa pilih pohon jambu bi?" tanya papi penasaran. Bi Ijah lebih terbuka.
"Karena menurut bibi .. partai-partai baru belum tentu sebaik pohon jambu. Biar bagaimana pun, pohon jambu pernah membangun bangsa ini, lagian .. lagian .. mobil rusak, lebih baik dikemudikan sama sopir yang telah berpengalaman." ujar bi Ijah bijak. Ck ck ck .. semua terpana. Bi Ijah punya pemikiran seperti itu????
"Tapi kan negara rusak begini akibat dari pohon jambu juga biii" seru papi ga mau kalah berargumentasi.
"Yah papi ... manusia saja bisa berbuat salah, setiap manusia kan pernah berbuat salah?! Apalagi untuk pohon jambu???" jawab bi Ijah cuek sambil ngeloyor ke dapur. Mereka saling berpandangan ... mengerti atau tidak??

Pokoknya hari itu, keluarga Pipi telah nyoblos, entah apa yang dipilih mereka. Bagi Pipi, dia ingin Pemilu bisa setiap hari .. biar bisa libur terus dan digodain penulis wahahah *tukz, biji jambu mangkal di kepala penulis* aw aw. Pipi melenggang santai ke kamarnya, setel radio .. wahhhh lagunya .. pemilihan umum telah memangil kita .. seluruh rakyat menyambut gembira .. hak demokrasi pancasila .. hikmah indonesia merdeka ... pilihlah wakilmu yang dapat dipercaya ... waaaaaaa... Pipi mending pilih Piko aja deh ... and the story end.

tuteh, 7 April 2004

Wednesday, March 31, 2004

.:. K A M P A N Y E .:.


Minggu sore yang cerah, secerah hati Pipi. Cewek ceking itu sore-sore begini sudah mandi dan wangi, tak lupa memakai kaos salah satu partai yang dibagi kemaren pas pulang sekolah. Eits, jangan salah, bukan sekolah Pipi yang membagikan kaos loh, tapi orang-orang partai itu sendiri. Mereka pas lagi bagi-bagi kaos di pinggir jalan begitu Pipi lewat pas pulang sekolah. Jadi deh Pipi tertarik, trus nonton dan dapat kaos. Bahagia rasanya punya kaos salah satu partai politik yang ikutan Pemilu. Kevin yang sore itu datang buat maen basket ma Pedro cengar cengir sendiri melihat Pipi.

"Eh Pi, ga salah nih elu pakek kaos partai gitu?" tanya Kevin sambil mendribel bola basket. Pipi melotot. Enak saja salah ... masih waras tauk!
"Salah? Emang harus salah dulu baru boleh pakek kaos partai? Bang Kevin tuh yang enak saja ngomong ga jaga perasaan orang!" cerocos Pipi ga mau kalah. Kevin tambah lebar nyengir.
"Weiii kok marah sih adik sayang? Ya deh, silahkan berpesta kampanye!!" celetuk Kevin sembari nyelonong ke kamar Pedro. Pesta kampanye? Pipi pakek kaos ini bukan untuk ikut-ikutan pesta kampanye tauk! Pipi melempar gobernya ke sofa trus ngekori Kevin. Pedro pas kluar kamar begitu Kevin muncul. Tapi pandangan Pedro ga ke Kevin, melainkan ke balik punggung Kevin.
"What?!! Oi, gue nih Kevin, elu liat apa sih Ped? Kayak orang liat hantu partai aja lu wahahah ... latihan yuk!" ajak Kevin. Pedro langsung tertawa terbahak-bahak.

Di balik punggung Kevin, wajah Pipi dah kayak kepiting rebus. Marah banget dia mendengar omongan Kevin barusan. Kevin seperti tersadar dari mimpi indah dan memulai mimpi buruk begitu berbalik dan melihat Pipi berdiri sambil menatap tajam ke arahnya dan Pedro.
"Aduh Pipi .. maap, ga bermaksut kok, kan tadi gue ga liat elu hikhikhik." Kevin ga tahan juga akhirnya ikut ngakak. Pipi mendengus kesal dan berbalik pergi dari hadapan keduanya yang masih terus tertawa. Pipi kembali ke ruang tamu, meraih gober dan mulai membaca komik kesayangannya itu. Masih didengarnya tawa Pedro dan Kevin membahana dari halaman belakang disela bunyi bola basket yang di drible.

Pipi sebenarnya ga ngerti soal partai apalagi kampanye dan lain sebagainya yang masih ada hubungannya sama Pemilu. Ga memihak salah satu partai pun soalnya dia belum cukup umur untuk ngerti dan belum punya hak buat memilih. Hanya karena kebetulan saja tadi dia dapat kaos gratis. Kaos merah itu pun sebenarnya tipis banget, tapi lumayan lah dipakek untuk bersantai di rumah. Huh, dasar ga tau malu, jenggot merlin, sampah!! Enak saja mereka mentertawakan Pipi. Si tomboy sudah ga konsentrasi lagi baca Gober, dia trus mutusin jalan-jalan sore aja, keliling kompleks. Kalau kakinya kuat, mending sekalian ke rumah Rara. Siapa tau disana hatinya bisa lebih adem.

Di teras, mami lagi asik berkutat dengan pot-pot bunga sambil mendendangkan lagu telenovela, tontonan wajib mami. Begitu melihat Pipi, semprotan selang malah jadi ga beraturan dan kaos Pipi pun ikut keciprat.
"Mami gimana sih, nyiram bunga kok sampai kemana-mana." mami terlihat menahan senyum dikulum dan mulai tertawa pelan. Pipi sadar, mami pasti berpendapat sama seperti Kevin dan Pedro. Anak kecil kok ikut-ikutan pro salah satu partai.
"Ga pa pa sih Pi .. cuman itu kaosmu dapat dari mana? Sejak kapan keluarga kita jadi fanatik berat sama salah satu parpol yah Pi? Tunggu saja sampai papi tau heheheh." Pipi dapat membayangkan mami bakal bergosip di depan papi dan Pipi bakal jadi omongan mereka sepanjang malam. Huahh!!!!
"Miiiiiiiii Pipi kan cuman menikmati memakai kaos baruuu!!" jerit Pipi trus lari keluar rumah meninggalkan mami yang masih terus cekikikan sendiri.

Akhirnya Pipi keliling kompleks perumahan. Kedua tangan di saku jeans belelnya dengan mata melihat kanan kiri. Orang-orang melihatnya dengan pandangan aneh. Hikz, dimana-mana gue ditertawain. Wahahahah penulis pun ikutan tertawa *cetakz!!* pala penulis jadi sasaran karet gelang Pipi. Huhuhu kan penulis ikut berpartisipasi, nyumbang tawa. Pipi cuek, terserah orang mau bilang apa, yang jelas Pipi ga punya niat apa-apa pakek kaos salah satu partai. Pipi hanya senang saja, dapat kaos gratisan.

Langkah Pipi tanpa sadar membawanya ke rumah Rara. Pelan Pipi melirik ke teras rumah sohibnya itu, anggota geng REWO. Pipi masuk.
"Assalamu'alaikum!" tereak Pipi dari luar. Terdengar suara menjawab dari dalam. Oh la la, papa si Rara!! Pipi terkejut jut jut sekali. Bukan karena papa Rara orangnya aneh, bukannn. Tapi karena papa Rara saat itu lagi pakek kaos salah satu partai, partai yang berbeda dengan yang dipakek Pipi.
"Oh Pipi, ayo masuk. Rara lagi di dapur, bantuin mama nya bikinin kue." Pipi mengangguk lemas dan ragu-ragu masuk terus ke dapur. Rara yang tengah membantu mama nya jelas kaget melihat kedatangan Pipi yang agak tiba-tiba.

"Hei Pi!! Hihihi." tuh kan .. Rara saja mentertawakannya.
"Hebattt ... jadi Pipi ikut partai itu yah?" mama Rara berkomentar. Pipi menggeleng lesu.
"Tuh Ra, seperti Pipi dong, punya atensi, punya minat buat bergelut di dunia politik. Lah kamu mana mau begitu?" suara papa Rara mengusik mereka di dapur. Rara tertawa pelan. Buset, tertawa saja cewek ini masih pakek etika.
"Pi, kamu itu anak muda yang punya kreatifitas dalam memilih. Tapi om sarankan, sebaiknya pakek kaos partai ini saja, om masih punya banyak stok di dalam. Sebentar om ambilkan." dan Pipi pun serasa mau muntah mendengarnya. Rara dan mamanya tertawa lebih keras.
"Pi, papa itu fanatik berat sama partai 'itu' elu sih, dateng pakek kaos partai, cari gara-gara aja sama papa. Siap-siap dikuliahin deh." wajah Pipi berubah pucat. Ini bukan hal yang ingin dicarinya. Dia pengen ketenangan, dimana orang ga menilai dirinya berpihak pada salah satu partai hanya dengan memakai kaos partai tersebut!

Sebelum papa si Rara keluar dengan kaos dan pernak pernik partainya, Pipi cepat-cepat pamit sama Rara dan mama nya. Mending jalan-jalan lagi, dari pada harus mendengar celoteh papa Rara yang notabene mengharapkan Pipi sebagai pendengar setia dan di larang protes! Gila aja kalau harus begitu. Mama Rara sempet nahan.
"Ga nunggu kuenya jadi Pi? Rugi loh." Pipi menggeleng lesu. Rara memukul lembut lengannya.
"Ya udah kalau mau pulang. Ganti baju gih, biar ga ada yang reseh hehehe." ujar Rara sesaat sebelum Pipi benar-benar meninggalkan dapur dan sepasang ibu dan anak yang lagi asik bikin kue.

Di luar Pipi ga menoleh lagi ke rumah Rara. Cewek tomboy itu menghentakkan kunciran rambutnya dan berjalan lagi. Ditariknya nafas dalam-dalam. Komar!! Yess Pipi perlu ke rumah Komar!! Komar sahabatnya, Komar yang sering dibantu geng REWO selama ini, baik finansial maupun moril. Pipi bergegas menyeret langkah kaki nya ke rumah sederhana Komar yang terletak di gang sempit dan berbau. Itu dia. Komar kaget melihat Pipi. Pasalnya Komar juga lagi pakek kaos yang sama dengan yang dipakek Pipi.

"Hei Pi!! Wah, sama dong kita hehehe." Pipi cemberut trus duduk di bale-bale depan rumah Komar. Komar menyelesaikan pekerjaannya menyapu halaman trus duduk temenin Pipi.
"Air Pi?" tawar Komar. Pipi mengangguk. Komar masuk ke rumahnya, kemudian keluar dengan segelas air putih dingin. Pipi langsung menegak habis air putih tadi dan bernafas lega.
"Eh Mar, gue kesini buat nenangin pikiran, jangan ditambah dengan omongan soal partai yah!" ancam Pipi, Komar tertawa pendek.
"Siapa yang mau ngomongin partai? Gue ga ngerti soal partai-partai Pi, gue taunya gimana kerja jadi loper koran biar bisa dapat duit dan bantuin ibu." jawab Komar santai dengan pandangan mata menerawang. Pipi menoleh.
"Jadi?? Bagus deh kalau gitu!" sambar Pipi cepat.

"Gue ga ngerti Mar, kenapa orang-orang pada mengidentikan diri gue sama partai yang kaos nya lagi kita pakek sekarang ini. Eh, elu dapat dari mana kaos itu?" tanya Pipi.
"Tadi siang, pas pulang sekolah, ada yang bagi-bagi kaos. Lumayan lah Pi, buat dipakek di rumah, untung aja dapat kaos baru meskipun kaos partai. Buat makan saja susah, apalagi beli kaos baru?" ujar Komar lagi. Pipi tersenyum, senyum pertama untuk sore ini. Lega mendengar Komar bicara.
"Gue pakek kaos ini buat fun aja Pi." sama dong, batin Pipi gembira. Menjelang maghrib Pipi buru-buru pamit pada Komar.

Dengan pasti cewek itu melangkah pulang, meninggalkan pemukiman kumuh tempat rumah Komar berdiri. Dicegatnya salah satu angkot dan langsung pulang ke rumah. Di rumah Pipi bergegas sholat maghrib trus belajar. Kaos partai dilepasnya, bye bye. Bukan apa-apa sih, Pipi merasa lebih baik ga usah pakek salah satu kaos partai, masih dibawah umur dan itu akan berdampak pandangan melecehkan dari orang-orang yang kebetulan ga pro sama partai yang bersangkutan. Usai belajar Pipi ke ruang keluarga, disana mami dan papi lagi nonton tipi. Bi Ijah ikutan nonton sedangkan Pedro terlihat serius sama novel Harry Potter Pipi yang dipinjamnya.

"Eh Pi, dah selesai ikutan kampanye?" tegur papi begitu menyadari kehadiran Pipi ditengah-tengah mereka. Mami nampak menaham senyum.
"Yee papi, siapa yang ikutan kampanye? Dah ah ganti topik! Bosen Pipi dari tadi diledek mulu .." rengeknya sembari duduk ditengah-tengah mami dan papi.
"Ya udah, bagus kalau kamu sadar! Mending nonton telenovela dari pada ikutan kampanye hehehe." gurau mami. Igh, mami sih apa yang paling bagus selain telenovela?
"Iya iya .." jawab Pipi ngalah. Malam itu sebelum tidur Pipi menghabiskan waktu bersama papi dan mami, juga Pedro dan bi Ijah, ngobrolin tentang apa saja kecuali kampanye. Terlalu banyak partai malah bikin bingung. Apalagi bi Ijah, pembokat gaul itu kebingungan mau nyoblos yang mana. Penulis sih santai aja man B-) *ga tanya!!!!!!! <--- serbu Pipi kesal:P* wahahahha.

Sunday, March 28, 2004

.:. HARRY POTTER!! .:.


Pipi lagi seneng banget, tapi itu kesenangan yang kurang bagus deh *penulis mulai berkomentar pedas :P* soalnya Pipi lagi terobsesi sama Harry Potter, HP, yang kemudian menjadikan sikap cewek tomboy ini rada aneh. Pipi dibeliin Piko HP yang judulnya Harry Potter dan Orde Phoenix. Bukan orde lama, orde baru atau orde reformasi loh. Jauh mah itu dari Harry Potter! Dua hari ini koleksi Gober bebek dibiarkan mematung di rak buku dengan pasrah, menatap penuh harap disentuh Pipi untuk kesekian kali. Namun Pipi tetap cuek, tiduran, telungkup, duduk, berdiri, sambil baca Harry Potter!!

Bujubuneng, itu novel kok tebel amat? Yang baca aja ribet, apalagi yang bikin yah? Pipi seneng bukan main saat Piko menghadiahinya novel tersebut. Hadiah kecil dari Piko di hari yang bukan hari istimewah, itu membuat hati Pipi bahagia, Piko .. i luv u, batin Pipi. Penulis geleng kepala melihat ulah Pipi ini. Seperti hari ini, Pipi lagi asik membaca HP, hatinya ikut berdegup, keringat membasahi keningnya saat Harry dan Dudley diserang Dementor yang tampangnya adalah tampang yang paling dibenci di seluruh dunia, kedua setelah Voldemort! Pipi membaca tanpa berkedip sekalipun. Hatinya ikut diombang ambingkan kata-kata yang terjalin di setiap lembar novel setebal 1200 halaman itu.

Tok tok tok!! Pintu kamar Pipi diketuk dari luar. Pipi cuek, ga denger atau pura-pura ga denger, ga jelas. Dia tetap bersila di karpet, membaca dan membaca. Sampai kemudian terdengar suara mami melengking dari luar pintu.
"Piiippppiiii!!!!" Pipi tersentak, cepat-cepat menyelipkan pembatas buku dan bergegas membuka pintu. Disana mami dengan tampang mengerikan melotot pada putri bungsunya itu.
"I .. iya mi ... telenovela tadi bagus yah mi?!" mami menggeleng. Pipi cengengesan. Jelas mami marah. Marah sekali sama Pipi. Apa sebab?
"Pipi manis .. " lembut suara mami "SORE INI LES MATEMATIKA!!!" mami menjerit .. keokk, ayam tetangga mati satu :p Pipi sontak kaget. Ya ampun, les matematika!!
"Les mi .. Pipi lupa .. Pipi siap-siap dulu mi." jawab Pipi sambil lalu, meraih handuk dan berlari ke kamar mandi. Mami mendengus kesal.

Pipi cepat-cepat mandi, ganti baju dan melesat ke luar rumah. Hari ini les matematika, mati gue, batin Pipi. Masalahnya, sore ini les-nya di sekolah, bukan di rumah guru. Udah gitu, ada anak-anak kelas lain yang ikutan. Goblok lu Pi, kata penulis *dug, kerikil segede hp menyebabkan pala penulis benjol :P* Pipi pun ke sekolah, naik ojek, takut telat. Dan benar, Pipi hampir saja telat satu menit sesaat sebelum les dimulai. Yeah, seperti yang penulis duga, Pipi ga konsentrasi ikut les. Pikirannya melayang kemana-mana. Phie dilihatnya seperti Ron, Gita seperti Dudley dan Rara seperti Hermione. Yup, Pipi senyum-senyum sendiri. Pikiran gadis ceking itu sama sekali tidak di tempat.

Seandainya SMP Angkasa ini adalah Hogwarts. Dikepalai oleh Dumbledore, dengan profesor Snipe sebagai guru matematika dengan semua aturan-aturan sekolah sihir. Yup, Pipi pasti akan mempunya satu tongkat sihir dengan inti bulu phoenix di dalamnya, menggairahkan sekali itu! Pipi pasti punya sapu terbang, ga usah sebagus milik Harry, cukup sapu yang biasa dipakai madam mikmak, mimi hitam atau hortensia, Pipi senyum sendiri dalam lamunannya.
"Well, Pipi, kerjakan soal tadi di papan!" Pipi kaget, dunianya kembali, tak ada sihir tak ada keajaiban ... Sore itu Pipi ingin cepat-cepat kembali ke rumah, kembali masuk ke dunia sihir yang menakjubkan, seandainya dirinya bisa ber-apperate seperti George atau Sirius Black. Huah. Pipi ingin cepat tiba di kamarnya yang mungil .... Penulis geleng-geleng jempol.

Tiba di rumah, usai sholat Maghrib, Pipi kembali berkutat dengan dunia sihir. Sampai-sampai papi perlu mengecek apa putrinya itu masih hidup. Tega deh papi! Ga salah juga sih, lha wong Pipi itu seperti putri malu yang memingit diri sendiri di kamar! Pedro ikut-ikutan gelisah. Kakak Pipi ini masuk kamar Pipi.
"Dhuarrr!!" Pipi diam, ga kaget. Justru itu lebih mengagetkan Pedro. Ga biasanya Pipi cuek sama ulahnya.
"Eh Pi .. tadi abang ma Juleha jalan-jalan sore loh, di pinggir pantai, wuih romantis bo. Sekali-kali ajak Piko jalan-jalan dong Pi." Pipi diam, membalik halaman berikutnya dari novel tebal itu.
"Pi .. hp mu mati yah? Tadi Piko tanyain ke abang ..." Pipi diam lagi, ga peduli, seolah-olah Pedro ga hadir disana merecoki konsentrasinya. Pedro ga habis akal.
"Eh Pi, di toko nirmala ada poster Harry Potter gede loh!" deg, Pipi langsung menatap abangnya dengan sinar mata yang cerah.
"Bener bang?! Berapa harganya? Aduhhh mana duit Pipi dah tipis lagi. Mami ngijinin Pipi minta tambahan duit ga yah bang?" serang Pipi berapi-api ke Pedro, sampai Pedro kebakaran :P
"Ga boleh. Mami ga ngijinin!" suara mami menggelegar dari pintu kamar yang terkuak, Pipi dan Pedro serentak menoleh.

Mami masuk kamar, diikuti papi. Pipi menutup novel dan duduk disamping Pedro. Takut juga sih, mami kalau marah bahaya, ayam tetangga bisa-bisa mati lagi tuh!
"Untuk apa?" tanya mami lagi.
"Koleksi mi .. biasa .. abg tuh!" sambar Pedro cepat. Pipi mencubit lengan abangnya gemas.
"Pedro, kalau ga disuruh ngomong ga usah ngomong!!" bentak mami sengit. Pedro pucat, menatap penuh harap ke arah papi. Tapi papi membuang muka sejauh-jauhnya ampe lupa kembali hihihihi. Pipi puas melihat tampang Pedro.
"Untuk apa beli poster segala? Itu namanya mengeluarkan duit tanpa rencana, bisa menghancurkan perekonomian keluarga tau!" ye mami ... ada-ada saja alasannya.
"Iya Pi .. untuk apa? Papi lihat, Pipi sudah mulai terobsesi sama Harry Potter. Ngefans sih boleh Pi, tapi jangan sampai fanatik gitu, ga baik buat kesehatan." tambah papi, kali ini memang ada benarnya.
"Kalau sakit, bawalah anak-anak ke dokter pi... eh .. kok mami jadi nyaut ke papi sih?" ujar mami lagi hihihii. Pedro ma papi cekikikan.

Pipi masih duduk, ikutan nyengir denger celoteh kedua orangtuanya yang kadang memang mengundang tawa. Saling sahut, tapi ga nyambung gitu.
"Pi .. novel itu punya siapa?" tanya papi bijak. Cukup bijak untuk ukuran papi.
"Punya Pipi .. dikasih ma Piko." jawab pipi singkat.
"Piko yang anak gembel itu? Eh salah.. yang kita ketemu di dermaga pas mancing itu?" tanya papi lagi, Pipi mengangguk mantap.
"Oh.. yang dah jadi pacar Pipi itu?" Pipi cemberut. Idih papi, dah tau masih nanya, basi ah!
"Jadi itu novel punya Pipi kan? Kapan saja bisa Pipi baca ... seperti koleksi Gober-gober itu." kata papi sambil nunjuk ke arah rak buku. Pipi mangut lagi.
"Nahhhhh .. artinya, Pipi ga perlu menghabiskan setiap jam untuk novel itu, masih banyak waktu untuk sebuah novel, waktu senggang itu lah saat yang tepat untuk membaca. Bukan di waktu belajar, makan bahkan di waktu kumpul sama keluarga." kata papi lagi .. bijak memang.
"Iyah pi, kalau tiba-tiba papi atau mami mati, gimana dong! Pipi ga punya saat-saat terakhir, moment terakhir yang membahagiakan bersama papi atau mami .." Pipi terperangah, sejauh itu kah pikiran orangtuanya?

"Betul itu pi, sedangkan sebuah novel bisa menunggu, sedangkan makan malam ga bisa menunggu, les matematika ga bisa menunggu, mandi ga bisa menunggu dan belajar untuk ulangan besok pun ga bisa menunggu..." mami kali ini lebih pelan volume suaranya. Ayam tetangga masih aman bobo :p~~
"Yup!! Apalagi sampai terobsesi, apa-apa dikaitkan dengan Harry Potter. Masa pagi tadi Pipi bilang begini pi, eh bang Ped, kalau Pipi punya sapu terbang, kita jalan-jalan ke jogja ga usah naik kapal! Trus ngoceh ga hentinya soal Ridicculus, Acio bla bla igh, mo sihir abang jadi katak yak? Ga usah Pi, abang dah mirip!!" tambah Pedro.
"Emberrr." sahut Pipi, mami dan papi bareng. Pedro nyengir kuda.


Tapi Pipi diam, Pedro, papi dan mami memang benar seratus persen. Dirinya telah terbawa arus Harry Potter terlalu jauh. Pipi tengadah .. semua menatap sayang ke arahnya. Pipi tersenyum, bahagia sekali mendapat perhatian dan kasih sayang yang begitu besar dari keluarganya. Betul kata sinetron, harta yang paling berharga adalah keluarga. Saat terpahit dan terpuruk pun dalam hidup kita, hanya keluarga lah yang akan menemani, memberi dukungan buat kita. Orang lain mungkin ikut membantu, tapi keluarga adalah yang paling dekat dengan kita.

"Iya deh, Pipi akui salah dalam hal ini hehehe. Maafin Pipi yah mi, pi dan bang Ped. Pipi jadi rada aneh akhir-akhir ini, terobsesi pengen jadi Harry Potter, pengen bisa sihir dan melakukan keajaiban yang jelas ga mungkin terjadi." kata-kata itu menjawab semuanya.
"Kalau gitu, kita makan malam sama-sama yuk! Perut papi dah keroncongan nih, membayangkan masakan mami...." sambar papi cepat sembari memegangi perutnya. Semua tertawa. Bi Ijah muncul di saat-saat terakhir.
"Non Pipi, telpon dari Piko .." Pipi melonjak, segera berlari keluar kamar, meraih gagang telepon.
"Halooo hei Piko!!" jerit Pipi pelan.
"Pipi sayang .. kemana ajah? Kenapa hp nya nonaktif? Kangen nih .. jangan-jangan Pipi lebih mencintai Harry Potter dari gue nih .." ujar Piko dari seberang. Pipi tertawa.
"Nyaris Ko .. untung ga jadi hihihihi. Besok siang ketemu yah .. " jawab Pipi. Setelah basa basi sebentar Pipi menutup pembicaraan.

Di meja makan anggota keluarga yang lain telah menanti Pipi. Oh la la, betapa senangnya merasakan diri kita lah yang ditunggu saat makan malam. Merasakan betapa mereka semua mengkhawatirkan Pipi dan Harry Potter. Pipi cengar cengir duduk di samping Pedro.
"Oke anak-anak ayo makan .. jangan lupa untuk mencicipi kue yang tadi mami bikin yah, namanya kue darah lumpur ..." Pipi menoleh ke mami. Mami senyum jahil sambil mengedipkan sebelah mata.
"Becanda Pi .. kue lumpur maksutnya hahahhaha. Tapi bersyukurlah, kita adalah mugle yang ga dikejar-kejar voldemort!" Pipi lemes seketika. Ini yang terobsesi sama Harry Potter, Pipi atau mami? Hihihihi, Pipi cekikikan sendiri, si mami ada-ada saja ah!!
Keluarga sederhana yang kocak itu pun melewati saat makan malam dengan canda dan gurauan yang ga ada habisnya hingga saatnya naik tempat tidur. Pipi terlelap dalam mimpi indah tentang naik sapu terbang bersama hortensia!! Loh, itu kan bukan anggota Harry Potter yak? Hihihihi .. penulis terkekeh sendiri.

Tuesday, March 16, 2004

.:. BETE? JANGAN AH, RUGI!! .:.


Pipi, si manis yang tomboy dan ceking kita ini lagi bete. Lagi-lagi bete? Yah namanya juga orang hidup, ada saja kan betenya disela senangnya. Tul ga Pi? Penulis mencoba membangkitkan semangat Pipi eh malah dibalas Pipi sama pelototan sengit. Aw aw, Penulis ngalah dey, ga goda Pipi dulu hehehe. Kenapa Pipi sampai bete? Yup, back to bete nya Pipi. Pipi sampai bete itu gara-gara si Piko. What? Piko cowok baru Pipi itu kan? Kenapa sih? Pipi melotot lagi sama Penulis, kali ini Penulis menghindar jauh-jauh deh, dari pada kena digetok Pipi pakek sepatu butut papi :p. Eh eh, emang bete itu apa sih Pi? Waks, sepatu butut papi betul-betul mendarat dengan mulus di kepala penulis .. aw.

Okay, Pipi bete gara-gara Piko berdusta. Dusta yang ga bisa diterima batin Pipi yang masih labil. Piko, cowok smu Angkasa yang tlah resmi jadian sama Pipi itu, kemarin telah berdusta! Mbulet ah kata-katanya. Well, garis besarnya adalah Piko berdusta sama Pipi bilang mau les komputer, jadi kemaren sore ga bisa nganterin Pipi ke rumah Gita minjam buku. So Pipi pergi sendiri ke rumah Gita. Pulang dari rumah Gita, Pipi singgah dulu ke perpustakaan kota. Disitulah awal ke-bete-an Pipi dimulai. Di perpustakaan yang sepi itu, Pipi mendengar suara yang amat dikenalnya dari balik rak buku. Suara itu adalah suara Piko! Treng treng, Pipi ngintip. Piko disitu lagi duduk berhadapan sama cewek manis berambut kriting, ga seganas Phia sih kritingnya tapi tampang cewek itu bikin Pipi mual. Sok mesra gitu ke Piko. Memang sih yang mereka bicarakan, dari yang sempat dikuping Pipi, bukan soal asmara dan lain sebagainya yang menyangkut cinta. Tapi tetap saja Pipi bete, Piko telah berdusta padanya. Bukannya Piko seharusnya berada di Servas College buat les komputer? Pipi memilih pulang dengan segera tanpa meminjam buku apa pun.

Pagi tadi di sekolah Pipi uring-uringan sendiri. Geng REWO berusaha mendekatinya, tapi Pipi lagi galak, segalak macan kelaparan. So, si Gita, Phia dan Rara memilih mendiamkan saja. Toh Pipi dah sering begini, hasil akhirnya Pipi bakal menyelesaikan masalahnya sendiri. Paling dua tiga hari lagi Pipi pasti ceria kembali, ketawa ketiwi kembali bareng mereka. Hp sejak pagi tadi dimatiin Pipi. Dia ga mau meng-sms Piko apalagi menerima sms dari cowoknya itu. Seganteng apa pun Piko, Pipi tetap sebal sama dustanya. Pulang sekolah Pipi ga barengan sama geng REWO, dia memilih pulang dengan segera naik ojek. Hal itu dilakukannya untuk menghindari Piko yang suka nungguin dia di halte depan gerbang sekolah mereka yang tetanggaan. Smu dan Smp Angkasa memang berada dalam satu kavling karena dua sekolah itu berada dalam satu Yayasan, Yayasan Angkasa.

Pulang sekolah Pipi hampir saja mogok makan kalau ga melihat ikan bumbu asam manis di meja makan, yeee itu mah sama aja Pi. Mami asik nonton telenopelah, biasa, kalau mami di rumah, pasti nongkrong di depan tipi, kadang ditemani bi Ijah yang suka ikutan nangis bareng mami. Sedangkan Pedro dan papi belum pulang. Setelah cuci tangan dan ganti baju, Pipi cepat-cepat makan siang. Bete-nya sempat ngilang bentar begitu rasa asam manis ikan masuk ke mulutnya. Eh, habis makan, Pipi kembali ber-bete ria. Huh, Piko, kenapa kau dustai diriku? Batin Pipi sok puitis hehehe.

Pipi masuk kamar, tidur-tiduran di karpet sambil denger celoteh ayam tetangga yang ribut minta ampun. Kelaparan kali yah? Pipi ngitung jari-jarinya, masih sepuluh di tangan. Masih sepuluh juga di kaki. Pipi meraih hp, idupin ga yah .. gadis tomboy itu bimbang. Gimana kalau ada sms dari Piko? Bagaimana kalau Piko nelpon? Igh, Pipi blum siap berhadapan sama Piko, takut marahnya masih membara, takut si Piko dilempari sama aquarium Pedro. Pipi mendesah kesal. Piko kok tega yah berbohong? Pipi beteeeee banget. Sampai-sampai ga rela noleh sedikit pun sama penulis. Yah Pipi, kita kan pengen godain situ hikhikhik .. Awww, kamus gede Pipi mendarat mulus lagi di jidad penulis .. hihihihi.

Lama bete-betean di kamar, Pipi akhirnya mandi sore. Jam sudah menunjukan pukul empat sore, waktunya mandi. Sore ini Pipi ga ikut les matematika, gurunya sakit. So, habis mandi, Pipi yang sudah harum semerbak cari-cari Pedro di kamar. Kakak cowok satu-satunya itu lagi nulis. Nulis surat cinta. Surat cinta lagi? Buat siapa? Juleha kan dah resmi jadi pacar Pedro?
"Bang Pedrooooooooo!!!!" jerit Pipi dari muka pintu. Pedro kaget, hampir saja Pedro ayan-an gara-gara Pipi.
"Dodollllllllll .. jangan ngagetin gitu dong Pi. Jantungan nih. Tuh kan, konsentrasi nulis surat jadi kacau!" balas Pedro ga kalah kenceng. Pipi cekikikan, dia paling senang godain Pedro. Paling ga, itu mengobati sedikit bete nya 2 hari ini.
"Nulis surat buat siapa lagi? Abang jatuh cinta lagi? Juleha mau dikemanain bang?" tanya Pipi antusias sambil melirik-lirik kertas yang ditutupi Pedro.
"Hush, anak kecil! Ini kan urusan cowok!" jawab Pedro.
"Yeee .. biyar kecil, tapi ide-ide Pipi juga lah yang bikin abang ma Juleha jadian tauk! Huh." Pipi sengit. Pedro ngakak. Senang juga bisa membalas kejahilan adiknya.
"Ini surat buat Juleha juga, abang kan kadang grogi buat ngomong di depan dia, jadi banyak hal yang harus disampaikan lewat surat ..." Pedro malu-malu kucing. Pipi tersenyum jahil.
"Ya ampun, baru juga Juleha dah grogi bang, apalagi kalau Cindy Crawford yah? Dah ah .. abang silahkan melanjutkan acara nulis suratnya. Pipi mau baca Gober bebek dulu." Pipi keluar dari kamar Pedro. Di teras papi lagi asik baca koran. Koran bekas kemarin, biasa papi .. mana mau beli koran baru? Pedit!! Malas ngobrol bareng papi, Pipi kembali ke kamar, ngambil Gober dan mulai membaca tingkah Gober yang pedit kayak papi dan selalu diincar gerombolan si berat. Lagi asik membaca, bi Ijah teriakin Pipi dari pintu kamar.

"Non Pipiiiiiii dipanggil papiiii yuhuuuu." ya ampun bi Ijah. Pipi melempar Gober dengan gemas dan segera terbang ke teras. Tapi, oh la la, di teras papi malah lagi ngobrol sama Piko! Huah, mau menerkam Piko, ga etis lah, ada papi hihih. Pipi hanya berdiri mematung.
"Eh Pi .. papi ke dalam dulu ya." papi langsung masuk ke dalam, tinggal Pipi berdua Piko di teras. Pipi duduk. Diam. Ga mau ngomong. Bete. Tampang Piko malah aneh liat Pipi kayak gitu. Igh, ga ngerasa apa, batin Pipi.

"Pi .. kenapa?" tanya Piko santai. Suara Piko, suara yang selalu dirindui cewek tomboy ini, lebih berkharisma dari Rahul, mantannya itu. Ehits, dosa ngomongin mantan yak? Heheheehe.
"Bete!" jawab Pipi ketus seketus-ketusnya. Piko kaget sekaget-kagetnya.
"Bete kenapa? Hp nya mati terus dari pagi ya say .." Piko berusaha mencari tau apa yang terjadi.
"Ya bete! Piko itu pendusta bagi Pipi!!" Pipi masih ketus. Piko kaget lagi. Pendusta? Cowok itu mencoba mencari tau apa yang terjadi sampai dirinya dibilang pendusta sama cewek yang dicintainya ini, cewek abg yang tomboy ini.
"Pendusta? Emang Piko dusta soal apa sih?" tanya Piko ga ngerti.
"Kemarin itu, Piko bohing kan?!" sambar Pipi cepat.
"Bohing? Hebring? Bohong maksutnya?" Piko tambah ga ngerti.
"Iya, bohong maksutnya, keseleo lidah neh .." Pipi mulai melunak nada bicaranya, ga seketus tadi. Gut :P
"Bohong soal apa sih sayang .. gue ga pernah mau bohong, dusta, tipu sama Pipi." jawab Piko, dia pindah duduk di samping Pipi. Uhmm aroma Piko bikin Pipi terlena .. tsah.
"Kemarin Piko katanya les komputer. Kok malah ada di perpustakaan? Pipi kemarin ke rumah Gita sendirian, trus mampir ke perpus dan disana liat Piko sama cewek kriting itu!" Piko tersenyum .. lalu tertawa ngakak. Igh, ga tau apa kalau orang lagi bete? Malah diketawain. Pipi mencari-cari barang yang bisa dipakek buat lempar .. kursi, meja, pot bunga mami .. ah .. ga ada.

"Pi, kemarin itu gue memang ke tempat les. Trus sama guru les disuruh ke perpustakaan buat cari data. Ya sudah, les hanya setengah jam, sisanya gue sama Rully ke perpus Pi, cari data di sana. Data soal webdesign gitu. Emang sih di tempat les gue belajar microsoft dan sebagainya, tapi buat selingan, kita disuruh cari-cari tau soal webdesign gitu hehehe. Aduh Pi, makanya tanya dulu dong baru bete." jelas Piko panjang lebar tinggi semampai.
"Trus .." suara Pipi kian lemah, tanda-tanda epilepsi hikhikhik.
"Ya sudah .. gitu aja, trus pulang! Malam gue sibuk ngerjain pe er Pi, jadi ga sempat sms atau epon. Tapi pagi tadi abis subuh gue coba hubungi Pipi, hp mati. Sampai sore ini." Pipi terpekur ditempatnya. Bete tanpa sebab yah jadinya .. Pipi melirik Piko. Cowok itu mengacak-ngacak rambut Pipi. Wekz, kuncirannya jadi berantakan.
"Masih bete?" tanya Piko lembut. Pipi tersentuh. Piko baik, cowok baik dan pengertian. Piko ga marah dibentak-bentak. Penulis juga ga marah di lempari sama sepatu butut papi gegege.

"Ga bete lagi Ko. Maap yah. Gue sudah salah bete-bete gini." Pipi tersenyum malu-malu macan. Tapi tetep manis kok Pi .. penulis takut kena gaplok lagi.
"Ya udah, kalau gitu sore ini keluar yuk." ajak Piko lagi. Pipi mengangguk setuju. Cewek ceking itu melesat ke kamar ganti baju trus pamit sama mami dan papi. Mami malah sempat nitip.
"Pi, bilang ke calon mantu, beliin martabak holland yah .. teman nonton telenopelah gitu." Pipi cengar cengir. Idih mami, mulai deh kumat. Pipi menghampiri Piko di teras trus keduanya pergi deh berdua. Jalan-jalan di kota Ende yang mungil, nongkrong, ngebakso dan becanda.

Trus? Ceritanya sampai disini dulu yah, penulis capek nih hehehe. Intinya adalah, jangan suka curiga dulu sama hal yang belum pasti. Lebih baik ditanyai, diclearkan segera, biar ga ketombean :P Biar semua masalah cepat selesai dan ga bete kayak Pipi. Mending betenya itu ternyata beralasan tepat, kalau tidak? Yah .. rugi dong bete tapi ternyata ga beralasan gitu. Rugi dong. Untung si Piko cowok baik yang ramah tamah resepsi pernikahan, kalau tidak? Bisa-bisa Piko balas marah dan bete sama Pipi. Jadinya malah saling bete kan? Penulis pamit yakkk ... nyooookkkkkk.

tuteh, 17 Maret 2004

Saturday, March 06, 2004

.:. MAMI, MISS YOU!! .:.


Horee, Pipi nari-nari kecil diiringi dengan lantunan Angel-nya Shaggy. Cewek tomboy, ceking dan selalu ceria itu lagi hepi bukan alang kepalang. Bukan saja karena dirinya udah punya cowok baru yang namanya Piko, tapi karena mulai hari ini sampai 7 hari ke depan Pipi hanya tinggal serumah Pedro dan bi Ijah. Pagi tadi jam 8 pesawat Kaza membawa papi dan mami menuju Surabaya! Hore, Pipi lagi-lagi tertawa senang. Papi dan mami diundang sahabat papi menghadiri pernikahan anak satu-satunya. Om Trance, nama sahabat papi, adalah sahabat sejak smp. Om Trance hanya mempunyai satu putra dan berjanji akan mengundang papi dan mami ke Surabaya bila anaknya menikah, dengan catatan semua akomodasi dan sebagainya ditanggung om Trance. Yuhu, Pipi merasa seperti burung yang paling bebas di dunia.

"Oii ngapain Pi?!" Pedro muncul dari kamar. Matanya masih sipit, baru bangun tidur rupanya. Pipi tertawa lagi.
"Aduh bang Ped, Pipi tuh lagi merayakan kebebasan kita. Seminggu ini mami dan papi ga ada, boleh nonton mtv sepuasnya, boleh ga minum susu ke sekolah, pokoknya boleh ngapain deh! Satu lagi, Pipi dapat tambahan uang dari mami hehehhe .. senangnyaaa ..." Pedro bengong lihat tingkah adik satu-satunya itu.
"Loh, bukannya elu tuh paling manja sama mami?" ejek Pedro sambil nyengir.
"Woh, enak ajah! Bang Ped tuh yang paling manja hihihi. Dah ah, Pipi mo ke kamar dulu, mo belajar. Sore tadi Pipi ga ikutan les Matematika, aseikkkk." Pedro tambah bengong.
"Kenapa ga ikut les? Gue laporin mami ah.." ancam Pedro. Tapi Pipi dengan lagak cueknya masuk kamar tanpa menjawab.

Di kamar Pipi belajar dengan malas-malasan. Matanya sesekali melirik vcd Friends yang kemaren dipinjamnya dari Rara. Wah, belajar atau nonton? Walhasil Pipi memilih nonton. Ga tanggung-tanggung, malam itu dia nonton sampai jam dua belas malam! Tiga seri diselesaikan. Saat matanya betul-betul tinggal lima watt, gadis tomboy itu naik tidur, tanpa cuci muka dan kaki lagi. Beuh Pipi...

Gedoran di pintu kamar mengagetkan Pipi. Sudah keras, berkali-kali lagi. Pipi ngulet-ngulet badannya, masih ngantuk. Siapa sih? Masih belum pulih kesadarannya Pipi mendengar suara bi Ijah.
"Non Pipi!! Masuk sekolah ga? Ini sudah hampir jam tujuh loh!" Pipi ngulet-ngulet lagi kayak cacing. Bi Ijah, ga tau apa orang masih ngantuk? Tidur baru sebentar rasanya, kok sudah dibangunin? Pipi hendak tidur lagi. Ga lama suara Pedro tereak-tereak.
"Pipi!!! Elu ga sekolah! Cepet kalau mau ke sekolah! Motornya mau gue pake, milih mana, gue antar atau elu naik angkot?" Pipi kaget. Hah? Liat jam di dinding, jam tujuh kurang sepuluh menit! Wataww!! Dengan langkah seribu Pipi membuka kunci pintu kamar, melesat ke kamar mandi, nabrak bi Ijah dan Pedro. Pedro dan bi Ijah hanya bisa geleng-geleng kepala.

Di kamar mandi, Pipi langsung kecipak kecipuk, dingin .. brrr cewek tomboy itu mengigil kedinginan. Gosok gigi cepat-cepat dan melesat lagi ke kamar tanpa jeda. Di kamar Pipi tereak.
"Bi Ijah!!!!! Kaos kaki Pipi yang gambarnya gober bebek mana?!" bi Ijah segera ke meja seterika dan mengambil tumpukan kaos kaki disitu. Dibawanya ke kamar Pipi. Dan Pipi sukses siap ke sekolah dengan waktu kurang dari lima menit! Pedro nyengir liat Pipi.
"Napah cengar cengir?! Bi Ijah, ga usah sarapan yah .." bi Ijah menggeleng.
"Ga bisa gitu non. Ntar kalau papi dan mami pulang ngeliat non Pipi tambah kurus gimana, bibi kan bertanggung jawab atas non Pipi dan bang Pedro." Pipi mencibir.
"Iya Pi .. cepet sarapan! Tuh nasi gorengnya dah dingin." Pipi bergegas menyuapi nasi goreng ke mulutnya, kalap. Kalau ga kalap, bisa telat banget ntar. Untung Ende kota kecil yang kemana-mana ga terlalu makan waktu. Selesai makan bi Ijah nyodorin segelas susu hangat. Mau ga mau Pipi negak susunya setengah. Berangkatlah kakak beradik itu ke sekolah.

Di sekolah Pipi nyaris telat. Pak satpam smp Angkasa hampir saja menutup gerbang. Untung hari itu Pipi masih selamat. Masuk kelas, pelajaran pertama adalah Matematika. Dan begitu bu guru meminta ketua kelas mengumpulkan pe er, Pipi hampir pingsan di tempat! Ya ampun lupa mengerjakan pe er! Pipi celingak celinguk ke Rara, Phia dan Gita. Ke tiganya balas menatap Pipi. Pipi pasang tampang melas. Duh, gimana nih!
Setelah semua buku pe er matematika dikumpulkan, ibu guru menghitung jumlah buku.
"Siapa yang tidak masuk sekolah hari ini?" tanya bu guru.
"Hadir semua bu." jawab ketua kelas polos, sembari melirik Pipi yang menatap bu guru dengan tampang takut.
"Lalu?! Siapa yang tidak mengerjakan pe er?!" takut-takut Pipi unjuk jari. Bu guru menatap heran. Karena, memang ga biasa kalau Pipi ga ngerjain pe er. Cewek itu kan paling rajin dan juga pintar. Walhasil Pipi dikeluarkan dari kelas selama pelajaran matematika. Pipi mengeluh ... Duh, ini lah jadinya kalau semalam lebih memilih nonton friends, lupa kalau ada pe er matematika.

Jam istirahat berbunyi, Pipi keluar dari perpustakaan menuju kantin, ketemu geng REWO di koridor sekolah.
"Hei Pi!!!" Gita meninju bahunya.
"Kenapa sih lu? Kok ga ngerjain pe er?" tanya Phie gencar. Rara kalem.
"Lupa. Tapi ga pa pa sih, gue seneng, soalnya di rumah gue bebas banget mau ngapain, mami dan papi kan ke Surabaya." jawab Pipi enteng. Mereka berjalan beriringan menuju kantin.
"Pokoknya seneng banget gue hehehe. Ga ada mami artinya ga ada telenopelah! Ga ada nanis-nanis bombay mami, ga ada tereakan mami yang super itu, ga ada celoteh mami yang bikin budeg, ga diomelin mami, pokoknya hepi!" cerita Pipi antusias dan berapi-api. Anak-anak geng REWO bengong.
"Emang elu ga kangen sama mami lu?" tanya Rara kemudian. Si pendiam ini ga tahan mendengar cerita Pipi.
"Kangen?? Ga lah .. baru jugak satu hari ditinggal, ngapain jugak kangen, wahahahah .. ada-ada ajah .. kangennnn hihihi. Mending kangen Piko." Pipi cengar cengir sembari memasukan potongan gethuk ke mulutnya.
"Whuuu mentang-mentang baru jadian, kangen terus!!!" ledek teman-temannya.

Apa bener Pipi ga kangen sama mami? Heh, ternyata lain di mulut lain di hati yah. Soalnya di hari kedua ini, sorenya Pipi lemes seperti orang habis maraton. Bi Ijah mendekati Pipi.
"Non, kenapa kok lesu gitu? Dari tadi bibi liat, diam terus, duduk lemes di sofa ini. Ga les non?" tanya bi Ijah prihatin. Pipi menggeleng.
"Ga bi... ga ada semangat." bi Ijah ikutan duduk.
"Bibi juga kangen mami non ..." Pipi terkejut. Bi Ijah kangen mami?
"Loh, yang kangen itu kan bi Ijah, bukan Pipi! Pipi ga kangen ah .. belum, baru juga dua hari .. eh tapi tadi ada telpon dari Surabaya ga bi?" tanya Pipi. Bi Ijah menggeleng. Pipi tambah lesu, pamit pada bi Ijah masuk kamar.

Betul-betul lain di bibir lain di hati. Di kamar Pipi menangis! Rebahan di ranjang dengan air mata berurai. Pipi kangen mami! Ga ada irama latino telenopelah, ga ada komentar mami soal telenopelah, ga ada teriakan mami, ga ada yang maksain dia minum susu, ga ada yang nyiapin baju plus kaos kaki di kaki ranjang pas dirinya mandi pagi, ga ada keceriaan di rumah itu! Pipi menangis lagi. Mami kok lama yah .. seminggu. Ampun!! Hati Pipi sesak banget. Dia amat sangat kangen sama mami. Kangen sama semua yang ada pada mami. Basi banget keceriaannya saat mami berangkat, sebenernya dirinya ga kuat pisah dari mami. Mami yang setia nyiramin bunga di beranda depan, mami yang selalu bereksperimen sama resep-resep baru, mami yang kadang aneh tingkahnya, tapi itu mami Pipi, dan saat Pipi gadis itu memendam rindu yang amat besar pada mami!!!

Kenapa mami harus seminggu di Surabaya yah? Mantenan itu kan hanya sehari. Apa mami dan papi sekalian jalan-jalan? Aduh, jalan-jalan sih ga pa pa, mami juga butuh hiburan selain di rumah melulu. Tapi seminggu? Masih lima hari lagi? Pipi menangis lagi. Diraihnya tas sekolah, mengecek pe er sambil menangis. Untunglah ga ada pe er dan ulangan. Pipi menyimpan buku-buku pelajaran sesuai roster lalu rebahan lagi. Gadis itu benar-benar kehilangan tenaga. Mami, miss you so much! Baru dua hari ditinggal dan Pipi sudah seperti anak ayam kehilangan induk bertahun-tahun!

"Non Pipi .. telepon ..." Pipi terkejut mendengar ketukan di pintu kamarnya.
"Iya bi, bentar." Pipi menghapus air matanya, keluar kamar dan melesat ke tempat telepon berada.
"Ya halo siapa? Ini Pipi." seru Pipi. Dan suara dari seberang membuat air mata Pipi yang tadi dah berhenti keluar lagi. Itu mami!
"Mami!!!!!!!!!!! Pulang dong .. huaa huaa huaa huaa .. Pipi kangen!" tereak Pipi ga peduli sama bi Ijah yang terkaget-kaget. Pokoknya dirinya mau mami segera pulang!
"Pipi sayang .. iya iya .. mami disini juga ga bisa ngapa-ngapain, ingat Pipi sama Pedro. Besok mami pulang Pi! Mantenannya udah pagi tadi dan mami ga mau lama-lama lagi di sini, panas Pi! Lagian mami kangen sama Pipi." Pipi loncat-loncat kegirangan! Hore, akhirnya mami pulang juga besok. Setelah basa basi bentar Pipi nutup telepon.
Pedro muncul dengan tampang kusut. Pedro ketiduran! Tidur siang sampai malam begini? Duh, kebiasaan Pipi nular ke Pedro deh.
"Napah lu Pi?! Tereak-tereak kayak orang gila!" bentak Pedro.
"Woh bang Ped, besok mami pulang! Tiba di sini jam tiga sore. Asikkk Pipi kangen mami!" Pedro terbeliak.
"Hah? Kangen mami? Katanya seneng bisa bebas ngapain aja di rumah soalnya mami ga ada ... ternyata, anak mami jugak yah." ejek Pedro. Pipi mencibir, tapi dengan senyum manis mengembang. Gadis itu senang bukan main. Mami pulang lah, anakmu ga sabar menanti dirimu, dan oleh-oleh tentu saja.

Pipi kembali masuk kamar. Nyanyi-nyanyi senang, ayam tetangga yang dah pada bobok terjaga dan ikut berkotek heheheh. Pipi menyadari satu hal, ini lah rasanya bila anak dipisahkan dari ibunya. Bagaimana nasib anak-anak yang orangtuanya bercerai? Mereka ga mungkin mau memilih salah satu dari orang tuanya kan? Mereka kalau boleh memilih, akan memilih bapak dan ibu, mami dan papi, nyak dan babe atau mama dan papa untuk hidup bersama mereka, bukan salah satu dari mereka. Pipi sadar, dia mencintai mami dan papi amat sangat, demikian pula dengan kedua orang tuanya itu. Meskipun cara mereka menyampaikan sayang dan cinta mereka itu rada berbeda, kadang pedit, kadang cerewet, tapi itu adalah bukti sayang mereka ke Pipi dan Pedro. Ah mami, miss you so much! I'm nothing without you ... Pipi memeluk guling erat-erat, tertidur dengan pulas, besok mami pulang .. Pipi bahagia.

tuteh, 6 Maret 2003

Thursday, February 26, 2004

.:. JATUH CINTA LAGI ... .:.


Pipi menatap pantulan dirinya di cermin. Inilah Pipi, abg kelas 3 smp Angkasa, bentar lagi tamat smp dan bakal ngelanjutin sekolah ke smu Angkasa yang beratap satu yayasan dengan smp Angkasa yaitu Yayasan Angkasa. Pipi senyum-senyum sendiri, ngedipin mata, ngakak, cemberut dan tingkah aneh lainnya. Persis orang belajar akting deh. Akting obat panu maksutnya *cetakz, Pipi karetin pala Penulis :P*. Pipi tertawa puas. Ini hari Libur, Tahun Baru Hijriah. Pipi paling suka suasana begini, karena mami bakal libur nonton telenopelah, sibuk di dapur, masak. Mami memang suka masak, cobain resep baru yang rasanya aneh bin jijay. Pipi menghentikan aksi gokilnya dan keluar kamar menuju dapur.

"Haloo mi, masak apa nih?" tanya Pipi sambil deket-deket mami, aroma masakan mami memang mengundang selera. Mengundang liur meleleh, jijay!! Ayam tetangga pernah pingsan gara-gara menghirup aroma masakan mami dan papi pernah pulang dari kantor sebelum waktunya, gara-gara kompor yang dipakai mami masak meledak! Wahahaha, itu sih ga ada hubungannya yah?
"Rendang." jawab mami singkat. Pipi merasa ga puas banget sama jawaban mami yang super singkat itu. Mami ga cobain resep baru rupanya.
"Just rendang? Eh, hanya rendang kah mi?" tanya Pipi ga percaya. Mami mengangguk. Yah mami, masa rendang doang? Apa ga ada temennya yang lain, kayak sandal terasi, sayur bakar atau krupuk daun jendela? Atau selai kepiting andalan mami.
"Iya non Pi, hanya rendang, itu saja." sambung bi Ijah. Pipi kecewa. Yah mami, kalau masak kadang ga suka diganggu sih. Kadang mami kalau masak ribut sendiri, cabe kehabisan di kulkas, brambang abis dipakai Pedro ngasih makan ikan, merica ludes dipakai papi jadi alas sepatu, biar ga reumatik katanya. Hehehe, ada-ada saja deh aw.

Ya sudah, Pipi keluar dapur, namun cewek ceking itu balik lagi.
"Mami, bang Ped ma papi kemana?" tanya Pipi lagi. Mami nampak mencicip rasa masakan dan disambut tampang kecut.
"Pi, beliin gorengko di warung dong, abis nih persediaan mami ..." Pipi mesem. Mami ditanya bukannya menjawab malah balas nyuruh-nyuruh. Huh.
"Miiii gorengko itu ga ada, yang ada itu masako." protes Pipi.
"Eh anak kecil protes aja kerjanya. Goreng itu kan bagian dari masak! Pokoknya beliin gorengko, rebusko, kukusko dan yang mirip-mirip itu deh. Pulang dari warung baru mami kasih tau kemana papi dan Pedro pergi. Gih sanah cepet, eh, pakek duit Pipi dulu yah sayang ..." whuuu Pipi cemberut. Mami slalu gitu igh, kalau dihitung-hitung dah hampir sejuta duit Pipi yang tiap hari nya seribu dua ribu buat beli bumbu yang kurang atau buat beli tisu pas mami nonton telenopelah. Eh, dosa yah, sama orang tua ga boleh itung-itungan. Pipi akhirnya ke warung juga. Cepet-cepet, biar mami juga cepet ngasih tau kemana papi dan Pedro pergi.

"Ini mi .. nah sekarang kemana papi dan bang Ped perginya mi?" tanya Pipi langsung, to the point. Mami masih cuek masukin masako *tut, ngiklan* ke penggorengan trus bolak balik jungkir balik tuh rendang. Sip, mami tersenyum puas gitu nyicipin lagi.
"Maammmmmiiiiiiiii ... huwaa huwaa" Pipi mulai merengek. Mami seolah tersadar kalau disitu ada Pipi. Kebiasaan deh si mami.
"Eh Pi .. dari tadi disini sayang?" huuaaaaaa Pipi semaput. Eh, ga jadi semaput. Ntar ga jadi ceritanya dong hehehe.
"Mami!!! Bang Ped sama papi kemana?!" tanya Pipi untuk kesekian kalinya ga sabaran banget lihat tingkah mami.
"Oh, papi dan anak itu ke dermaga pi. Mancing ... syukur-syukur dapat cumi, kalau ga cumi paus atau bintang laut lumayan deh." Pipi rasanya mau muntah. Kepala pening, tanda-tanda epilepsi.
"Ya deh mi, Pipi ke sono yah. Eh mi ke dermaga Ende atau Ippi sih?" tanya Pipi lagi. Mami nampak berpikir sebentar.
"Hmmm ya chek saja toh, kalau ga ada di dermaga Ippi ya di dermaga Ende. Kalau ga ada di kedua dermaga itu, barangkali ke dermaga ikan, mancing ikan di sono hehehehe. Eh Pi, pakek motor saja, jangan jalan kaki, kasihan ... kasihan mataharinya nyengat cewek jelek kayak Pipi hihihi" goda mami. Pipi tambah mesem. Mami lagi kumat! Maka dengan segera si tomboy melesat keluar. Diambilnya kunci kontak dan menstater motor dan whuzzzzzzz. Untung papi dan Pedro tadi naik angkot. Jadi motor satu-satunya bisa dipakainya.

Pipi langsung ke dermaga Ende. Setelah parkirin motor dibawah pohon beringin, Pipi berjalan mendekati dermaga. Banyak juga yang mancing di hari libur. Pipi mencari-cari dimana papi dan Pedro berada, nah tuh dia. Topi badut papi kelihatan, disamping papi Pedro dengan tekantuk-kantuk nemenin.
"Piiiiiiiiii!!!!!!!" teriak Pipi kenceng, lebih kenceng dari suara guntur deh. Eh bukannya papi yang noleh, Pipi malah disamperin cowok! Kalau cowok itu selevel Komar sih ga ngaruh. Nih cowok cakep abis, super tinggi, giginya putih karena sering kumur pakai pemutih baju hihihi.
"Yaaaa ... gueeeeee" jawab cowok itu langsung berdiri di depan Pipi. Pipi bengong, ileran, mata nanar siap menerkam :P Sumpah, Pipi dibikin ketar ketir ma cowok di depannya ini.
"Ngg maksutnya manggil papi gue kok, tuh di ujung sana, yang make topi badut merah ... disamping papi gue itu badutnya hehehe" beuh Pipi, Pedro disamain ma badut!
"Ooh, kirain manggil gue. Nama gue Piko ..." cowok itu tanpa basa basi mengulurkan tangannya. Pipi menyambut uluran tangan cowok itu. Ah, Pipi meleleh rasanya. Ini cowok punya sesuatu yang bikin Pipi jadi ga karuan. Pipi jadi persis campuran cap cay, campur aduk deh perasaannya.
"Hi Piko ...gue Pipi." mereka berjabat tangan erat. Langsung akrab dan Pipi ga jadi ke tempat papi, melainkan duduk di samping cowok itu.

Ngobrol ngalor ngidul ma Piko bikin si Pipi sejenak lupain si papi dan Pedro. Mereka ketawa ketiwi, cerita apa saja. Mulai dari soal sekolah sampai soal geng REWO nya Pipi.
"Eh? Jadi elu Pipi yang anak smp Angkasa itu yah? Aduh, gue kan sekolah di smu Angkasa Pi. Gue kelas satu di situ." kata Piko semangat. Pipi lebih semangat lagi. Bisa ketemuan terus dong. Gedung sekolah smp dan smu Angkasa kan berada di satu kavling gitu. Satu kompleks.
"Masa sih? Kok gue ga pernah liat elu yah?" Pipi, polos banget sih jadi orang. Ya jelas lah, Piko kan di smu-nya. Mana bisa liat-liatan.
"Hu`uh hehehe." mereka tertawa lagi. Ga terasa ngobrol sekian lama, ga ada ikan yang nyangkut di pancingan Piko dan mereka malah lebih asik ngobrol ketimbang mancingnya. Lagian Piko ngumpannya pake ulet yang ada kurapnya sih, mana mau si ikan nyangkut? Takut ketularan kurap! Hihihi.

Tiba-tiba ada yang menjawil bahu Pipi. Pipi menoleh. Papi dan Pedro yang tampangnya persis orang kalah perang berdiri di belakangnya. Pipi berdiri, Piko ikutan berdiri.
"Eh papi, dah selesai mancingnya? Mau pulang pi? Dapat apa?" tanya Pipi cuek. Piko cengengesan persis kuda lihat rumput.
"Siapa dia Pi?" tanya papi sok wibawa, beuh si papi. Sedangkan Piko tambah lebar cengengesannya, garuk-garuk pantat yang kegatelan.
"Temen Pipi ... Piko, ini papi dan itu bang Pedro." kata Pipi. Piko nyalamin papi dan Pedro bergantian, ga lupa kasih senyum yang paling spesial dengan gigi putih mengkilat *cling*
"Oh temen, kirain gelandangan, soalnya dari tadi cengar cengir ga karuan gitu. Hehehehe. Ayo pulang." duh papi tega deh ngata-ngatain anak orang. Pipi ngakak. Piko langsung merubah expresinya lebih serius.
"Papi duluan deh, Pipi kan bawa motor sendiri." jawab Pipi. Selain itu, Pipi masih ingin berduaan ma Piko. Wadah, Pipi ingin berduaan ma Piko!
"Ya sudah kalau gitu. Papi duluan sama abangmu naik angkot." papi narik tangan Pedro yang lemes. Pedro melambai lemah ke arah Pipi. Ga ada gairah hidup sama sekali tampang Pedro.

Pipi melambai jahil ke arah Pedro dan duduk kembali di dermaga temenin Piko mancing. Mereka lalu lanjut ngobrol lagi, cerita lagi, ketawa lagi. Buntut-buntutnya Pipi dan Piko tukeran nomor hp dan janji saling sms. Piko juga nanyain nomor telepon rumah Pipi. Katanya siapa tau tengah malam bisa godain Pipi hihihi. Hari itu Pipi seneng banget. Seneng ketemu Piko yang ternyata sekolahnya di smu Angkasa, seneng soalnya Piko itu cakep abis. Lagian Piko juga usianya ga beda jauh dari Pipi, ngomong apa-apa nyambung banget. Pipi suka. Pipi suka Piko. Woo hoo!! Pipi senyum-senyum centil.

Setelah perut Pipi terak-tereak persis konser Mr. Big, Pipi ngalah juga sama perut, dia pamit duluan sama Piko. Pulang. Lagian aroma masakan mami bikin Pipi ileran juga. Piko mengiyakan dan berjanji pasti menghubungi Pipi lagi. Cewek kita yang tomboy ini pulang dengan sejuta perasaan berbunga-bunga. Doh, mimpi apa yah semalam sampai bisa ketemu cowok cakep gitu. Dunia, sempitnya dirimu hehehe. Sambil bersenandung kecil Pipi masukin motor ke halaman samping dan masuk rumah. Di meja makan papi, Pedro, mami dan bi Ijah baru selesai makan.
"Eeeehhhh dah selesai yah acaranya." Pedro yang sudah pulih lemesnya mulai deh godain Pipi.
"Sudah .. beres ... sukses!!" Pipi cuek ngambil piring trus mengisinya dengan nasi dan lauk. Pipi duduk manis trus makan dengan lahap. Pikirannya ga disitu, melainkan melayang-layang ke Piko. Kapan yah bisa ketemuan lagi? Pipi ngayal deh sampai salah nyendokin nasi ke idung, hehehe.

Malamnya pas abis belajar hp Pipi berbunyi, sms. Ouw ouw, dari Piko! Pipi melonjak kegirangan. Hatinya berdebar-debar membaca isi sms. Oh, Piko mo nelpon. Cihuyyy Pipi melesat ke luar kamar, berdiri persis patung di dekat pesawat telepon. Pedro ga keliatan, belajar kali. Papi dan mami kayaknya sudah masuk kamar dan bi Ijah asik pelototin tivi dengan mata setengah terpejam. Semenit kemudian .. kringgggg ... segera diangkatnya handle telpon.
"Oh .. kumsalam .. hi Piko hehehe ada apa telpon malam-malam begini nih .." sapa Pipi dan berbasa basi bentar.
"Ya pengen nelpon aja. Gue kangen pengen denger suara Pipi lagi hehehe." jawab Piko santai dari seberang. Pipi hatinya langsung dagdigdug.
"Oh yah? Emang suara Pipi gimana .. bagus yah .." beuh Pipi, siapa pun tau kalaw suara Pipi itu ...
"Cempreng hehehehe" jawab Piko to the point. Wew, Pipi langsung cemberut. Emang sih suaranya cempreng banget. Ga enak buat didenger. Ngomong saja fals *itu kata Pedro* apalagi nyanyi.
"Wahahaha ... emberrr." duh, untung elu yang ngomong Pik, coba kalaw orang lain, dah gue remukin mulutnya! Batin Pipi.
"Eh Pipi, besok ketemuan yah. Pulang sekolah gue tunggu di halte depan sekolah yah! Gue udahan dulu, ngantuk nih ... tatah ..samlekum." kata Piko akhirnya.
"Oh boleh, besok siang yah .. kumsalam .." jawab Pipi. Sebenarnya Pipi masih ingin mendengar suara Piko, masih ingin ngobrol dengan Piko meskipun hanya lewat telepon, tapi malam kian merambat, waktunya bagi anak sekolah untuk tidur! Pipi meletakan handle telpon dan masuk kamar lagi.

Di kamar Pipi rebahan di karpet sambil denger lagu. Bisa ga yah orang jatuh cinta setelah putus cinta? Bisa ga yah kalau Pipi jatuh cinta pada pandangan dan obrolan pertama? Pipi jatuh cinta sama Piko ... Pipi menatap langit-langit kamar yang putih. Terus melamunkan Piko. Besok Piko minta ketemuan, apa itu berarti Piko punya perasaan yang sama dengannya? Apa Piko juga bisa jatuh cinta pada pandangan pertama? Apa Piko cinta sama dirinya? Ini rasanya hampir sama saat Pipi jatuh cinta sama Rahul, tapi, rasanya lebih manis dan penuh warna. Beribu pertanyaan bermain di benak cewek itu. Dan lambat laun Pipi tertidur. Ga di ranjang, tapi di karpet.

Besoknya Pipi ke sekolah dengan semangat baru. Sengaja ga diceritain dulu soal Piko ke temen-temen geng REWO nya. Takut si Phia bocorin berita hangat itu ke mana-mana. Kalau sampai angin pembawa berita itu tertiup ke smu Angkasa, gimana dong. Tengsin dong ma Piko. Ntar dikira Pipi ke ge eran. Kan semua baru seandainya Piko juga jatuh cinta ... kalau ga? Makanya Pipi diam-diam saja. Bahkan cenderung lebih semangat ngikutin pelajaran. Semua pertanyaan guru dijawabnya, tapi kadang ngawur gitu.
pak Samsu : mengapa bumi ini bulat?
Pipi : [angkat tangan] karena kalau kotak-kotak namanya kubus.
murid lain : geerrrrrrrrrrrrrrr [ngakak]
pak Samsu : uhm, bagus Pipi. Lalu apa artinya malu bertanya sesat di jalan?
Pipi : ga ada artinya pak, tapi kalau dipaksa juga, istilahnya gini, malu menjawab sesatkan orang lain dong.
murid lain : gerrrrrrrrrrrrrrr [ngakak pakek banting diri]
Begitu terus, guru bertanya, murid menjawab. Tapi jawaban Pipi ngaco smwa. Namanya orang lagi jatuh cinta, wajar dong hehehehe.

Pulang sekolah Pipi memisahkan diri dari geng REWO dengan alasan masih harus ke perpustakaan dan ada keperluan penting lainnya. Emergency. Untungnya Phia, Gita dan Rara ga bertanya macam-macam. Pipi menarik napas lega. Begitu anak-anak smp Angkasa menghilang satu persatu, Pipi berjalan menuju halte. Ouw ouw, disana Piko dengan santainya lagi duduk nungguin Pipi.
"Hei Pipi!!" Piko melambaikan tangannya. Pipi tersenyum dan berlari kecil ke arah Piko, kunciran rambutnya ikut bergoyang-goyang.
"Dari tadi Piko?" tanya Pipi trus ikutan duduk di samping Piko, di besi tua halte yang kotor. Ga pa pa deh kotor, orang sama Piko ini kok :P
"Barusan juga kok. Oh ya Pi, ini gue mo ngasih ini ke elu." sikap Piko yang langsung pada sasaran itu bikin Pipi suka. Hatinya berdetak keras. Bungkusan kecil itu langsung diterimanya.
"Apa ini Pik?" tanya Pipi penasaran.
"Nanti aja dibuka di rumah yah ... pokoknya isinya uhm ... mewakili perasaan gue ke Pipi ... meskipun kayaknya terlalu cepat, tapi gue harus." jelas Piko.
"Oh yah? Oke, nanti gue buka di rumah hehehe. Kalau gitu gue pulang dulu yah jalan kaki. Piko pulangnya gimana?" tanya Pipi.
"Gue harus naik angkot. Jauh juga sih hehehe. Oke Pi. Bye, see you sweety." mendengarnya jantung Pipi mau berhenti berdetak rasanya. Tweety? Eh sweety? Ouw ouw!! Pipi cepat-cepat pulang ke rumah. Jalannya persis orang dikejar setan gitu.

Sampai di rumah Pipi ga pakai basa basi ma mami dan bi Ijah lagi. Pipi langsung masuk kamar dan membuka bungkusan itu tanpa melepaskan sepatu. Isinya, vcd Kahitna! Pipi terlonjak kegirangan. Di kertas vcd ada tulisan, gini deh tulisannya.

Pipi,

Sorry yah kalau terlalu cepat rasanya. Pipi mungkin kaget, tapi gue jatuh cinta sama Pipi. Jatuh cinta .... Kalau memang Pipi punya perasaan yang sama, please let me know, just missedcall me ... okay?

Luv, Piko.

Pipi histeris kegirangan. Yess!! Ternyata Piko pun punya perasaan yang sama dengannya. Huhuhuhu, Pipi joged-joged India sendiri, ketawa ketiwi di depan cermin sambil nyanyi-nyanyi. Di list lagu ada satu lagu yang dilingkari Piko. Andai Dia Tau? Oh Piko, gue tau sekarang, batin Pipi.
Aih, Pipi jatuh cinta lagi, jatuh cinta pada pandangan pertama, Piko. Hati Pipi dipenuhi bunga dan bahagia. Happy banget dia. Langsung disetel vcd itu, Andai Dia Tau ...

Bilakah dia tau apa yang tlah terjadi
Semenjak hari itu hati ini miliknya

Mungkinkah dia jatuh hati
Seperti apa yang kurasa
Mungkinkah dia jatuh cinta
Seperti apa yang kudamba

Bilakah dia mengerti apa yang tlah terjadi
Hasratku tak tertahan 'tuk dapatkan dirinya

Mungkinkah dia jatuh hati
Seperti apa yang kurasa
Mungkinkah dia jatuh cinta
Seperti apa yang kudamba

Tuhan yakinkan dia
'Tuk jatuh cinta
Hanya untukku .. Andai dia tau ...

Pipi jatuh cinta lagi!! Woo hoo!! Langsung di missedcall nya hp Piko. Sebenernya pengen langsung bilang ke Piko kalau dia juga punya rasa yang sama dengan cowok itu, tapi Pipi ikutin saja permainan Piko. Just missedcall. Dan berikutnya Piko membalas dengan satu sms, -->Pi, Luv you-Piko. Pipi tersenyum bahagia. Penulis juga bahagia hehehe.

tootyee, 23 Februari 2004