Wednesday, March 31, 2004

.:. K A M P A N Y E .:.


Minggu sore yang cerah, secerah hati Pipi. Cewek ceking itu sore-sore begini sudah mandi dan wangi, tak lupa memakai kaos salah satu partai yang dibagi kemaren pas pulang sekolah. Eits, jangan salah, bukan sekolah Pipi yang membagikan kaos loh, tapi orang-orang partai itu sendiri. Mereka pas lagi bagi-bagi kaos di pinggir jalan begitu Pipi lewat pas pulang sekolah. Jadi deh Pipi tertarik, trus nonton dan dapat kaos. Bahagia rasanya punya kaos salah satu partai politik yang ikutan Pemilu. Kevin yang sore itu datang buat maen basket ma Pedro cengar cengir sendiri melihat Pipi.

"Eh Pi, ga salah nih elu pakek kaos partai gitu?" tanya Kevin sambil mendribel bola basket. Pipi melotot. Enak saja salah ... masih waras tauk!
"Salah? Emang harus salah dulu baru boleh pakek kaos partai? Bang Kevin tuh yang enak saja ngomong ga jaga perasaan orang!" cerocos Pipi ga mau kalah. Kevin tambah lebar nyengir.
"Weiii kok marah sih adik sayang? Ya deh, silahkan berpesta kampanye!!" celetuk Kevin sembari nyelonong ke kamar Pedro. Pesta kampanye? Pipi pakek kaos ini bukan untuk ikut-ikutan pesta kampanye tauk! Pipi melempar gobernya ke sofa trus ngekori Kevin. Pedro pas kluar kamar begitu Kevin muncul. Tapi pandangan Pedro ga ke Kevin, melainkan ke balik punggung Kevin.
"What?!! Oi, gue nih Kevin, elu liat apa sih Ped? Kayak orang liat hantu partai aja lu wahahah ... latihan yuk!" ajak Kevin. Pedro langsung tertawa terbahak-bahak.

Di balik punggung Kevin, wajah Pipi dah kayak kepiting rebus. Marah banget dia mendengar omongan Kevin barusan. Kevin seperti tersadar dari mimpi indah dan memulai mimpi buruk begitu berbalik dan melihat Pipi berdiri sambil menatap tajam ke arahnya dan Pedro.
"Aduh Pipi .. maap, ga bermaksut kok, kan tadi gue ga liat elu hikhikhik." Kevin ga tahan juga akhirnya ikut ngakak. Pipi mendengus kesal dan berbalik pergi dari hadapan keduanya yang masih terus tertawa. Pipi kembali ke ruang tamu, meraih gober dan mulai membaca komik kesayangannya itu. Masih didengarnya tawa Pedro dan Kevin membahana dari halaman belakang disela bunyi bola basket yang di drible.

Pipi sebenarnya ga ngerti soal partai apalagi kampanye dan lain sebagainya yang masih ada hubungannya sama Pemilu. Ga memihak salah satu partai pun soalnya dia belum cukup umur untuk ngerti dan belum punya hak buat memilih. Hanya karena kebetulan saja tadi dia dapat kaos gratis. Kaos merah itu pun sebenarnya tipis banget, tapi lumayan lah dipakek untuk bersantai di rumah. Huh, dasar ga tau malu, jenggot merlin, sampah!! Enak saja mereka mentertawakan Pipi. Si tomboy sudah ga konsentrasi lagi baca Gober, dia trus mutusin jalan-jalan sore aja, keliling kompleks. Kalau kakinya kuat, mending sekalian ke rumah Rara. Siapa tau disana hatinya bisa lebih adem.

Di teras, mami lagi asik berkutat dengan pot-pot bunga sambil mendendangkan lagu telenovela, tontonan wajib mami. Begitu melihat Pipi, semprotan selang malah jadi ga beraturan dan kaos Pipi pun ikut keciprat.
"Mami gimana sih, nyiram bunga kok sampai kemana-mana." mami terlihat menahan senyum dikulum dan mulai tertawa pelan. Pipi sadar, mami pasti berpendapat sama seperti Kevin dan Pedro. Anak kecil kok ikut-ikutan pro salah satu partai.
"Ga pa pa sih Pi .. cuman itu kaosmu dapat dari mana? Sejak kapan keluarga kita jadi fanatik berat sama salah satu parpol yah Pi? Tunggu saja sampai papi tau heheheh." Pipi dapat membayangkan mami bakal bergosip di depan papi dan Pipi bakal jadi omongan mereka sepanjang malam. Huahh!!!!
"Miiiiiiiii Pipi kan cuman menikmati memakai kaos baruuu!!" jerit Pipi trus lari keluar rumah meninggalkan mami yang masih terus cekikikan sendiri.

Akhirnya Pipi keliling kompleks perumahan. Kedua tangan di saku jeans belelnya dengan mata melihat kanan kiri. Orang-orang melihatnya dengan pandangan aneh. Hikz, dimana-mana gue ditertawain. Wahahahah penulis pun ikutan tertawa *cetakz!!* pala penulis jadi sasaran karet gelang Pipi. Huhuhu kan penulis ikut berpartisipasi, nyumbang tawa. Pipi cuek, terserah orang mau bilang apa, yang jelas Pipi ga punya niat apa-apa pakek kaos salah satu partai. Pipi hanya senang saja, dapat kaos gratisan.

Langkah Pipi tanpa sadar membawanya ke rumah Rara. Pelan Pipi melirik ke teras rumah sohibnya itu, anggota geng REWO. Pipi masuk.
"Assalamu'alaikum!" tereak Pipi dari luar. Terdengar suara menjawab dari dalam. Oh la la, papa si Rara!! Pipi terkejut jut jut sekali. Bukan karena papa Rara orangnya aneh, bukannn. Tapi karena papa Rara saat itu lagi pakek kaos salah satu partai, partai yang berbeda dengan yang dipakek Pipi.
"Oh Pipi, ayo masuk. Rara lagi di dapur, bantuin mama nya bikinin kue." Pipi mengangguk lemas dan ragu-ragu masuk terus ke dapur. Rara yang tengah membantu mama nya jelas kaget melihat kedatangan Pipi yang agak tiba-tiba.

"Hei Pi!! Hihihi." tuh kan .. Rara saja mentertawakannya.
"Hebattt ... jadi Pipi ikut partai itu yah?" mama Rara berkomentar. Pipi menggeleng lesu.
"Tuh Ra, seperti Pipi dong, punya atensi, punya minat buat bergelut di dunia politik. Lah kamu mana mau begitu?" suara papa Rara mengusik mereka di dapur. Rara tertawa pelan. Buset, tertawa saja cewek ini masih pakek etika.
"Pi, kamu itu anak muda yang punya kreatifitas dalam memilih. Tapi om sarankan, sebaiknya pakek kaos partai ini saja, om masih punya banyak stok di dalam. Sebentar om ambilkan." dan Pipi pun serasa mau muntah mendengarnya. Rara dan mamanya tertawa lebih keras.
"Pi, papa itu fanatik berat sama partai 'itu' elu sih, dateng pakek kaos partai, cari gara-gara aja sama papa. Siap-siap dikuliahin deh." wajah Pipi berubah pucat. Ini bukan hal yang ingin dicarinya. Dia pengen ketenangan, dimana orang ga menilai dirinya berpihak pada salah satu partai hanya dengan memakai kaos partai tersebut!

Sebelum papa si Rara keluar dengan kaos dan pernak pernik partainya, Pipi cepat-cepat pamit sama Rara dan mama nya. Mending jalan-jalan lagi, dari pada harus mendengar celoteh papa Rara yang notabene mengharapkan Pipi sebagai pendengar setia dan di larang protes! Gila aja kalau harus begitu. Mama Rara sempet nahan.
"Ga nunggu kuenya jadi Pi? Rugi loh." Pipi menggeleng lesu. Rara memukul lembut lengannya.
"Ya udah kalau mau pulang. Ganti baju gih, biar ga ada yang reseh hehehe." ujar Rara sesaat sebelum Pipi benar-benar meninggalkan dapur dan sepasang ibu dan anak yang lagi asik bikin kue.

Di luar Pipi ga menoleh lagi ke rumah Rara. Cewek tomboy itu menghentakkan kunciran rambutnya dan berjalan lagi. Ditariknya nafas dalam-dalam. Komar!! Yess Pipi perlu ke rumah Komar!! Komar sahabatnya, Komar yang sering dibantu geng REWO selama ini, baik finansial maupun moril. Pipi bergegas menyeret langkah kaki nya ke rumah sederhana Komar yang terletak di gang sempit dan berbau. Itu dia. Komar kaget melihat Pipi. Pasalnya Komar juga lagi pakek kaos yang sama dengan yang dipakek Pipi.

"Hei Pi!! Wah, sama dong kita hehehe." Pipi cemberut trus duduk di bale-bale depan rumah Komar. Komar menyelesaikan pekerjaannya menyapu halaman trus duduk temenin Pipi.
"Air Pi?" tawar Komar. Pipi mengangguk. Komar masuk ke rumahnya, kemudian keluar dengan segelas air putih dingin. Pipi langsung menegak habis air putih tadi dan bernafas lega.
"Eh Mar, gue kesini buat nenangin pikiran, jangan ditambah dengan omongan soal partai yah!" ancam Pipi, Komar tertawa pendek.
"Siapa yang mau ngomongin partai? Gue ga ngerti soal partai-partai Pi, gue taunya gimana kerja jadi loper koran biar bisa dapat duit dan bantuin ibu." jawab Komar santai dengan pandangan mata menerawang. Pipi menoleh.
"Jadi?? Bagus deh kalau gitu!" sambar Pipi cepat.

"Gue ga ngerti Mar, kenapa orang-orang pada mengidentikan diri gue sama partai yang kaos nya lagi kita pakek sekarang ini. Eh, elu dapat dari mana kaos itu?" tanya Pipi.
"Tadi siang, pas pulang sekolah, ada yang bagi-bagi kaos. Lumayan lah Pi, buat dipakek di rumah, untung aja dapat kaos baru meskipun kaos partai. Buat makan saja susah, apalagi beli kaos baru?" ujar Komar lagi. Pipi tersenyum, senyum pertama untuk sore ini. Lega mendengar Komar bicara.
"Gue pakek kaos ini buat fun aja Pi." sama dong, batin Pipi gembira. Menjelang maghrib Pipi buru-buru pamit pada Komar.

Dengan pasti cewek itu melangkah pulang, meninggalkan pemukiman kumuh tempat rumah Komar berdiri. Dicegatnya salah satu angkot dan langsung pulang ke rumah. Di rumah Pipi bergegas sholat maghrib trus belajar. Kaos partai dilepasnya, bye bye. Bukan apa-apa sih, Pipi merasa lebih baik ga usah pakek salah satu kaos partai, masih dibawah umur dan itu akan berdampak pandangan melecehkan dari orang-orang yang kebetulan ga pro sama partai yang bersangkutan. Usai belajar Pipi ke ruang keluarga, disana mami dan papi lagi nonton tipi. Bi Ijah ikutan nonton sedangkan Pedro terlihat serius sama novel Harry Potter Pipi yang dipinjamnya.

"Eh Pi, dah selesai ikutan kampanye?" tegur papi begitu menyadari kehadiran Pipi ditengah-tengah mereka. Mami nampak menaham senyum.
"Yee papi, siapa yang ikutan kampanye? Dah ah ganti topik! Bosen Pipi dari tadi diledek mulu .." rengeknya sembari duduk ditengah-tengah mami dan papi.
"Ya udah, bagus kalau kamu sadar! Mending nonton telenovela dari pada ikutan kampanye hehehe." gurau mami. Igh, mami sih apa yang paling bagus selain telenovela?
"Iya iya .." jawab Pipi ngalah. Malam itu sebelum tidur Pipi menghabiskan waktu bersama papi dan mami, juga Pedro dan bi Ijah, ngobrolin tentang apa saja kecuali kampanye. Terlalu banyak partai malah bikin bingung. Apalagi bi Ijah, pembokat gaul itu kebingungan mau nyoblos yang mana. Penulis sih santai aja man B-) *ga tanya!!!!!!! <--- serbu Pipi kesal:P* wahahahha.

Sunday, March 28, 2004

.:. HARRY POTTER!! .:.


Pipi lagi seneng banget, tapi itu kesenangan yang kurang bagus deh *penulis mulai berkomentar pedas :P* soalnya Pipi lagi terobsesi sama Harry Potter, HP, yang kemudian menjadikan sikap cewek tomboy ini rada aneh. Pipi dibeliin Piko HP yang judulnya Harry Potter dan Orde Phoenix. Bukan orde lama, orde baru atau orde reformasi loh. Jauh mah itu dari Harry Potter! Dua hari ini koleksi Gober bebek dibiarkan mematung di rak buku dengan pasrah, menatap penuh harap disentuh Pipi untuk kesekian kali. Namun Pipi tetap cuek, tiduran, telungkup, duduk, berdiri, sambil baca Harry Potter!!

Bujubuneng, itu novel kok tebel amat? Yang baca aja ribet, apalagi yang bikin yah? Pipi seneng bukan main saat Piko menghadiahinya novel tersebut. Hadiah kecil dari Piko di hari yang bukan hari istimewah, itu membuat hati Pipi bahagia, Piko .. i luv u, batin Pipi. Penulis geleng kepala melihat ulah Pipi ini. Seperti hari ini, Pipi lagi asik membaca HP, hatinya ikut berdegup, keringat membasahi keningnya saat Harry dan Dudley diserang Dementor yang tampangnya adalah tampang yang paling dibenci di seluruh dunia, kedua setelah Voldemort! Pipi membaca tanpa berkedip sekalipun. Hatinya ikut diombang ambingkan kata-kata yang terjalin di setiap lembar novel setebal 1200 halaman itu.

Tok tok tok!! Pintu kamar Pipi diketuk dari luar. Pipi cuek, ga denger atau pura-pura ga denger, ga jelas. Dia tetap bersila di karpet, membaca dan membaca. Sampai kemudian terdengar suara mami melengking dari luar pintu.
"Piiippppiiii!!!!" Pipi tersentak, cepat-cepat menyelipkan pembatas buku dan bergegas membuka pintu. Disana mami dengan tampang mengerikan melotot pada putri bungsunya itu.
"I .. iya mi ... telenovela tadi bagus yah mi?!" mami menggeleng. Pipi cengengesan. Jelas mami marah. Marah sekali sama Pipi. Apa sebab?
"Pipi manis .. " lembut suara mami "SORE INI LES MATEMATIKA!!!" mami menjerit .. keokk, ayam tetangga mati satu :p Pipi sontak kaget. Ya ampun, les matematika!!
"Les mi .. Pipi lupa .. Pipi siap-siap dulu mi." jawab Pipi sambil lalu, meraih handuk dan berlari ke kamar mandi. Mami mendengus kesal.

Pipi cepat-cepat mandi, ganti baju dan melesat ke luar rumah. Hari ini les matematika, mati gue, batin Pipi. Masalahnya, sore ini les-nya di sekolah, bukan di rumah guru. Udah gitu, ada anak-anak kelas lain yang ikutan. Goblok lu Pi, kata penulis *dug, kerikil segede hp menyebabkan pala penulis benjol :P* Pipi pun ke sekolah, naik ojek, takut telat. Dan benar, Pipi hampir saja telat satu menit sesaat sebelum les dimulai. Yeah, seperti yang penulis duga, Pipi ga konsentrasi ikut les. Pikirannya melayang kemana-mana. Phie dilihatnya seperti Ron, Gita seperti Dudley dan Rara seperti Hermione. Yup, Pipi senyum-senyum sendiri. Pikiran gadis ceking itu sama sekali tidak di tempat.

Seandainya SMP Angkasa ini adalah Hogwarts. Dikepalai oleh Dumbledore, dengan profesor Snipe sebagai guru matematika dengan semua aturan-aturan sekolah sihir. Yup, Pipi pasti akan mempunya satu tongkat sihir dengan inti bulu phoenix di dalamnya, menggairahkan sekali itu! Pipi pasti punya sapu terbang, ga usah sebagus milik Harry, cukup sapu yang biasa dipakai madam mikmak, mimi hitam atau hortensia, Pipi senyum sendiri dalam lamunannya.
"Well, Pipi, kerjakan soal tadi di papan!" Pipi kaget, dunianya kembali, tak ada sihir tak ada keajaiban ... Sore itu Pipi ingin cepat-cepat kembali ke rumah, kembali masuk ke dunia sihir yang menakjubkan, seandainya dirinya bisa ber-apperate seperti George atau Sirius Black. Huah. Pipi ingin cepat tiba di kamarnya yang mungil .... Penulis geleng-geleng jempol.

Tiba di rumah, usai sholat Maghrib, Pipi kembali berkutat dengan dunia sihir. Sampai-sampai papi perlu mengecek apa putrinya itu masih hidup. Tega deh papi! Ga salah juga sih, lha wong Pipi itu seperti putri malu yang memingit diri sendiri di kamar! Pedro ikut-ikutan gelisah. Kakak Pipi ini masuk kamar Pipi.
"Dhuarrr!!" Pipi diam, ga kaget. Justru itu lebih mengagetkan Pedro. Ga biasanya Pipi cuek sama ulahnya.
"Eh Pi .. tadi abang ma Juleha jalan-jalan sore loh, di pinggir pantai, wuih romantis bo. Sekali-kali ajak Piko jalan-jalan dong Pi." Pipi diam, membalik halaman berikutnya dari novel tebal itu.
"Pi .. hp mu mati yah? Tadi Piko tanyain ke abang ..." Pipi diam lagi, ga peduli, seolah-olah Pedro ga hadir disana merecoki konsentrasinya. Pedro ga habis akal.
"Eh Pi, di toko nirmala ada poster Harry Potter gede loh!" deg, Pipi langsung menatap abangnya dengan sinar mata yang cerah.
"Bener bang?! Berapa harganya? Aduhhh mana duit Pipi dah tipis lagi. Mami ngijinin Pipi minta tambahan duit ga yah bang?" serang Pipi berapi-api ke Pedro, sampai Pedro kebakaran :P
"Ga boleh. Mami ga ngijinin!" suara mami menggelegar dari pintu kamar yang terkuak, Pipi dan Pedro serentak menoleh.

Mami masuk kamar, diikuti papi. Pipi menutup novel dan duduk disamping Pedro. Takut juga sih, mami kalau marah bahaya, ayam tetangga bisa-bisa mati lagi tuh!
"Untuk apa?" tanya mami lagi.
"Koleksi mi .. biasa .. abg tuh!" sambar Pedro cepat. Pipi mencubit lengan abangnya gemas.
"Pedro, kalau ga disuruh ngomong ga usah ngomong!!" bentak mami sengit. Pedro pucat, menatap penuh harap ke arah papi. Tapi papi membuang muka sejauh-jauhnya ampe lupa kembali hihihihi. Pipi puas melihat tampang Pedro.
"Untuk apa beli poster segala? Itu namanya mengeluarkan duit tanpa rencana, bisa menghancurkan perekonomian keluarga tau!" ye mami ... ada-ada saja alasannya.
"Iya Pi .. untuk apa? Papi lihat, Pipi sudah mulai terobsesi sama Harry Potter. Ngefans sih boleh Pi, tapi jangan sampai fanatik gitu, ga baik buat kesehatan." tambah papi, kali ini memang ada benarnya.
"Kalau sakit, bawalah anak-anak ke dokter pi... eh .. kok mami jadi nyaut ke papi sih?" ujar mami lagi hihihii. Pedro ma papi cekikikan.

Pipi masih duduk, ikutan nyengir denger celoteh kedua orangtuanya yang kadang memang mengundang tawa. Saling sahut, tapi ga nyambung gitu.
"Pi .. novel itu punya siapa?" tanya papi bijak. Cukup bijak untuk ukuran papi.
"Punya Pipi .. dikasih ma Piko." jawab pipi singkat.
"Piko yang anak gembel itu? Eh salah.. yang kita ketemu di dermaga pas mancing itu?" tanya papi lagi, Pipi mengangguk mantap.
"Oh.. yang dah jadi pacar Pipi itu?" Pipi cemberut. Idih papi, dah tau masih nanya, basi ah!
"Jadi itu novel punya Pipi kan? Kapan saja bisa Pipi baca ... seperti koleksi Gober-gober itu." kata papi sambil nunjuk ke arah rak buku. Pipi mangut lagi.
"Nahhhhh .. artinya, Pipi ga perlu menghabiskan setiap jam untuk novel itu, masih banyak waktu untuk sebuah novel, waktu senggang itu lah saat yang tepat untuk membaca. Bukan di waktu belajar, makan bahkan di waktu kumpul sama keluarga." kata papi lagi .. bijak memang.
"Iyah pi, kalau tiba-tiba papi atau mami mati, gimana dong! Pipi ga punya saat-saat terakhir, moment terakhir yang membahagiakan bersama papi atau mami .." Pipi terperangah, sejauh itu kah pikiran orangtuanya?

"Betul itu pi, sedangkan sebuah novel bisa menunggu, sedangkan makan malam ga bisa menunggu, les matematika ga bisa menunggu, mandi ga bisa menunggu dan belajar untuk ulangan besok pun ga bisa menunggu..." mami kali ini lebih pelan volume suaranya. Ayam tetangga masih aman bobo :p~~
"Yup!! Apalagi sampai terobsesi, apa-apa dikaitkan dengan Harry Potter. Masa pagi tadi Pipi bilang begini pi, eh bang Ped, kalau Pipi punya sapu terbang, kita jalan-jalan ke jogja ga usah naik kapal! Trus ngoceh ga hentinya soal Ridicculus, Acio bla bla igh, mo sihir abang jadi katak yak? Ga usah Pi, abang dah mirip!!" tambah Pedro.
"Emberrr." sahut Pipi, mami dan papi bareng. Pedro nyengir kuda.


Tapi Pipi diam, Pedro, papi dan mami memang benar seratus persen. Dirinya telah terbawa arus Harry Potter terlalu jauh. Pipi tengadah .. semua menatap sayang ke arahnya. Pipi tersenyum, bahagia sekali mendapat perhatian dan kasih sayang yang begitu besar dari keluarganya. Betul kata sinetron, harta yang paling berharga adalah keluarga. Saat terpahit dan terpuruk pun dalam hidup kita, hanya keluarga lah yang akan menemani, memberi dukungan buat kita. Orang lain mungkin ikut membantu, tapi keluarga adalah yang paling dekat dengan kita.

"Iya deh, Pipi akui salah dalam hal ini hehehe. Maafin Pipi yah mi, pi dan bang Ped. Pipi jadi rada aneh akhir-akhir ini, terobsesi pengen jadi Harry Potter, pengen bisa sihir dan melakukan keajaiban yang jelas ga mungkin terjadi." kata-kata itu menjawab semuanya.
"Kalau gitu, kita makan malam sama-sama yuk! Perut papi dah keroncongan nih, membayangkan masakan mami...." sambar papi cepat sembari memegangi perutnya. Semua tertawa. Bi Ijah muncul di saat-saat terakhir.
"Non Pipi, telpon dari Piko .." Pipi melonjak, segera berlari keluar kamar, meraih gagang telepon.
"Halooo hei Piko!!" jerit Pipi pelan.
"Pipi sayang .. kemana ajah? Kenapa hp nya nonaktif? Kangen nih .. jangan-jangan Pipi lebih mencintai Harry Potter dari gue nih .." ujar Piko dari seberang. Pipi tertawa.
"Nyaris Ko .. untung ga jadi hihihihi. Besok siang ketemu yah .. " jawab Pipi. Setelah basa basi sebentar Pipi menutup pembicaraan.

Di meja makan anggota keluarga yang lain telah menanti Pipi. Oh la la, betapa senangnya merasakan diri kita lah yang ditunggu saat makan malam. Merasakan betapa mereka semua mengkhawatirkan Pipi dan Harry Potter. Pipi cengar cengir duduk di samping Pedro.
"Oke anak-anak ayo makan .. jangan lupa untuk mencicipi kue yang tadi mami bikin yah, namanya kue darah lumpur ..." Pipi menoleh ke mami. Mami senyum jahil sambil mengedipkan sebelah mata.
"Becanda Pi .. kue lumpur maksutnya hahahhaha. Tapi bersyukurlah, kita adalah mugle yang ga dikejar-kejar voldemort!" Pipi lemes seketika. Ini yang terobsesi sama Harry Potter, Pipi atau mami? Hihihihi, Pipi cekikikan sendiri, si mami ada-ada saja ah!!
Keluarga sederhana yang kocak itu pun melewati saat makan malam dengan canda dan gurauan yang ga ada habisnya hingga saatnya naik tempat tidur. Pipi terlelap dalam mimpi indah tentang naik sapu terbang bersama hortensia!! Loh, itu kan bukan anggota Harry Potter yak? Hihihihi .. penulis terkekeh sendiri.

Tuesday, March 16, 2004

.:. BETE? JANGAN AH, RUGI!! .:.


Pipi, si manis yang tomboy dan ceking kita ini lagi bete. Lagi-lagi bete? Yah namanya juga orang hidup, ada saja kan betenya disela senangnya. Tul ga Pi? Penulis mencoba membangkitkan semangat Pipi eh malah dibalas Pipi sama pelototan sengit. Aw aw, Penulis ngalah dey, ga goda Pipi dulu hehehe. Kenapa Pipi sampai bete? Yup, back to bete nya Pipi. Pipi sampai bete itu gara-gara si Piko. What? Piko cowok baru Pipi itu kan? Kenapa sih? Pipi melotot lagi sama Penulis, kali ini Penulis menghindar jauh-jauh deh, dari pada kena digetok Pipi pakek sepatu butut papi :p. Eh eh, emang bete itu apa sih Pi? Waks, sepatu butut papi betul-betul mendarat dengan mulus di kepala penulis .. aw.

Okay, Pipi bete gara-gara Piko berdusta. Dusta yang ga bisa diterima batin Pipi yang masih labil. Piko, cowok smu Angkasa yang tlah resmi jadian sama Pipi itu, kemarin telah berdusta! Mbulet ah kata-katanya. Well, garis besarnya adalah Piko berdusta sama Pipi bilang mau les komputer, jadi kemaren sore ga bisa nganterin Pipi ke rumah Gita minjam buku. So Pipi pergi sendiri ke rumah Gita. Pulang dari rumah Gita, Pipi singgah dulu ke perpustakaan kota. Disitulah awal ke-bete-an Pipi dimulai. Di perpustakaan yang sepi itu, Pipi mendengar suara yang amat dikenalnya dari balik rak buku. Suara itu adalah suara Piko! Treng treng, Pipi ngintip. Piko disitu lagi duduk berhadapan sama cewek manis berambut kriting, ga seganas Phia sih kritingnya tapi tampang cewek itu bikin Pipi mual. Sok mesra gitu ke Piko. Memang sih yang mereka bicarakan, dari yang sempat dikuping Pipi, bukan soal asmara dan lain sebagainya yang menyangkut cinta. Tapi tetap saja Pipi bete, Piko telah berdusta padanya. Bukannya Piko seharusnya berada di Servas College buat les komputer? Pipi memilih pulang dengan segera tanpa meminjam buku apa pun.

Pagi tadi di sekolah Pipi uring-uringan sendiri. Geng REWO berusaha mendekatinya, tapi Pipi lagi galak, segalak macan kelaparan. So, si Gita, Phia dan Rara memilih mendiamkan saja. Toh Pipi dah sering begini, hasil akhirnya Pipi bakal menyelesaikan masalahnya sendiri. Paling dua tiga hari lagi Pipi pasti ceria kembali, ketawa ketiwi kembali bareng mereka. Hp sejak pagi tadi dimatiin Pipi. Dia ga mau meng-sms Piko apalagi menerima sms dari cowoknya itu. Seganteng apa pun Piko, Pipi tetap sebal sama dustanya. Pulang sekolah Pipi ga barengan sama geng REWO, dia memilih pulang dengan segera naik ojek. Hal itu dilakukannya untuk menghindari Piko yang suka nungguin dia di halte depan gerbang sekolah mereka yang tetanggaan. Smu dan Smp Angkasa memang berada dalam satu kavling karena dua sekolah itu berada dalam satu Yayasan, Yayasan Angkasa.

Pulang sekolah Pipi hampir saja mogok makan kalau ga melihat ikan bumbu asam manis di meja makan, yeee itu mah sama aja Pi. Mami asik nonton telenopelah, biasa, kalau mami di rumah, pasti nongkrong di depan tipi, kadang ditemani bi Ijah yang suka ikutan nangis bareng mami. Sedangkan Pedro dan papi belum pulang. Setelah cuci tangan dan ganti baju, Pipi cepat-cepat makan siang. Bete-nya sempat ngilang bentar begitu rasa asam manis ikan masuk ke mulutnya. Eh, habis makan, Pipi kembali ber-bete ria. Huh, Piko, kenapa kau dustai diriku? Batin Pipi sok puitis hehehe.

Pipi masuk kamar, tidur-tiduran di karpet sambil denger celoteh ayam tetangga yang ribut minta ampun. Kelaparan kali yah? Pipi ngitung jari-jarinya, masih sepuluh di tangan. Masih sepuluh juga di kaki. Pipi meraih hp, idupin ga yah .. gadis tomboy itu bimbang. Gimana kalau ada sms dari Piko? Bagaimana kalau Piko nelpon? Igh, Pipi blum siap berhadapan sama Piko, takut marahnya masih membara, takut si Piko dilempari sama aquarium Pedro. Pipi mendesah kesal. Piko kok tega yah berbohong? Pipi beteeeee banget. Sampai-sampai ga rela noleh sedikit pun sama penulis. Yah Pipi, kita kan pengen godain situ hikhikhik .. Awww, kamus gede Pipi mendarat mulus lagi di jidad penulis .. hihihihi.

Lama bete-betean di kamar, Pipi akhirnya mandi sore. Jam sudah menunjukan pukul empat sore, waktunya mandi. Sore ini Pipi ga ikut les matematika, gurunya sakit. So, habis mandi, Pipi yang sudah harum semerbak cari-cari Pedro di kamar. Kakak cowok satu-satunya itu lagi nulis. Nulis surat cinta. Surat cinta lagi? Buat siapa? Juleha kan dah resmi jadi pacar Pedro?
"Bang Pedrooooooooo!!!!" jerit Pipi dari muka pintu. Pedro kaget, hampir saja Pedro ayan-an gara-gara Pipi.
"Dodollllllllll .. jangan ngagetin gitu dong Pi. Jantungan nih. Tuh kan, konsentrasi nulis surat jadi kacau!" balas Pedro ga kalah kenceng. Pipi cekikikan, dia paling senang godain Pedro. Paling ga, itu mengobati sedikit bete nya 2 hari ini.
"Nulis surat buat siapa lagi? Abang jatuh cinta lagi? Juleha mau dikemanain bang?" tanya Pipi antusias sambil melirik-lirik kertas yang ditutupi Pedro.
"Hush, anak kecil! Ini kan urusan cowok!" jawab Pedro.
"Yeee .. biyar kecil, tapi ide-ide Pipi juga lah yang bikin abang ma Juleha jadian tauk! Huh." Pipi sengit. Pedro ngakak. Senang juga bisa membalas kejahilan adiknya.
"Ini surat buat Juleha juga, abang kan kadang grogi buat ngomong di depan dia, jadi banyak hal yang harus disampaikan lewat surat ..." Pedro malu-malu kucing. Pipi tersenyum jahil.
"Ya ampun, baru juga Juleha dah grogi bang, apalagi kalau Cindy Crawford yah? Dah ah .. abang silahkan melanjutkan acara nulis suratnya. Pipi mau baca Gober bebek dulu." Pipi keluar dari kamar Pedro. Di teras papi lagi asik baca koran. Koran bekas kemarin, biasa papi .. mana mau beli koran baru? Pedit!! Malas ngobrol bareng papi, Pipi kembali ke kamar, ngambil Gober dan mulai membaca tingkah Gober yang pedit kayak papi dan selalu diincar gerombolan si berat. Lagi asik membaca, bi Ijah teriakin Pipi dari pintu kamar.

"Non Pipiiiiiii dipanggil papiiii yuhuuuu." ya ampun bi Ijah. Pipi melempar Gober dengan gemas dan segera terbang ke teras. Tapi, oh la la, di teras papi malah lagi ngobrol sama Piko! Huah, mau menerkam Piko, ga etis lah, ada papi hihih. Pipi hanya berdiri mematung.
"Eh Pi .. papi ke dalam dulu ya." papi langsung masuk ke dalam, tinggal Pipi berdua Piko di teras. Pipi duduk. Diam. Ga mau ngomong. Bete. Tampang Piko malah aneh liat Pipi kayak gitu. Igh, ga ngerasa apa, batin Pipi.

"Pi .. kenapa?" tanya Piko santai. Suara Piko, suara yang selalu dirindui cewek tomboy ini, lebih berkharisma dari Rahul, mantannya itu. Ehits, dosa ngomongin mantan yak? Heheheehe.
"Bete!" jawab Pipi ketus seketus-ketusnya. Piko kaget sekaget-kagetnya.
"Bete kenapa? Hp nya mati terus dari pagi ya say .." Piko berusaha mencari tau apa yang terjadi.
"Ya bete! Piko itu pendusta bagi Pipi!!" Pipi masih ketus. Piko kaget lagi. Pendusta? Cowok itu mencoba mencari tau apa yang terjadi sampai dirinya dibilang pendusta sama cewek yang dicintainya ini, cewek abg yang tomboy ini.
"Pendusta? Emang Piko dusta soal apa sih?" tanya Piko ga ngerti.
"Kemarin itu, Piko bohing kan?!" sambar Pipi cepat.
"Bohing? Hebring? Bohong maksutnya?" Piko tambah ga ngerti.
"Iya, bohong maksutnya, keseleo lidah neh .." Pipi mulai melunak nada bicaranya, ga seketus tadi. Gut :P
"Bohong soal apa sih sayang .. gue ga pernah mau bohong, dusta, tipu sama Pipi." jawab Piko, dia pindah duduk di samping Pipi. Uhmm aroma Piko bikin Pipi terlena .. tsah.
"Kemarin Piko katanya les komputer. Kok malah ada di perpustakaan? Pipi kemarin ke rumah Gita sendirian, trus mampir ke perpus dan disana liat Piko sama cewek kriting itu!" Piko tersenyum .. lalu tertawa ngakak. Igh, ga tau apa kalau orang lagi bete? Malah diketawain. Pipi mencari-cari barang yang bisa dipakek buat lempar .. kursi, meja, pot bunga mami .. ah .. ga ada.

"Pi, kemarin itu gue memang ke tempat les. Trus sama guru les disuruh ke perpustakaan buat cari data. Ya sudah, les hanya setengah jam, sisanya gue sama Rully ke perpus Pi, cari data di sana. Data soal webdesign gitu. Emang sih di tempat les gue belajar microsoft dan sebagainya, tapi buat selingan, kita disuruh cari-cari tau soal webdesign gitu hehehe. Aduh Pi, makanya tanya dulu dong baru bete." jelas Piko panjang lebar tinggi semampai.
"Trus .." suara Pipi kian lemah, tanda-tanda epilepsi hikhikhik.
"Ya sudah .. gitu aja, trus pulang! Malam gue sibuk ngerjain pe er Pi, jadi ga sempat sms atau epon. Tapi pagi tadi abis subuh gue coba hubungi Pipi, hp mati. Sampai sore ini." Pipi terpekur ditempatnya. Bete tanpa sebab yah jadinya .. Pipi melirik Piko. Cowok itu mengacak-ngacak rambut Pipi. Wekz, kuncirannya jadi berantakan.
"Masih bete?" tanya Piko lembut. Pipi tersentuh. Piko baik, cowok baik dan pengertian. Piko ga marah dibentak-bentak. Penulis juga ga marah di lempari sama sepatu butut papi gegege.

"Ga bete lagi Ko. Maap yah. Gue sudah salah bete-bete gini." Pipi tersenyum malu-malu macan. Tapi tetep manis kok Pi .. penulis takut kena gaplok lagi.
"Ya udah, kalau gitu sore ini keluar yuk." ajak Piko lagi. Pipi mengangguk setuju. Cewek ceking itu melesat ke kamar ganti baju trus pamit sama mami dan papi. Mami malah sempat nitip.
"Pi, bilang ke calon mantu, beliin martabak holland yah .. teman nonton telenopelah gitu." Pipi cengar cengir. Idih mami, mulai deh kumat. Pipi menghampiri Piko di teras trus keduanya pergi deh berdua. Jalan-jalan di kota Ende yang mungil, nongkrong, ngebakso dan becanda.

Trus? Ceritanya sampai disini dulu yah, penulis capek nih hehehe. Intinya adalah, jangan suka curiga dulu sama hal yang belum pasti. Lebih baik ditanyai, diclearkan segera, biar ga ketombean :P Biar semua masalah cepat selesai dan ga bete kayak Pipi. Mending betenya itu ternyata beralasan tepat, kalau tidak? Yah .. rugi dong bete tapi ternyata ga beralasan gitu. Rugi dong. Untung si Piko cowok baik yang ramah tamah resepsi pernikahan, kalau tidak? Bisa-bisa Piko balas marah dan bete sama Pipi. Jadinya malah saling bete kan? Penulis pamit yakkk ... nyooookkkkkk.

tuteh, 17 Maret 2004

Saturday, March 06, 2004

.:. MAMI, MISS YOU!! .:.


Horee, Pipi nari-nari kecil diiringi dengan lantunan Angel-nya Shaggy. Cewek tomboy, ceking dan selalu ceria itu lagi hepi bukan alang kepalang. Bukan saja karena dirinya udah punya cowok baru yang namanya Piko, tapi karena mulai hari ini sampai 7 hari ke depan Pipi hanya tinggal serumah Pedro dan bi Ijah. Pagi tadi jam 8 pesawat Kaza membawa papi dan mami menuju Surabaya! Hore, Pipi lagi-lagi tertawa senang. Papi dan mami diundang sahabat papi menghadiri pernikahan anak satu-satunya. Om Trance, nama sahabat papi, adalah sahabat sejak smp. Om Trance hanya mempunyai satu putra dan berjanji akan mengundang papi dan mami ke Surabaya bila anaknya menikah, dengan catatan semua akomodasi dan sebagainya ditanggung om Trance. Yuhu, Pipi merasa seperti burung yang paling bebas di dunia.

"Oii ngapain Pi?!" Pedro muncul dari kamar. Matanya masih sipit, baru bangun tidur rupanya. Pipi tertawa lagi.
"Aduh bang Ped, Pipi tuh lagi merayakan kebebasan kita. Seminggu ini mami dan papi ga ada, boleh nonton mtv sepuasnya, boleh ga minum susu ke sekolah, pokoknya boleh ngapain deh! Satu lagi, Pipi dapat tambahan uang dari mami hehehhe .. senangnyaaa ..." Pedro bengong lihat tingkah adik satu-satunya itu.
"Loh, bukannya elu tuh paling manja sama mami?" ejek Pedro sambil nyengir.
"Woh, enak ajah! Bang Ped tuh yang paling manja hihihi. Dah ah, Pipi mo ke kamar dulu, mo belajar. Sore tadi Pipi ga ikutan les Matematika, aseikkkk." Pedro tambah bengong.
"Kenapa ga ikut les? Gue laporin mami ah.." ancam Pedro. Tapi Pipi dengan lagak cueknya masuk kamar tanpa menjawab.

Di kamar Pipi belajar dengan malas-malasan. Matanya sesekali melirik vcd Friends yang kemaren dipinjamnya dari Rara. Wah, belajar atau nonton? Walhasil Pipi memilih nonton. Ga tanggung-tanggung, malam itu dia nonton sampai jam dua belas malam! Tiga seri diselesaikan. Saat matanya betul-betul tinggal lima watt, gadis tomboy itu naik tidur, tanpa cuci muka dan kaki lagi. Beuh Pipi...

Gedoran di pintu kamar mengagetkan Pipi. Sudah keras, berkali-kali lagi. Pipi ngulet-ngulet badannya, masih ngantuk. Siapa sih? Masih belum pulih kesadarannya Pipi mendengar suara bi Ijah.
"Non Pipi!! Masuk sekolah ga? Ini sudah hampir jam tujuh loh!" Pipi ngulet-ngulet lagi kayak cacing. Bi Ijah, ga tau apa orang masih ngantuk? Tidur baru sebentar rasanya, kok sudah dibangunin? Pipi hendak tidur lagi. Ga lama suara Pedro tereak-tereak.
"Pipi!!! Elu ga sekolah! Cepet kalau mau ke sekolah! Motornya mau gue pake, milih mana, gue antar atau elu naik angkot?" Pipi kaget. Hah? Liat jam di dinding, jam tujuh kurang sepuluh menit! Wataww!! Dengan langkah seribu Pipi membuka kunci pintu kamar, melesat ke kamar mandi, nabrak bi Ijah dan Pedro. Pedro dan bi Ijah hanya bisa geleng-geleng kepala.

Di kamar mandi, Pipi langsung kecipak kecipuk, dingin .. brrr cewek tomboy itu mengigil kedinginan. Gosok gigi cepat-cepat dan melesat lagi ke kamar tanpa jeda. Di kamar Pipi tereak.
"Bi Ijah!!!!! Kaos kaki Pipi yang gambarnya gober bebek mana?!" bi Ijah segera ke meja seterika dan mengambil tumpukan kaos kaki disitu. Dibawanya ke kamar Pipi. Dan Pipi sukses siap ke sekolah dengan waktu kurang dari lima menit! Pedro nyengir liat Pipi.
"Napah cengar cengir?! Bi Ijah, ga usah sarapan yah .." bi Ijah menggeleng.
"Ga bisa gitu non. Ntar kalau papi dan mami pulang ngeliat non Pipi tambah kurus gimana, bibi kan bertanggung jawab atas non Pipi dan bang Pedro." Pipi mencibir.
"Iya Pi .. cepet sarapan! Tuh nasi gorengnya dah dingin." Pipi bergegas menyuapi nasi goreng ke mulutnya, kalap. Kalau ga kalap, bisa telat banget ntar. Untung Ende kota kecil yang kemana-mana ga terlalu makan waktu. Selesai makan bi Ijah nyodorin segelas susu hangat. Mau ga mau Pipi negak susunya setengah. Berangkatlah kakak beradik itu ke sekolah.

Di sekolah Pipi nyaris telat. Pak satpam smp Angkasa hampir saja menutup gerbang. Untung hari itu Pipi masih selamat. Masuk kelas, pelajaran pertama adalah Matematika. Dan begitu bu guru meminta ketua kelas mengumpulkan pe er, Pipi hampir pingsan di tempat! Ya ampun lupa mengerjakan pe er! Pipi celingak celinguk ke Rara, Phia dan Gita. Ke tiganya balas menatap Pipi. Pipi pasang tampang melas. Duh, gimana nih!
Setelah semua buku pe er matematika dikumpulkan, ibu guru menghitung jumlah buku.
"Siapa yang tidak masuk sekolah hari ini?" tanya bu guru.
"Hadir semua bu." jawab ketua kelas polos, sembari melirik Pipi yang menatap bu guru dengan tampang takut.
"Lalu?! Siapa yang tidak mengerjakan pe er?!" takut-takut Pipi unjuk jari. Bu guru menatap heran. Karena, memang ga biasa kalau Pipi ga ngerjain pe er. Cewek itu kan paling rajin dan juga pintar. Walhasil Pipi dikeluarkan dari kelas selama pelajaran matematika. Pipi mengeluh ... Duh, ini lah jadinya kalau semalam lebih memilih nonton friends, lupa kalau ada pe er matematika.

Jam istirahat berbunyi, Pipi keluar dari perpustakaan menuju kantin, ketemu geng REWO di koridor sekolah.
"Hei Pi!!!" Gita meninju bahunya.
"Kenapa sih lu? Kok ga ngerjain pe er?" tanya Phie gencar. Rara kalem.
"Lupa. Tapi ga pa pa sih, gue seneng, soalnya di rumah gue bebas banget mau ngapain, mami dan papi kan ke Surabaya." jawab Pipi enteng. Mereka berjalan beriringan menuju kantin.
"Pokoknya seneng banget gue hehehe. Ga ada mami artinya ga ada telenopelah! Ga ada nanis-nanis bombay mami, ga ada tereakan mami yang super itu, ga ada celoteh mami yang bikin budeg, ga diomelin mami, pokoknya hepi!" cerita Pipi antusias dan berapi-api. Anak-anak geng REWO bengong.
"Emang elu ga kangen sama mami lu?" tanya Rara kemudian. Si pendiam ini ga tahan mendengar cerita Pipi.
"Kangen?? Ga lah .. baru jugak satu hari ditinggal, ngapain jugak kangen, wahahahah .. ada-ada ajah .. kangennnn hihihi. Mending kangen Piko." Pipi cengar cengir sembari memasukan potongan gethuk ke mulutnya.
"Whuuu mentang-mentang baru jadian, kangen terus!!!" ledek teman-temannya.

Apa bener Pipi ga kangen sama mami? Heh, ternyata lain di mulut lain di hati yah. Soalnya di hari kedua ini, sorenya Pipi lemes seperti orang habis maraton. Bi Ijah mendekati Pipi.
"Non, kenapa kok lesu gitu? Dari tadi bibi liat, diam terus, duduk lemes di sofa ini. Ga les non?" tanya bi Ijah prihatin. Pipi menggeleng.
"Ga bi... ga ada semangat." bi Ijah ikutan duduk.
"Bibi juga kangen mami non ..." Pipi terkejut. Bi Ijah kangen mami?
"Loh, yang kangen itu kan bi Ijah, bukan Pipi! Pipi ga kangen ah .. belum, baru juga dua hari .. eh tapi tadi ada telpon dari Surabaya ga bi?" tanya Pipi. Bi Ijah menggeleng. Pipi tambah lesu, pamit pada bi Ijah masuk kamar.

Betul-betul lain di bibir lain di hati. Di kamar Pipi menangis! Rebahan di ranjang dengan air mata berurai. Pipi kangen mami! Ga ada irama latino telenopelah, ga ada komentar mami soal telenopelah, ga ada teriakan mami, ga ada yang maksain dia minum susu, ga ada yang nyiapin baju plus kaos kaki di kaki ranjang pas dirinya mandi pagi, ga ada keceriaan di rumah itu! Pipi menangis lagi. Mami kok lama yah .. seminggu. Ampun!! Hati Pipi sesak banget. Dia amat sangat kangen sama mami. Kangen sama semua yang ada pada mami. Basi banget keceriaannya saat mami berangkat, sebenernya dirinya ga kuat pisah dari mami. Mami yang setia nyiramin bunga di beranda depan, mami yang selalu bereksperimen sama resep-resep baru, mami yang kadang aneh tingkahnya, tapi itu mami Pipi, dan saat Pipi gadis itu memendam rindu yang amat besar pada mami!!!

Kenapa mami harus seminggu di Surabaya yah? Mantenan itu kan hanya sehari. Apa mami dan papi sekalian jalan-jalan? Aduh, jalan-jalan sih ga pa pa, mami juga butuh hiburan selain di rumah melulu. Tapi seminggu? Masih lima hari lagi? Pipi menangis lagi. Diraihnya tas sekolah, mengecek pe er sambil menangis. Untunglah ga ada pe er dan ulangan. Pipi menyimpan buku-buku pelajaran sesuai roster lalu rebahan lagi. Gadis itu benar-benar kehilangan tenaga. Mami, miss you so much! Baru dua hari ditinggal dan Pipi sudah seperti anak ayam kehilangan induk bertahun-tahun!

"Non Pipi .. telepon ..." Pipi terkejut mendengar ketukan di pintu kamarnya.
"Iya bi, bentar." Pipi menghapus air matanya, keluar kamar dan melesat ke tempat telepon berada.
"Ya halo siapa? Ini Pipi." seru Pipi. Dan suara dari seberang membuat air mata Pipi yang tadi dah berhenti keluar lagi. Itu mami!
"Mami!!!!!!!!!!! Pulang dong .. huaa huaa huaa huaa .. Pipi kangen!" tereak Pipi ga peduli sama bi Ijah yang terkaget-kaget. Pokoknya dirinya mau mami segera pulang!
"Pipi sayang .. iya iya .. mami disini juga ga bisa ngapa-ngapain, ingat Pipi sama Pedro. Besok mami pulang Pi! Mantenannya udah pagi tadi dan mami ga mau lama-lama lagi di sini, panas Pi! Lagian mami kangen sama Pipi." Pipi loncat-loncat kegirangan! Hore, akhirnya mami pulang juga besok. Setelah basa basi bentar Pipi nutup telepon.
Pedro muncul dengan tampang kusut. Pedro ketiduran! Tidur siang sampai malam begini? Duh, kebiasaan Pipi nular ke Pedro deh.
"Napah lu Pi?! Tereak-tereak kayak orang gila!" bentak Pedro.
"Woh bang Ped, besok mami pulang! Tiba di sini jam tiga sore. Asikkk Pipi kangen mami!" Pedro terbeliak.
"Hah? Kangen mami? Katanya seneng bisa bebas ngapain aja di rumah soalnya mami ga ada ... ternyata, anak mami jugak yah." ejek Pedro. Pipi mencibir, tapi dengan senyum manis mengembang. Gadis itu senang bukan main. Mami pulang lah, anakmu ga sabar menanti dirimu, dan oleh-oleh tentu saja.

Pipi kembali masuk kamar. Nyanyi-nyanyi senang, ayam tetangga yang dah pada bobok terjaga dan ikut berkotek heheheh. Pipi menyadari satu hal, ini lah rasanya bila anak dipisahkan dari ibunya. Bagaimana nasib anak-anak yang orangtuanya bercerai? Mereka ga mungkin mau memilih salah satu dari orang tuanya kan? Mereka kalau boleh memilih, akan memilih bapak dan ibu, mami dan papi, nyak dan babe atau mama dan papa untuk hidup bersama mereka, bukan salah satu dari mereka. Pipi sadar, dia mencintai mami dan papi amat sangat, demikian pula dengan kedua orang tuanya itu. Meskipun cara mereka menyampaikan sayang dan cinta mereka itu rada berbeda, kadang pedit, kadang cerewet, tapi itu adalah bukti sayang mereka ke Pipi dan Pedro. Ah mami, miss you so much! I'm nothing without you ... Pipi memeluk guling erat-erat, tertidur dengan pulas, besok mami pulang .. Pipi bahagia.

tuteh, 6 Maret 2003

Thursday, February 26, 2004

.:. JATUH CINTA LAGI ... .:.


Pipi menatap pantulan dirinya di cermin. Inilah Pipi, abg kelas 3 smp Angkasa, bentar lagi tamat smp dan bakal ngelanjutin sekolah ke smu Angkasa yang beratap satu yayasan dengan smp Angkasa yaitu Yayasan Angkasa. Pipi senyum-senyum sendiri, ngedipin mata, ngakak, cemberut dan tingkah aneh lainnya. Persis orang belajar akting deh. Akting obat panu maksutnya *cetakz, Pipi karetin pala Penulis :P*. Pipi tertawa puas. Ini hari Libur, Tahun Baru Hijriah. Pipi paling suka suasana begini, karena mami bakal libur nonton telenopelah, sibuk di dapur, masak. Mami memang suka masak, cobain resep baru yang rasanya aneh bin jijay. Pipi menghentikan aksi gokilnya dan keluar kamar menuju dapur.

"Haloo mi, masak apa nih?" tanya Pipi sambil deket-deket mami, aroma masakan mami memang mengundang selera. Mengundang liur meleleh, jijay!! Ayam tetangga pernah pingsan gara-gara menghirup aroma masakan mami dan papi pernah pulang dari kantor sebelum waktunya, gara-gara kompor yang dipakai mami masak meledak! Wahahaha, itu sih ga ada hubungannya yah?
"Rendang." jawab mami singkat. Pipi merasa ga puas banget sama jawaban mami yang super singkat itu. Mami ga cobain resep baru rupanya.
"Just rendang? Eh, hanya rendang kah mi?" tanya Pipi ga percaya. Mami mengangguk. Yah mami, masa rendang doang? Apa ga ada temennya yang lain, kayak sandal terasi, sayur bakar atau krupuk daun jendela? Atau selai kepiting andalan mami.
"Iya non Pi, hanya rendang, itu saja." sambung bi Ijah. Pipi kecewa. Yah mami, kalau masak kadang ga suka diganggu sih. Kadang mami kalau masak ribut sendiri, cabe kehabisan di kulkas, brambang abis dipakai Pedro ngasih makan ikan, merica ludes dipakai papi jadi alas sepatu, biar ga reumatik katanya. Hehehe, ada-ada saja deh aw.

Ya sudah, Pipi keluar dapur, namun cewek ceking itu balik lagi.
"Mami, bang Ped ma papi kemana?" tanya Pipi lagi. Mami nampak mencicip rasa masakan dan disambut tampang kecut.
"Pi, beliin gorengko di warung dong, abis nih persediaan mami ..." Pipi mesem. Mami ditanya bukannya menjawab malah balas nyuruh-nyuruh. Huh.
"Miiii gorengko itu ga ada, yang ada itu masako." protes Pipi.
"Eh anak kecil protes aja kerjanya. Goreng itu kan bagian dari masak! Pokoknya beliin gorengko, rebusko, kukusko dan yang mirip-mirip itu deh. Pulang dari warung baru mami kasih tau kemana papi dan Pedro pergi. Gih sanah cepet, eh, pakek duit Pipi dulu yah sayang ..." whuuu Pipi cemberut. Mami slalu gitu igh, kalau dihitung-hitung dah hampir sejuta duit Pipi yang tiap hari nya seribu dua ribu buat beli bumbu yang kurang atau buat beli tisu pas mami nonton telenopelah. Eh, dosa yah, sama orang tua ga boleh itung-itungan. Pipi akhirnya ke warung juga. Cepet-cepet, biar mami juga cepet ngasih tau kemana papi dan Pedro pergi.

"Ini mi .. nah sekarang kemana papi dan bang Ped perginya mi?" tanya Pipi langsung, to the point. Mami masih cuek masukin masako *tut, ngiklan* ke penggorengan trus bolak balik jungkir balik tuh rendang. Sip, mami tersenyum puas gitu nyicipin lagi.
"Maammmmmiiiiiiiii ... huwaa huwaa" Pipi mulai merengek. Mami seolah tersadar kalau disitu ada Pipi. Kebiasaan deh si mami.
"Eh Pi .. dari tadi disini sayang?" huuaaaaaa Pipi semaput. Eh, ga jadi semaput. Ntar ga jadi ceritanya dong hehehe.
"Mami!!! Bang Ped sama papi kemana?!" tanya Pipi untuk kesekian kalinya ga sabaran banget lihat tingkah mami.
"Oh, papi dan anak itu ke dermaga pi. Mancing ... syukur-syukur dapat cumi, kalau ga cumi paus atau bintang laut lumayan deh." Pipi rasanya mau muntah. Kepala pening, tanda-tanda epilepsi.
"Ya deh mi, Pipi ke sono yah. Eh mi ke dermaga Ende atau Ippi sih?" tanya Pipi lagi. Mami nampak berpikir sebentar.
"Hmmm ya chek saja toh, kalau ga ada di dermaga Ippi ya di dermaga Ende. Kalau ga ada di kedua dermaga itu, barangkali ke dermaga ikan, mancing ikan di sono hehehehe. Eh Pi, pakek motor saja, jangan jalan kaki, kasihan ... kasihan mataharinya nyengat cewek jelek kayak Pipi hihihi" goda mami. Pipi tambah mesem. Mami lagi kumat! Maka dengan segera si tomboy melesat keluar. Diambilnya kunci kontak dan menstater motor dan whuzzzzzzz. Untung papi dan Pedro tadi naik angkot. Jadi motor satu-satunya bisa dipakainya.

Pipi langsung ke dermaga Ende. Setelah parkirin motor dibawah pohon beringin, Pipi berjalan mendekati dermaga. Banyak juga yang mancing di hari libur. Pipi mencari-cari dimana papi dan Pedro berada, nah tuh dia. Topi badut papi kelihatan, disamping papi Pedro dengan tekantuk-kantuk nemenin.
"Piiiiiiiiii!!!!!!!" teriak Pipi kenceng, lebih kenceng dari suara guntur deh. Eh bukannya papi yang noleh, Pipi malah disamperin cowok! Kalau cowok itu selevel Komar sih ga ngaruh. Nih cowok cakep abis, super tinggi, giginya putih karena sering kumur pakai pemutih baju hihihi.
"Yaaaa ... gueeeeee" jawab cowok itu langsung berdiri di depan Pipi. Pipi bengong, ileran, mata nanar siap menerkam :P Sumpah, Pipi dibikin ketar ketir ma cowok di depannya ini.
"Ngg maksutnya manggil papi gue kok, tuh di ujung sana, yang make topi badut merah ... disamping papi gue itu badutnya hehehe" beuh Pipi, Pedro disamain ma badut!
"Ooh, kirain manggil gue. Nama gue Piko ..." cowok itu tanpa basa basi mengulurkan tangannya. Pipi menyambut uluran tangan cowok itu. Ah, Pipi meleleh rasanya. Ini cowok punya sesuatu yang bikin Pipi jadi ga karuan. Pipi jadi persis campuran cap cay, campur aduk deh perasaannya.
"Hi Piko ...gue Pipi." mereka berjabat tangan erat. Langsung akrab dan Pipi ga jadi ke tempat papi, melainkan duduk di samping cowok itu.

Ngobrol ngalor ngidul ma Piko bikin si Pipi sejenak lupain si papi dan Pedro. Mereka ketawa ketiwi, cerita apa saja. Mulai dari soal sekolah sampai soal geng REWO nya Pipi.
"Eh? Jadi elu Pipi yang anak smp Angkasa itu yah? Aduh, gue kan sekolah di smu Angkasa Pi. Gue kelas satu di situ." kata Piko semangat. Pipi lebih semangat lagi. Bisa ketemuan terus dong. Gedung sekolah smp dan smu Angkasa kan berada di satu kavling gitu. Satu kompleks.
"Masa sih? Kok gue ga pernah liat elu yah?" Pipi, polos banget sih jadi orang. Ya jelas lah, Piko kan di smu-nya. Mana bisa liat-liatan.
"Hu`uh hehehe." mereka tertawa lagi. Ga terasa ngobrol sekian lama, ga ada ikan yang nyangkut di pancingan Piko dan mereka malah lebih asik ngobrol ketimbang mancingnya. Lagian Piko ngumpannya pake ulet yang ada kurapnya sih, mana mau si ikan nyangkut? Takut ketularan kurap! Hihihi.

Tiba-tiba ada yang menjawil bahu Pipi. Pipi menoleh. Papi dan Pedro yang tampangnya persis orang kalah perang berdiri di belakangnya. Pipi berdiri, Piko ikutan berdiri.
"Eh papi, dah selesai mancingnya? Mau pulang pi? Dapat apa?" tanya Pipi cuek. Piko cengengesan persis kuda lihat rumput.
"Siapa dia Pi?" tanya papi sok wibawa, beuh si papi. Sedangkan Piko tambah lebar cengengesannya, garuk-garuk pantat yang kegatelan.
"Temen Pipi ... Piko, ini papi dan itu bang Pedro." kata Pipi. Piko nyalamin papi dan Pedro bergantian, ga lupa kasih senyum yang paling spesial dengan gigi putih mengkilat *cling*
"Oh temen, kirain gelandangan, soalnya dari tadi cengar cengir ga karuan gitu. Hehehehe. Ayo pulang." duh papi tega deh ngata-ngatain anak orang. Pipi ngakak. Piko langsung merubah expresinya lebih serius.
"Papi duluan deh, Pipi kan bawa motor sendiri." jawab Pipi. Selain itu, Pipi masih ingin berduaan ma Piko. Wadah, Pipi ingin berduaan ma Piko!
"Ya sudah kalau gitu. Papi duluan sama abangmu naik angkot." papi narik tangan Pedro yang lemes. Pedro melambai lemah ke arah Pipi. Ga ada gairah hidup sama sekali tampang Pedro.

Pipi melambai jahil ke arah Pedro dan duduk kembali di dermaga temenin Piko mancing. Mereka lalu lanjut ngobrol lagi, cerita lagi, ketawa lagi. Buntut-buntutnya Pipi dan Piko tukeran nomor hp dan janji saling sms. Piko juga nanyain nomor telepon rumah Pipi. Katanya siapa tau tengah malam bisa godain Pipi hihihi. Hari itu Pipi seneng banget. Seneng ketemu Piko yang ternyata sekolahnya di smu Angkasa, seneng soalnya Piko itu cakep abis. Lagian Piko juga usianya ga beda jauh dari Pipi, ngomong apa-apa nyambung banget. Pipi suka. Pipi suka Piko. Woo hoo!! Pipi senyum-senyum centil.

Setelah perut Pipi terak-tereak persis konser Mr. Big, Pipi ngalah juga sama perut, dia pamit duluan sama Piko. Pulang. Lagian aroma masakan mami bikin Pipi ileran juga. Piko mengiyakan dan berjanji pasti menghubungi Pipi lagi. Cewek kita yang tomboy ini pulang dengan sejuta perasaan berbunga-bunga. Doh, mimpi apa yah semalam sampai bisa ketemu cowok cakep gitu. Dunia, sempitnya dirimu hehehe. Sambil bersenandung kecil Pipi masukin motor ke halaman samping dan masuk rumah. Di meja makan papi, Pedro, mami dan bi Ijah baru selesai makan.
"Eeeehhhh dah selesai yah acaranya." Pedro yang sudah pulih lemesnya mulai deh godain Pipi.
"Sudah .. beres ... sukses!!" Pipi cuek ngambil piring trus mengisinya dengan nasi dan lauk. Pipi duduk manis trus makan dengan lahap. Pikirannya ga disitu, melainkan melayang-layang ke Piko. Kapan yah bisa ketemuan lagi? Pipi ngayal deh sampai salah nyendokin nasi ke idung, hehehe.

Malamnya pas abis belajar hp Pipi berbunyi, sms. Ouw ouw, dari Piko! Pipi melonjak kegirangan. Hatinya berdebar-debar membaca isi sms. Oh, Piko mo nelpon. Cihuyyy Pipi melesat ke luar kamar, berdiri persis patung di dekat pesawat telepon. Pedro ga keliatan, belajar kali. Papi dan mami kayaknya sudah masuk kamar dan bi Ijah asik pelototin tivi dengan mata setengah terpejam. Semenit kemudian .. kringgggg ... segera diangkatnya handle telpon.
"Oh .. kumsalam .. hi Piko hehehe ada apa telpon malam-malam begini nih .." sapa Pipi dan berbasa basi bentar.
"Ya pengen nelpon aja. Gue kangen pengen denger suara Pipi lagi hehehe." jawab Piko santai dari seberang. Pipi hatinya langsung dagdigdug.
"Oh yah? Emang suara Pipi gimana .. bagus yah .." beuh Pipi, siapa pun tau kalaw suara Pipi itu ...
"Cempreng hehehehe" jawab Piko to the point. Wew, Pipi langsung cemberut. Emang sih suaranya cempreng banget. Ga enak buat didenger. Ngomong saja fals *itu kata Pedro* apalagi nyanyi.
"Wahahaha ... emberrr." duh, untung elu yang ngomong Pik, coba kalaw orang lain, dah gue remukin mulutnya! Batin Pipi.
"Eh Pipi, besok ketemuan yah. Pulang sekolah gue tunggu di halte depan sekolah yah! Gue udahan dulu, ngantuk nih ... tatah ..samlekum." kata Piko akhirnya.
"Oh boleh, besok siang yah .. kumsalam .." jawab Pipi. Sebenarnya Pipi masih ingin mendengar suara Piko, masih ingin ngobrol dengan Piko meskipun hanya lewat telepon, tapi malam kian merambat, waktunya bagi anak sekolah untuk tidur! Pipi meletakan handle telpon dan masuk kamar lagi.

Di kamar Pipi rebahan di karpet sambil denger lagu. Bisa ga yah orang jatuh cinta setelah putus cinta? Bisa ga yah kalau Pipi jatuh cinta pada pandangan dan obrolan pertama? Pipi jatuh cinta sama Piko ... Pipi menatap langit-langit kamar yang putih. Terus melamunkan Piko. Besok Piko minta ketemuan, apa itu berarti Piko punya perasaan yang sama dengannya? Apa Piko juga bisa jatuh cinta pada pandangan pertama? Apa Piko cinta sama dirinya? Ini rasanya hampir sama saat Pipi jatuh cinta sama Rahul, tapi, rasanya lebih manis dan penuh warna. Beribu pertanyaan bermain di benak cewek itu. Dan lambat laun Pipi tertidur. Ga di ranjang, tapi di karpet.

Besoknya Pipi ke sekolah dengan semangat baru. Sengaja ga diceritain dulu soal Piko ke temen-temen geng REWO nya. Takut si Phia bocorin berita hangat itu ke mana-mana. Kalau sampai angin pembawa berita itu tertiup ke smu Angkasa, gimana dong. Tengsin dong ma Piko. Ntar dikira Pipi ke ge eran. Kan semua baru seandainya Piko juga jatuh cinta ... kalau ga? Makanya Pipi diam-diam saja. Bahkan cenderung lebih semangat ngikutin pelajaran. Semua pertanyaan guru dijawabnya, tapi kadang ngawur gitu.
pak Samsu : mengapa bumi ini bulat?
Pipi : [angkat tangan] karena kalau kotak-kotak namanya kubus.
murid lain : geerrrrrrrrrrrrrrr [ngakak]
pak Samsu : uhm, bagus Pipi. Lalu apa artinya malu bertanya sesat di jalan?
Pipi : ga ada artinya pak, tapi kalau dipaksa juga, istilahnya gini, malu menjawab sesatkan orang lain dong.
murid lain : gerrrrrrrrrrrrrrr [ngakak pakek banting diri]
Begitu terus, guru bertanya, murid menjawab. Tapi jawaban Pipi ngaco smwa. Namanya orang lagi jatuh cinta, wajar dong hehehehe.

Pulang sekolah Pipi memisahkan diri dari geng REWO dengan alasan masih harus ke perpustakaan dan ada keperluan penting lainnya. Emergency. Untungnya Phia, Gita dan Rara ga bertanya macam-macam. Pipi menarik napas lega. Begitu anak-anak smp Angkasa menghilang satu persatu, Pipi berjalan menuju halte. Ouw ouw, disana Piko dengan santainya lagi duduk nungguin Pipi.
"Hei Pipi!!" Piko melambaikan tangannya. Pipi tersenyum dan berlari kecil ke arah Piko, kunciran rambutnya ikut bergoyang-goyang.
"Dari tadi Piko?" tanya Pipi trus ikutan duduk di samping Piko, di besi tua halte yang kotor. Ga pa pa deh kotor, orang sama Piko ini kok :P
"Barusan juga kok. Oh ya Pi, ini gue mo ngasih ini ke elu." sikap Piko yang langsung pada sasaran itu bikin Pipi suka. Hatinya berdetak keras. Bungkusan kecil itu langsung diterimanya.
"Apa ini Pik?" tanya Pipi penasaran.
"Nanti aja dibuka di rumah yah ... pokoknya isinya uhm ... mewakili perasaan gue ke Pipi ... meskipun kayaknya terlalu cepat, tapi gue harus." jelas Piko.
"Oh yah? Oke, nanti gue buka di rumah hehehe. Kalau gitu gue pulang dulu yah jalan kaki. Piko pulangnya gimana?" tanya Pipi.
"Gue harus naik angkot. Jauh juga sih hehehe. Oke Pi. Bye, see you sweety." mendengarnya jantung Pipi mau berhenti berdetak rasanya. Tweety? Eh sweety? Ouw ouw!! Pipi cepat-cepat pulang ke rumah. Jalannya persis orang dikejar setan gitu.

Sampai di rumah Pipi ga pakai basa basi ma mami dan bi Ijah lagi. Pipi langsung masuk kamar dan membuka bungkusan itu tanpa melepaskan sepatu. Isinya, vcd Kahitna! Pipi terlonjak kegirangan. Di kertas vcd ada tulisan, gini deh tulisannya.

Pipi,

Sorry yah kalau terlalu cepat rasanya. Pipi mungkin kaget, tapi gue jatuh cinta sama Pipi. Jatuh cinta .... Kalau memang Pipi punya perasaan yang sama, please let me know, just missedcall me ... okay?

Luv, Piko.

Pipi histeris kegirangan. Yess!! Ternyata Piko pun punya perasaan yang sama dengannya. Huhuhuhu, Pipi joged-joged India sendiri, ketawa ketiwi di depan cermin sambil nyanyi-nyanyi. Di list lagu ada satu lagu yang dilingkari Piko. Andai Dia Tau? Oh Piko, gue tau sekarang, batin Pipi.
Aih, Pipi jatuh cinta lagi, jatuh cinta pada pandangan pertama, Piko. Hati Pipi dipenuhi bunga dan bahagia. Happy banget dia. Langsung disetel vcd itu, Andai Dia Tau ...

Bilakah dia tau apa yang tlah terjadi
Semenjak hari itu hati ini miliknya

Mungkinkah dia jatuh hati
Seperti apa yang kurasa
Mungkinkah dia jatuh cinta
Seperti apa yang kudamba

Bilakah dia mengerti apa yang tlah terjadi
Hasratku tak tertahan 'tuk dapatkan dirinya

Mungkinkah dia jatuh hati
Seperti apa yang kurasa
Mungkinkah dia jatuh cinta
Seperti apa yang kudamba

Tuhan yakinkan dia
'Tuk jatuh cinta
Hanya untukku .. Andai dia tau ...

Pipi jatuh cinta lagi!! Woo hoo!! Langsung di missedcall nya hp Piko. Sebenernya pengen langsung bilang ke Piko kalau dia juga punya rasa yang sama dengan cowok itu, tapi Pipi ikutin saja permainan Piko. Just missedcall. Dan berikutnya Piko membalas dengan satu sms, -->Pi, Luv you-Piko. Pipi tersenyum bahagia. Penulis juga bahagia hehehe.

tootyee, 23 Februari 2004

Friday, February 20, 2004

.:. REBONDING?? .:.


Smp Angkasa, tempat Pipi bersekolah nampak ramai. Iya lah, lha wong jam istirahat kok. Saatnya ke kantin, perpustakaan, duduk santai di taman sekolah atau bahkan menghadap guru BP! Set dah, para guru, apalagi guru BP dianggap yang paling reseh sama murid. Selalu mencari-cari kesalahan para murid. Sebenarnya maksudnya kan baik, namun kadang terlihat terlalu mengada-ada. Sampai pernah bon utang di kantin dianggap surat cinta! Yee, itu mah kelainan namanya, hehehe. Seperti biasa, geng REWO nampak asyik ngerumpi di kantin. Gita yang paling bersemangat, semangat makan namanya, hihihi. Cewek gendut itu memang selalu histeris melihat makanan. Hebatnya, dengan mulut penuh pun Gita bisa sambil bercerita, busyet dah.

"Phia, mending elu ke salon kakak gue deh. Salon baru sih, tapi pengalamannya segudang!" usul Gita, ga ada angin ga ada hujan tiba-tiba saja Gita ngomong gitu.
"Emang kakak lu yang mana lagi Git?" tanya Pipi.
"Bukan kakak kandung sih, tetangga, kak Nana." jawab Gita, masih dengan mulut penuh tahu isi!
"Nenek ajaib lu, mang ngapain gue ke salon?!" bentak Phia, gemas sih. Rara tertawa pelan.
"Rebonding! Ngelurusin rambut lu yang kriting gitu. Biar kumbang ga suka nyangkut lagi kalau sedang terbang rendah... wahahahah." Gita tertawa geli, Pipi dan Rara ga tahan akhirnya ikut tertawa. Phia mesem.
"Hahahaha, aduh Phia, gue ga tau deh tampang lu bakal kayak apa kalau rambut yang jadi trade mark itu dilurusin .. hihihi." sambar Pipi. Phia menyeruput fanta orangonya cuek.
"Udah udah .. rambut kok dipikirin. Yang penting hatinya kan Phi?" hibur Rara, tapi masih dengan senyum dikulum. Obrolan itu menggantung begitu saja soalnya lonceng tanda jam istirahat selesai berdentang. Dengan malas-malasan mereka kebali ke kelas.

Pulang sekolah Pipi ikut Komar ke rumah anak itu dulu, sedangkan geng REWO pulang ke rumah masing-masing. Sebenarnya Pipi ingin langsung pulang saja, namun tadi Komar sempat sampaikan amanat ibunya, Pipi disuruh singgah ke rumah dulu.
"Mang ada apa Mar?" tanya Pipi disela langkah kaki mereka memasuki gang sempit nan kotor, daerah pemukiman rumah Komar.
"Ibu ingin menitipkan kue buat mami lu. Kebetulan hari ini ibu libur, ga nyuci baju di rumah majikannya, jadi ibu memilih inisiatif membuat kue. Jumlahnya sih banyak, sekalian mau dijual sama adik gue. Ibu nyisihin sekotak buat mami." jelas Komar panjang lebar.
"Oh gitu. Asik hehehe." Pipi menyambutnya dengan gembira. Sesampai di rumah Komar, ibunya telah menanti dengan satu tas kresek berisi dos kue. Diserahkannya tas itu ke Pipi.
"Wah .. terima kasih banyak yah bu." ujar Pipi tulus.
"Iya, sama-sama Pi. Justru ibu yang harus banyak berterima kasih, soalnya mami selalu mengirim makanan ke sini dan ga ada yang ibu balas." kata ibunya Komar penuh senyum bahagia.
"Baiklah bu kalau begitu, Pipi pulang yah." Pipi pun pulang. Sendiri, berjalan kaki dibawah sengatan sinar matahari yang ganas.

Tiba di rumah Pipi menyerahkan amanat ibunya Komar ke mami yang disambut dengan air mata haru. Sah mami!! Eh, ga ding, itu gara-gara mami lagi nonton telenovela. Pipi senyum kesal lihat tingkah mami.
"Aduh Pipi, tadi ga lupa bilang terima kasih kan?" tanya mami. Basi ah si mami.
"Ya bilang dong mi, masa ga bilang sih? Kelewatan deh." jawab Pipi sambil lalu terus ke kamarnya. Mami ga kasih komentar lagi, larut lagi nonton telenovela. Yah, hobi mami yang ga bisa diganggu ya kalau lagi nonton telenovela. Kalau pagi dan sore nyiram bunga, ngerawat bunga. Kalau selesai masak, mami cepat-cepat hidupin tivi, back to telenovela lagi. Beuh, Pipi, Pedro dan papi sampai bosan denger lagu-lagu latin yang didendangkan mami. Bukannya apa-apa sih, kadang suka ngaco tuh bahasanya, amburadul. Masa backsoundnya rosalinda, liriknya sanua kota Ende? Apa ga aneh tuh. Hihihihi.

Selepas ganti baju dan makan, niatnya Pipi mau tidur siang. Lumayan, sore nanti ga ada les privat. Ga ada rencana ke mana-mana. Kalau tidur siang, bangunnya sore. Habis mandi sore Pipi biasanya baca-baca Gober di ruang tamu. Kadang ke kamar Pedro ngeledekin abangnya itu. Tapi kalau Pedro kedatangan teman-temannya buat main basket, Pipi hanya bisa duduk sambil baca Gober deh.

Pas Pipi hampir teler, hampir tiba di ruang mimpi, terbang sama bidadari, suara bi Ijah menggelegar diiringi ketokan di pintu kamarnya yang ga kalah kerasnya. Pipi terlonjak kaget. Jantungan, mata nanar lihat kanan kiri. Keringat membasahi kaosnya.
"Non Pipiiiiiiiiiii teleponnnnnnnnnn dari non Phiaaaaaaaaa ..." jreng jreng, bi Ijah hebat bener kalau lagi tereak-tereak gitu, persis tarzan latihan nyanyi. Otak Pipi mulai tersadar, normal. Oh telepon! Pipi beranjak dari tempat tidur trus keluar. Matanya merah.
"Idih, non Pipi baru habis maskeran yah?" tanya bi Ijah asal.
"Yee enak ajah! Kaget tauk dibangunin bi Ijah pake treak-treak gitu. Eh .. emang apa hubungannya mata merah sama masker?" tanya Pipi penasaran.
"Nganu non hehehe, siapa tau ada produk baru, masker cabe kriting gitu heheheheh..." Whuuu ... jayus ah. Pipi mencibir trus ngambil handle telpon.

"Yah Phi .. ada apa?" tanya Pipi to the point. Sedikit kesal sih, orang lagi enak-enak tidur siang kok dibangunin. Mending penting!
"Aduh Pi ... elu sibuk ga? Anterin gue dong, ke salon tetangganya Gita tadi." ajak Phia. Phiew, Pipi menarik napas panjang. Ke salon?
"Duh Phi, bilang dari tadi dong kalau mau ngajak gue ke salon. Ya udah, gue cuci muka dulu. Sepuluh menit lagi gue jemputin elu yah. Bye." Pipi menutup telepon, tut. Sambil ganti baju Pipi mikir. Kenapa Phia tiba-tiba minta diantarin ke salon? Emangnya si Phia mau ngikutin saran Gita tadi? Ngelurusin rambut? Wah, kemajuan nih. Dulu-dulu Phia mana mau ngelurusin rambut, mahal katanya. Mahal sih, sekali rebonding aja bisa empat ratus ribu. Itu untuk rambut yang ikal-ikal bagus kayak punyanya penulis huehue :P Tapi rambutnya Phia kan kriting abiz?! Kriting habis-habisan gitu! Sampai dikatain Gita, kumbang aja kalau lagi terbang rendah pasti nyangkut. Ah, terserah deh, yang penting jemputin Phia dulu.

Naik angkot Pipi ke rumah Phia. Disana Phia sudah siap-siap. Mamanya Phia juga siap-siap. Loh, kok mamanya Phia ikut-ikutan?
"Ngg .. tante mau ke salon juga?" tanya Pipi sok tau.
"Oh, bukan Pi. Tante mau ke rumah sodara." oohhh, syukurlah. Kalau mama Phia ikut, kan mending Pipi balik lagi ke rumah, tidur siang lagi. Maka berangkatlah kedua cewek abg itu ke rumah Gita. Sambil jalan Pipi bertanya, kenapa Phia sampai tiba-tiba mau ngelurusin rambut? Kata Phia, Gita sempat bilang kalau harganya murah, cuman dua puluh ribu! Wow, Pipi kaget. Dua puluh ribu? Masa sih? Di sana Gita lagi melakukan aktifitas yang paling digemarinya, makan! Tepatnya, lagi ngemil kripik singkong sambil nonton vcd.
"Hei, kalian berdua, mau kemana?" tanya Gita dengan mulut ga berhenti mengunyah sedetik saja.
"Mau ke salon yang elu bilangin siang tadi." jawab Phia malu-malu. Pipinya memerah, duh Phia, malu yah kalau rambutnya dilurusin?
"Oke!! Yuk, rumahnya deket kok, dua rumah dari sini." Gita minum dulu. Trus ketiganya berangkat deh ke salon yang diceritain Gita.

Nampak rumah, sederhana dengan pintu ditutup. Gita mengajak kedua temannya mengetuk pintu. Keluar seorang ibu muda, cantik sih, namun cantiknya kelewat dipaksa. Alisnya dicukur, lipsticknya merah menyala. Mata Pipi sampai bilang *silau man!* itu yang namanya kak Nana. Kak Nana mengajak mereka masuk. Basa basi sebentar Gita langsung mengutarakan maksut kedatangan mereka. Dalam hati sih Pipi sudah meragukan. Ini salon kok ga ada *perangkat* salonnya sama sekali? Gita, yang bener aja dong!
"Ooohh mau ngelurusin rambut? Boleh boleh, karena rambut adek ini kriting banget persis cabe, tante panasin seterikaan dulu yah ..." dan *dhuwarrrrrr* kaget lah mereka bertiga. Phia langsung pucat seketika. Gita kaget sampai tubuhnya mengkeret di kursi. Pipi memandangi mereka berdua satu per satu. Sambil berbisik Pipi bilang,
"Pst, udah, kita pulang saja. Kasihan Phia." Gita jadinya serba salah. Ibarat makan buah simalakama. Tapi lebih kasihan lagi si Phia, hampir pingsan dia nampaknya.
"Lalu bagaimana dengan kak Nana nya dong .. duhhhhhh" ujar Gita, bajunya basah karena keringat. Takut juga dia. Dan cling *ada lampu nyala di atas kepala Pipi* cewek tomboy itu dapat ide.
"Udah, gue yang beresin. Kalian berdua siap-siap bilang Samlekum yah, gue ke dalam dulu." maka dengang langkah pasti Pipi masuk ke dalam rumah kak Nana. Dia lagi mau nyolokin seterikaan.
"Eh bu, lain kali saja yah ngelurusin rambutnya, soalnya tiba-tiba ada sms, papa nya Phia masuk rumah sakit." tanpa menunggu si ibu kasih komentar atau menjawab, Gita dan Phia sudah koor duluan.
"Assalamu'alaikum .. pulang dulu kak Nana ..." dan ketiganya ngacir keluar rumah mungil itu. Sampai di rumah Gita, meledaklah tawa Pipi. Huwahahaha.

Pipi ngakak sampai mengeluarkan air mata dan sakit perut! Phia mesem terus dari tadi, sedang Gita mau ga mau ikutan tertawa.
"Elu gimana sih Git? Katanya murah, bagus, dipercaya. Huh, buang-buang energi saja! !@#$%^&*()_+" omel Phia panjang pendek. Pipi masih ngakak.
"Lagian elu juga si Phia, kan dah tauk kalau rebonding itu ga ada yang harganya murah meriah seperti itu. Mahal tauk kalau rebonding itu." seru Pipi.
"Yeeeeh, kan itu Gita yang ngasih info, gue sih ikut saja, mumpung ada yang murah!" balas Phia membela diri.
"Ya deh gue minta maap Phi. Ga ada niat buat ngerjain elu. Gue sih berdasarkan cerita anak-anak kampung sini. Mereka bilang, kak Nana buka salon, bisa rebonding, harga murah! Gue langsung inget rambut elu Phi hehehe, sorry yah .. ga ada niat apa-apa kok. Asli gue sendiri juga ga tau kalau kak Nana pakek setrikaan gitu hihihi" Phia akhirnya ikutan ngakak. Ga sangka dia kalau rambutnya bakal tersentuh seterikaan yang panasnya minta ampun.
"Lagian Phi, rambut elu itu cocok ma tampang. Kalau dilurusin, wekz, ga tau tampang lu jadi kayak apa wahahaha .. trus, kriting nya rambut elu itu malah dah jadi maskot geng REWO, selain Gita ... yang gendut hieheiehi" Pipi masih cekikikan nginget gimana pucatnya Phia di rumah kak Nana tadi.
"Loh .. rambut elu kan juga jadi maskot geng REWO, kunciran yang ga pernah diganti-ganti heiheiehikkk" sambar Phia. Ketiganya ngakak kompak.

Walhasil sore itu Phia dan Pipi pulang. Ga ada hasil sama sekali. Pipi langsung ke rumah. Selesai mandi sore, Pipi minta dibikinin teh panas sama bi Ijah. Ngambil dua Gobernya, duduk di ruang tamu. Bi Ijah datang dengan satu cangkir teh panas dan selepek kue. Oh, Pipi ingat, pasti itu kue dari ibu nya si Komar.
"Trims bi .." kata Pipi.
"Sama-sama non hehehe .." bi Ijah kembali ke dapur. Dari depan teras Pipi mendengar senandung lagu teluk bayur yang dinyanyikan mami. Oh, rutinitas mami, nyiram bunga. Dari belakang rumah didengarnya suara bola basket yang di drible. Oh, bang Pedro lagi main basket ma teman-temannya. Papi kemana? Oh, papi pasti lembur lagi di kantor. Pipi tenggelam dalam bacaannya. Sebentar kemudian tawanya mulai terdengar, menanggapi kekonyolan paman Donald dan personel Gober bebek. Hihihii ... Hidup Pipi kembali berjalan seperti biasa. Kadang Pipi ngakak, bukan karena ulah para bebek ajaib di komik, melainkan mengingat kejadian tadi di rumah kak Nana!!! Tsah, salon tanpa perangkat seterika bo .. seterika!!!! .. hihihihi. Pipi ngikik lagi.

Pesan : Jangan percaya sama sesuatu yang murah. Belum tentu berkualitas bukan? Makanya telitilah dulu barang yang anda beli, ada tulisan *TUTEH* ga? Kalau ada, silahkan dikonsumsi ... *kalem*

tootyee. 17 Februari 2004

Sunday, February 15, 2004

.:. NGALOR NGIDUL BARENG PIPI .:.


Pipi nampak lagi kebingungan. Tepatnya pura-pura seperti orang kebingungan, daripada bengong. Keluar masuk kayak ingus! Ingus aja bisa capek, tapi Pipi ga ada capek-capeknya masuk keluar terus dari tadi. Dari teras depan ke ruang tamu, terus ke ruang makan dan dapur, langsung ke halaman belakang ngedrible bola basket Pedro, ngeshoot ke keranjang belanja mami di tiang wc :P trus balik lagi ke teras depan melewati dapur, ruang makan dan ruang tamu. Bi Ijah yang lagi memasak geleng-geleng selendang melihat ulah putri majikannya itu. Hari ini hari Minggu, Pipi ditinggal sendiri di rumah. Papi nganterin mami ke arisan keluarga dan Pedro entah kemana batang hidungnya, ga nampak dari pagi tadi. Main bareng Kevin kali.

"Non Pi .." akhirnya bi Ijah ga tahan juga. Dipanggilnya Pipi. Pipi menoleh. Niatnya ke halaman belakang untuk ke sekian kali tertunda sesaat.
"Ya bi .. ada apah?" tanya Pipi lugu. Bi Ijah nelan ludah.
"Nganu non .. nganu .." Pipi mesem. Beuh bi Ijah!
"Bi Ijah, kenapa dengan nganunya?" tanya Pipi lagi, lebih lugu dari tadi.
"Yeee enon .. nganu non .." Pipi tambah mesem.
"Bi, nganu suka nganu yah? Makanya jangan nganuuuuuuu emberrr. Kenapa sih bi? Ada perlu apa?" tanya Pipi lagi. Bi Ijah matiin kompor setelah ngangkat tumisan sayur dari wajan.
"Nganu, enon kok dari tadi mondar mandir terus. Palentin kan sudah lewat!" kata bi Ijah akhirnya.
"Lah bibi .. apa hubungannya palentin sama saya?" kali ini Pipi nangkring di kursi dapur, menghadap meja dapur, mengharapkan si bibi yang baik hati ini mau membuatkan segelas gede es teh atau syrup.
"Soalnya kemaren pas mau palentin enon kan mondar mandir ga karuan gini hehehe ... kenapa non? si Rahul cari gara-gara lagi?" tanya bibi antusias. Oh.
"Ga lah, bang Rahul itu sudah bahagia sejahtera sentosa bareng cewek barunya. Lagian ga ada bang Rahul dalam otak Pipi kok bi. Pipi mondar mandir itu lagi iseng ajah. Bang Ped entah kemana, papi sama mami keluar. Pipi ga punya obyekan untuk dijahilin!" sembur Pipi. Bi Ijah terkekeh.
"Ya udah non, ngapain pusing-pusing? Jahilin bibi ajah hehehe ..." Pipi tersenyum. Bi Ijah mah ... ga enak buat di jahilin. Bi Ijah segera membuatkan segelas es syrup buat Pipi.
"Thanks yah bi .. dah selesai masak kan? Ngobrol yuk?!" tawar Pipi. Yeah, tak ada rotan akar pun jadi, ga ada keduanya, daun pun jadi huehuehue.
Walhasil bi Ijah dan Pipi duduk santai di halaman belakang, duduk di bangku panjang sambil ngemil ranting dicolek coklat (persis mr. Bean, oh my god!) dan dua gelas es syrup.

"Bi, betah ya kerja ginian?" tiba-tiba saja pertanyaan itu meluncur begitu saja tanpa Pipi sadari.
"Maksut non Pipi?! Oh .. jadi pembantu rumah tangga gini? Ya betah lah non. Habis mo jadi striptis, bodi ga oke. Mo jadi sekretaris, tampang dan otak ga menunjang. Padahal dulu di kampung, bibi pernah jadi Miss Ndeso loh!" Pipi tergelak. Duh si bibi, apa gara-gara tinggal serumah sama orang-orang yang otaknya eror semua ya, otaknya jadi ikut-ikutan eror!
"Woooo Miss Ndeso! Pasti hanya terjadi dalam mimpi nih!" tebak Pipi.
"Iyah .. hehehe" aku bi Ijah malu-malu persis meong .. nguik :P
"Bibi sih sebenarnya lebih suka di desa. Tinggal sama anak, nggarap sawah dan berkebun. Tapi bibi masih betah disini non. Senang sama mami dan papi yang baik-baik, meskipun mami lebih sering nonton telenovela hehehe, eh, jangan dilaporin ke mami loh non!" wanti-wanti bi Ijah. Pipi mengangguk.
"Lagian, kalau bibi pulkam, alias pulang kampung, bibi ga tega sama non Pipi dan Pedro. Apa bisa masak sama beres-beres rumah? Mami juga kasihan kan, harus mengurusi semuanya sendiri. Jadi .. yah ... bibi disini dulu deh." terang bi Ijah bijak. Pipi manggut-manggut.
"Mau sampai kapan dong bi .." tuntut Pipi.
"Sampai penulis bosan kali ye non hihihihi" keduanya cekikikan. Penulis ikut cekikik .. hobi sih :P

Obrolan mereka ngalor ngidul kesana kemari persis monyet kehilangan induk. Sampai pada topik politik yang lagi hangat-hangatnya.
"Hu`uh non, akbar tanjung bebas, negara masih kayak gini-gini ajah ..." tanggap bi Ijah. Jangan salah, biarpun prt, bi Ijah suka ikut-ikutan mami nonton telenovela, yang kadang ada sisipan beritanya itu.
"Wah bi, Pipi ga ngerti politik. Yang Pipi tau, sekolah yang bener, bergaul yang bener, biar negara ga tambah ancur .. tul ga bi?" bi Ijah mengangguk setuju.
"Iyah non, daripada enon kayak si Rusti itu. Huh ... disuruh sekolah ga mau, malah sukanya ngumpet di warung pojokan gang itu." Pipi mengingat-ingat. Rusti? Rusti yang mana yah?
"Rusti siapa bi?" tanya Pipi.
"Rusti, si Rukmana! Anaknya pak Cahyo itu. Sekarang dapat gelar Rusti. Ga tau siapa yang kasih julukan Rusti. Emang Rusti itu ada artinya yah non?" tanya bi Ijah. Ya oloh .. si Rukmana, teman main Pipi dulu. Emang sekarang pamornya dah naik, sampai tenar gini?
"Ga ada sih bi. Itu hanya julukan .. ga ada artinya sama sekali."
"Oh gitu .. paling bentar lagi juga hamil tuh anak! Bergaulnya bebas banget non! Semua preman kampung pada deket sama dia. Menor abis loh non. Padahal usianya kan blum seberapa. Sepantaran non Pipi kan? Coba disejajarkan, non Pipi masih lugu belia dan gampang ditipu gini, si Rusti nampak bagai ibu-ibu yang mo ikutan arisan!" bleh .. masa Pipi dibilang lugu sih? Gampang ditipu lagi. Hih bi Ijahhhh pelecehan!
"Pst, jangan gosipin orang bi .. gosipin Pipi sajah hehehe" mereka ngakak berdua. Minggu siang yang panas itu jadi menyenangkan.

"Eh non, Minggu gini apa ga pergi-pergi bareng geng REWO?" celetuk bi Ijah kemudian. Pipi menggeleng.
"Lagi ga ada acara bi. Ga ada lagi jumpa fans hihihih ... lagian bosan bi." jawab Pipi.
"Ya pergi ke salon aja non, ajak si Phia hihihi .. ngelurusin rambutnya .. hihihi" wahahahah Pipi tergelak.
"Bi .. kasihan yang ngelurusin rambutnya, bisa stress sama rambut kriting abis gitu! wahaahaha ... lagian, kalau ga kriting, rasanya kurang pas deh sama Phia hehehe" bi Ijah ngakak.
"Iya non, itu rambut kalau ada lebah lewat, nyangkuttttt." wahahaha, keduanya tergelak lagi.
"Btw bi .. kalau ga ada Phia ga lengkap deh rasanya geng REWO. Biang hebohna di dia, biang cerewetnya di dia .. addddaaaa ajah bahan omongannya." cerita Pipi.
"Iyah, bibi sampai heran loh kalau lihat geng REWO ngumpul di sini, yang kedengaran suara si Phia saja. Apa ga melepuh tuh bibir? hihihi .. beda sama Rara yah non, Rara pendiam sekali ... bibi sampai kasihan, jangan-jangan nih anak budeg nih. Hihihi." Pipi tertawa. Rara memang pendiam banget. Ga ngomong kalau ga diajak ngomong. Kayak ikan yang ga termakan kail kalau ga ada umpannya.
"Yang satu lagi tukang makan! Si Gita tuh non, hebat! Ngomong sambil makan pun bisa hhehehe .. teman-teman non Pipi lucu-lucu .. aneh-aneh, tapi baik semua yah ... Sama-sama bantuin Komar .. dulu itu .." Pipi teringat Komar. Komar saat ini nampak beda. Lebih fresh! Beban ekonomi keluarganya kian ringan sekarang dengan bekerjanya Komar sebagai loper koran. Diajak kerja part time sama bekas pacar bang Pedro dulu. Heran juga, sekarang Pedro bisa jatuh cinta setengah mati sama Juleha. Padahal pacarnya yang dulu lebih segala-galanya dari Juleha.

"Bi, kadang-kadang Pipi pengen kerja, kayak Komar. Pengen punya duit sendiri, ga melulu minta ke mami. Baru niat minta duit aja mami dah tau, gimana mau minta yah?" topik baru lagi. Pokoknya keduanya ngobrol ngalor ngidul deh hari ini!
"Ngapain kerja non? Mending sekolah yang bener biar dapat kerja yang bener juga." nasihat bi Ijah.
"Uhm .. kalau sekolah sampai sma sih Pipi mau. Tapi kuliah? No way! Pipi ga mau kuliah bi .. formalitas saja tuh. Buktinya banyak sarjana nganggur kan? Yang dapat kerjaan bagus tetap hasil dari KKN!! Orang pintar bertebaran persis kacang goreng, yang kerja kantoran malah orang yang ga punya otak sama sekali! Hasil KKN semua ... huh ... bagaimana negara mau maju coba .." Pipi sudah persis juru kampanye deh lagaknya.
"Non .. naik bangku saja .. heheheh partai apa nih non .. hehehe" Pipi manyun.
"Memang benar sih non. Negara kita ya gini-gini saja, soalnya yang duduk di jabatan tinggi yang ga punya otak .. gampang dikendalikan sama orang-orang yang tidak bertanggung jawab!" sambar bi Ijah lagi.
"Bi .. naik bangku saja .. hayo .. partai apa nehhhh" balas Pipi. Keduanya tergelak lagi. Minggu siang yang menyenangkan.

Yeah, obrolan bi Ijah dan Pipi siang itu ga ada pangkal dan ga ada ujung. Jelas-jelas ngalor ngidul hanya buat have fun saja. Daripada bengong? Mending ngobrol kan? Tiba-tiba hp Pipi berbunyi, sms. Pipi membalas sms itu segera. Bi Ijah dengan setia menanti Pipi selesai membalas sms sembari meneguk es syrup yang sudah ga dingin lagi.
"Dari siapa non?" tanya bi Ijah setelah Pipi meletakkan hp di bangku.
"Dari Gita, ngajak ke warnet baru." jawab Pipi.
"Warnet? Apaan tuh non? Warung kornet?" tanya bi Ijah bego.
"Yee bibi, bukan warung kornet, tapi warung internet!" jelas Pipi.
"Internet tuh apa non?" tanya bi Ijah lagi.
"Uhm, apa yah .. Pipi juga ga bisa menjelaskan internet tuh apa. Yang jelas dari internet kita bisa mendapat banyak informasi sekaligus belajar. Bisa mengenal orang-orang dari dunia lain dengan gampang." terang Pipi.
"Oh! Dunia lain?! Ngeriiiiiiiii ah ... dunia lain .. pocong dan hantu itu kan?" tebak bi Ijah pede. Pipi nyengir.
"Bukan bi .. dunia lain itu, ya dunia kita juga, hanya mereka itu ada yang dari pulau Jawa, amerika, australia, eropa, kalimantan, malaysia .. pokoknya dari wilayah-wilayah lain di bumi ini ... gitu bi ..." bi Ijah manggut-manggut. Entah ngerti atau ga, yang penting manggut!! Hehehe.
"Oh gitu .. kenapa non ga ikutan si Gita saja?" tanya bi Ijah. Pipi menggeleng.
"Ga lah bi .. mending ngobrol berdua bibi. Lebih enak heheh bibi suka pakai masako sih, jadi lebih terasa hehehhe" mereka ngakak lagi. Bi Ijah kemudian menawarkan Pipi makan siang. Mau nunggu papi mami? Sampai kapan? Perut sudah minta di isi. Keduanya makan siang di halaman belakang dengan lahap.

Tak terasa hari menjelang sore, adzan Ashar mulai berkumandang. Pipi menggeliat. Bi Ijah menguap. Lama juga mereka ngobrol berdua. Tau-tau Pedro muncul.
"Dorrrrrrrrr!!!" Pipi memandang kesal pada abangnya itu.
"Hoi, ngapain Pi? Tampang dah jelek, malah tambah jelek tauk!" semprot Pedro. Bi Ijah mengangkat gelas kosong dan piring ke dapur.
"Abang tuh yang jelek. Keluar dari pagi ga tau kemana. Ajak-ajak dong." balas Pipi.
"Weehhhh orang pacaran kok ajak-ajak. Emang Pipi mau jadi obat nyamuk? Ga dey, mending abang menjauhkan Pipi dari masalah pacaran. Takut gagal hwahahahahaha ..." Pedro ngakak. Senang rasanya ngerjain si Pipi.
"Mami pami blum pulang Pi?" tanya Pedro setelah duduk di samping Pipi.
"Belum tuh. Arisan kok sampai sore gini ... pasti arisan sambil hajatan nih. Bang Ped dah makan?" tanya Pipi.
"Sudah dong .. Juleha nraktir abang tadi! Aseknyaaaa" jawab Pedro mantap.
"Syukurlah .. soalnya udang gorengnya dah Pipi habiskan!" jawab Pipi. Pipi tau, Pedro paling doyan udang goreng.
"Biyarrrrr .. ga ngaruh weq ..." Pipi tergelak.
"Dah ah, Pipi mau mandi, ngerjain pe er ... " Pipi bangkit.
"Abang juga mau mandi ... bobok .." keduanya masuk, menuju kamar masing-masing. Tak lupa, Pipi dan bi Ijah bikin janji *kencan* lagi berdua Minggu depan, dengan catatan kalau Pipi lagi ga ada acara. Hehehe.

Well, ngobrol ngalor ngidul itu kadang perlu juga kali ye. Ga ada topik serius, ga ada beban, just have fun! Ngobrol itu perlu, mengeluarkan isi otak juga, biar ga stres. Orang yang suka ngobrol kadang terlihat lebih ceria dan segar dari pada orang yang diem mulu. Contohnya barangkali si Rara, teman Pipi itu. Saking diamnya, kadang orang ga nyangka kalau Rara baru kelas tiga smp. Soalnya Rara terlihat dewasa dan feminin. Kadang ngalor ngidul bisa memberi kita inspirasi loh, seperti penulis, yang sukanya ngobrol ngalor ngidul dan akhirnya bikin cerita yang ngalor ngidul ga ada pangkal dan ga ada ujung! Wahahahah ... sorry :))

tt, 13 Feb 04

Wednesday, February 11, 2004

Teman-teman, Pipi libur seminggu nih! Nanti Pipi kembali yah ^^ tatah semuanya. Happy Sunday to all ^^

Tuesday, February 10, 2004

.:. Serial Pipi : BerQurban .:.

Satu minggu lagi, terhitung hari ini, adalah hari raya umat Muslim. Hari raya ke dua setelah Idul Fitri, paling tidak, begitulah orang awam menyebutnya. Idul Adha kali ini diramaikan dengan 7 ekor sapi yang akan dikurbankan, entah berapa ekor kambing. Yang jelas, 7 ekor sapi tersebut hasil sumbangan dari Pemda, Masjid-masjid, Kelompok pengajian dan PHBI sendiri. Pipi, si ceking nan tomboy terlihat asik membaca gober kesayangannya. Sore-sore gini begitu lah kegiatan gadis itu kalau tidak mengikuti les privat dan maen bersama geng REWO-nya. Keasikan Pipi terganggu saat Pedro dan beberapa temannya termasuk Kevin (baca Pipi : Cinta Monyet-red) datang. Suasana yang hening tiba-tiba ribut. Pipi sebenarnya ga membenci teman-teman kakaknya itu, hanya saja, karena Pipi lagi punya sedikit bentrokan sama Pedro, makanya tampangnya langsung dikerut sekerut-kerutnya. Jutek banget kelihatannya. Dipelototinnya temen-teman kakaknya itu satu per satu. Ada si Kevin, Andy, Obbi dan Joni. Huh, Pipi membuang muka.

"Halo Pipi .. judes amat tampangnya?" Kevin, yang sedikit merasa dekat dengan Pipi mencoba mencari perhatian. Pipi memandangnya sekilas, tersenyum tanpa arti dan kembali membaca gober kesayangannya. Kevin cemberut.
"Oittt paman Donald .. lihatlah, ada si culun datang, kata Kwek sambil menunjuk-nunjuk paman Kevin, yang kikirnya terkenal sedunia itu ..." Kevin langsung mundur begitu mendengar bacaan Pipi .. Sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal Kevin membatin, emang paman Gober nama samarannya Kevin apa yah? Pipi sempat melirik sekilas, rasain luuuu, cewek tomboy itu mau melanjutkan bacaannya dengan suara lantang kalau tidak didengarnya Pedro memanggil teman-temannya itu.
"Yokk ... bola basketnya ternyata ada di belakang ..." rupanya mereka berlima mau latihan basket. Pipi mencibir lagi, masa segitu namanya latihan basket? Cuma ngedrible bola trus masukin ke keranjang belanjanya mami? Kalau jago, noh ke lapangan KONI, bertarung sama anak-anak sana ... Eh, tunggu dulu, bola basket? Bola basket Pedro kan telah hancur berkeping-keping seperti gelas-gelas kaca kalau jatuh ke lantai? Bola itu kemarin siang dicincang Pipi pakai cutter plus parang milik bi Ijah? Gara-gara pertengkarannya kemarin sama Pedro, gara-gara Pedro ngata-ngatain dirinya dengan pedas "Dasar anak ingusan, dibohongin sama Rahul saja mau, mana ada anak kuliahan mau pacaran sama anak ingusan kayak kamu? Pikir dong pakai otak, jangan pakai kunciran rambut yang ga pernah ganti model gitu!!!!" busyettt, brani-braninya Pedro bilang begitu. Pipi tak dapat membantah, gadis itu dengan berang masuk kamar. Lalu dengan tak berperasaan Pipi mengambil bola basket Pedro yang lagi nangkring di bangku halaman belakang, di iris-irisnya bola keras itu dengan cutter, ga mempan pakai cutter, Pipi mengambil parang tajam di dapur. Tak ada rotan akar pun jadi, gitu batin Pipi berkomentar. Dan sore ini? Kacau lah kalau Pedro sampai tau dirinya lah yang telah menghancurka bola itu. Pipi ga konsen lagi baca gober, hatinya deg deg-an terus. Pokok masalahnya dimana sih? Gara-gara Rahul ga jadi nganterin dia ke toko buku ... Pedro menghina dan ... Huh, Pipi bangkit dari sofa, perlahan-lahan melangkah ke kamarnya.

Sampai menjelang makan malam Pipi masih menunggu reaksi Pedro. Tapi si kakak cuek bebek menyantap nasi putih plus sayur bening dan ikan saos asam manis. Pipi takut-takut juga melihat wajah Pedro, namun yang ditemui di wajah sang kakak, hanya garis datar, tanpa marah. Loh, seharusnya bang Pedro marah kan? Batin Pipi tak habis-habis. Duh, kok ga marah? Ga biasa sekali ... Dengan irama tak tentu Pipi menyuapi mulutnya sesendok demi sesendok. Kenapa Pedro ga marah? Papi dan mami saling pandang. Kedua kurcaci ini biasanya ribut di mana-mana, termasuk di meja makan. Malam ini keduanya menjalankan table manner yang entah dipelajari dari mana. Sok sopan. Mami mengangkat bahu. Papi meneruskan makannya, juga tanpa suara, mau melucu, takut candaannya malah bikin kedua anaknya tertawa, loh kok .. Soalnya kalau tertawa, artinya mereka memaksakan diri banget! Mana ada gurauan papi terlihat lucu? Justru kalau papi diam-diam saja, keduanya bisa tertawa terpingkal-pingkal, katanya wajah papi cocok jadi maskot Ketoprak Humor. Dasar sableng!

Lima hari lagi Idul Adha, kegiatan amal di masjid-masjid mulai terasa. Pipi sempat nyumbang juga, sebagian uang jajannya ditabung dan disumbangkan. Niatnya sih buat beliin bola basket baru untuk Pedro, namun karena ga ada komplain apa-apa dari Pedro, Pipi menyerahkan uangnya itu untuk masjid. Untung-untung bisa buat beli sapi. Lumayan kan, biar masyarakat yang ga mampu bisa dapat jatah semuanya, adil dan merata. Aksi diamnya ke Pedro pun masih terus berlanjut tanpa ada niat damai dari keduanya. Pedro lebih memilih diam di kamar dengerin radio yang menampilkan lagu-lagu jaman dahulu kala (radio Daerah sih!). Sedang Pipi lebih suka membaca gober sambil mendengar hentakan-hentakan dari Linkin Park. Pedro ga bisa berbuat apa-apa, soalnya dia lebih memilih jalan-jalan ke Jogja ketimbang membeli vcd pas liburan tahun lalu itu. Makanya, saat ini dia hanya bisa gigit jari mendengarkan lagu mendayu-dayu dari radio ... duh ... bikin ngantuk!

Begitulah, jam terus berdentang, hari terus berganti, menu makan siang ga ganti-gati juga. Pedro dan Pipi, dua bersaudara yang biasanya akur itu, masih terus saling diam-diaman. Sampai-sampai bi Ijah pernah berkomentar gini "Coba setiap hari bisa begini yah ... adem nih kuping rasanya ..." Pipi cuek sama komentar bi Ijah, bukan komentar dari si Rahul ini kok! Terserah deh mo ngomong apa. Tapi lama kelamaan hati Pipi ga enak juga. Masalahnya adalah, Pipi ga bisa keluar rumah malam-malam kalau ga ditemani Pedro. Padahal menikmati kopi susu panas di MM Cafe jam sepuluh malam kan harus bareng Pedro? Pipi ga bisa ngakak lebar belakangan ini, soalnya teman ngakaknya juga lagi menjalankan aksi diam. Huh, dijahit saja deh mulut ini kalau ga bisa dipakai buat ngakak! Pipi mikir lagi dan lagi ... sesama saudara kok saling marahan? Sesama mafia kok saling menipu :P Makanya si tomboy ini berniat, nanti malam ke kamar Pedro, ngomong baik-baik. Kalau perlu sampai keluar air mata darah deh! Yang penting semuanya bisa kayak biasa lagi. Lagian besok kan mau hari raya? Masa masih marahan terus sih? Ga terasa sudah hampir seminggu mereka marahan! Allah hanya memberi waktu *sampai matahari terbenam, sebaiknya yang bermarahan sudah saling memaafkan* lha ini? Sudah hampir 6 kali matahari terbenam! Pipi semakin mantap dengan niatnya. Oh iya, bisa-bisa masakan mami yang super enak itu terasa hambar bila hati sedang marah. Betul ga saudara-saudara??!!

Maka dari itu, saat jarum jam menunjuk pukul 9, Pipi mengendap-endap keluar kamar. Berjalan perlahan, malu kalau ketahuan papi, mami dan bi Ijah! Biarpun harus meminta maaf duluan, itu harus diam-diam, ga boleh ada yang tau. Deuh prinsipnya .... dan *debyiarwiehsyapadisitubusyetttt* Pipi menabrak, Pedro!! Pedro yang juga sedang mengendap-endap menabrak Pipi! Keduanya kaget, saling pandang dan langsung terpingkal-pingkal. Pipi ngakak lebar melihat tampang Pedro yang mirip maling ketangkap basah. Sedangkan Pedro ketawa ga habis-habis melihat tampang Pipi mirip ayam dikasih potas. Berapa saat keduanya lantas tersadar ... jangan sampai papi dan mami yang sudah masuk kamar tau. Apalagi bi Ijah. Keduanya beringsut-ingsut ke teras depan. Duduk berdua di tengah pot-pot bunga mami yang kalau malam menawarkan aroma yang menyegarkan pikiran.
"Pi, emang tadi mau ke mana?!" tanya Pedro sambil natap bintang.
"Mau ke kamar bang Pedro ..." jawab Pipi sambil menatap bulan. Pedro menoleh ke adiknya. Pipi menoleh ke kakaknya.
"Ngapain?" tanya Pedro lagi. Pipi diam dulu untuk sementara. Biarpun telah berniat, untuk bicara itu rupanya agak sulit. Satu .. dua .. tiga .. Pipi berhitung dulu di dalam hati.
"Mau menjelaskan soal bola basket itu yah?" belum sempat Pipi menjawab, Pedro sudah menebak duluan. Heran deh Pipi, 6 hari ga bergaul dengannya si kakak telah lebih pintar dalam hal tebak-tebakan gini. Pipi mengangguk, membenarkan Pedro.
"Iah bang. Pipi mau minta maaf. Bukan hanya soal bola basket, tapi juga semua sikap Pipi selama 6 hari ini. Musuhan, diemin abang, dan lain-lainnya." Pipi menarik napas lega setelah bilang gitu. Pedro tersenyum, mengucek-ngucek rambut adiknya.
"Lalu, abang sendiri .... tadi mau kemana? Hayooo .. ke kamar Pipi kan?!" Pedro tersentak kaget. Duh, kalau soal tebak menebak gini, Pipi memang jago nya deh. Entah dapat dari mana indra ke tujuhnya itu. Indra ke enam Pipi : perayu kelas wahid. Beuhh itu termasuk dalam indra ga yah?
"Iya, abang ngaku deh ... Emang tadi mau ke kamar Pipi. Mau minta maaf juga, soalnya sudah menghina Pipi. Abang sendiri waku itu kaget juga, kok rada nyelekit yah kata-katanya. Padahal harusnya lebih nyelekit lagi .. haw haw haw soalnya Pipi biasanya kurang mempan kalau kata-kata abang kurang melecehkan gitu. Tapi kemarin rupanya abang salah duga, Pipi jadi marah besar gitu .. maafin abang yah?!" Pipi manggut-manggut sambil mainin kuncir rambutnya.
"Sama-sama deh bang ... besok kan mau hari raya Kurban. Malam ini kita berdua ternyata telah lebih dulu berkurban, kita menang bang!" Pedro yang jelas ga ngerti jadi bengong, penulis juga sedikit bengong.
"Ng .. maksut Pipi?" Pipi ga heran kalau Pedro terlihat kayak orang bego gini.
"Gini loh bang maksutnya ... Malam ini, Pipi dan abang telah mengorbankan perasaan GENGSI, EGO dan SOMBONG untuk saling meminta maaf dan untuk saling memaafkan! Gitu bang, ngerti kan?!!!" Pedro menangkap sedikit makna. Pipi menelan ludah, duh .. masak harus dijelaskan lebih mendetail sih?
"Oh iya iya .. abang ngerti. Betul juga, berkurban itu bukan hanya berkurban binatang yeah? Yup, anggap saja malam ini kita telah memotong satu ekor GENGSI, satu ekor EGO dan satu ekor SOMBONG! Ga usah dibagi, biarkan saja dikubur. Agar hati kita lebih bersih ..." Pipi dan Pedro saling pandang, mengingat kejadian tabrakan tadi dan keduanya ngakak bareng lagi.

"Ehem ehem .. kalian beruda!" terdengar suara mami dari pintu. Mereka berdua kaget.
"Eh mami, ngantuk sih ngantuk, ngomong jangan jadi ngelantur. Masak beruda, berdua!" papi meralat. Mami tersadar.
"Oh iya, kalian berdua, syukurlah kalian telah kembali ke jalan yang benar. Ternyata niat papi dan mami untuk mendamaikan ga jadi terlaksana. Kalian toh sudah besar-besar, sudah bisa berpikir sendiri. Masak satu dikali satu masih tanya ke mami?!" ugh, mami .. mulai deh. Papi ikutan ngomong.
"Iyah, satu dikali satu sama dengan dua tauk!" Yeee papi, Pedro dan Pipi cekikikan sendiri melihat tingkah ke dua orang tuanya itu. Dalam keadaan ngantuk berat masih juga memikirkan mereka. Mencari mereka ke kamar masing-masing dan menemukan kedua bersaudara itu asik tertawa di teras.
"Pokoknya inget, ga ada duit lebih buat jajan. No koment sama menu makan siang. Besok boleh makan enak, lusa makan angin. Inget besok bawain rantang makanan ke rumah si Komar! Punya temen susah, ga dipikirin! Lalu Pedro, kapan si Kevin datang lagi? Anaknya cakep, boleh tuh dijadiin umpan ke Hesti, tetangga sebelah, buat minta mangganya yang sudah mulai ranum ... Papi besok jangan lupa turut ke masjid, siapa tau kalau hewan kurbannya kurang, papi bisa dijadiin cadangan, bi Ijah besok harus rapih jali dari pagi sampai sore, ga ngapa-ngapain sih .. biar bi Ijah terlihat kinclong dikit .. bla bla bla .. de es be ... de el el .. ngerti semua? Sekarang bobok time!" beuh mami, sadar juga kalau sekarang dah jam 11. Eh tau ga, sambil ngoceh tadi, mata mami separuh terpejam. Apa itu tadi ngelindur yah?! Tak terasa 2 jam Pipi dan Pedro saling membuka hati. Mami balik kanan, mata ngantuk, ga sadar di depannya itu jendela dan *jedugz* mami kejedug jendela. Papi ngikik ... lagian siapa suruh, ngantuk-ngantuk masih kasih ceramah.
"Papiiiiiii jangan berdiri di depan pintu dong!" omel mami sembari menghilang ke dalam rumah. Papi masih ngikik ...
"Eh pi .. tadi dijagoin buat cadangan hewan kurban, trus disamain sama jendela, ntar dikira apa dong pi?" Pedro iseng bertanya. Papi dengan kalemnya menjawab.
"Kalau ga bantal guling ... ya ... Elma Theana ..." Pipi dan Pedro saling pandang.
"Loh kok Elma sih pi?" tanya Pipi penasaran.
"Soalnya mami sebel ma Elma, makanya kalau sampai mimpi ketemu Elma, tinju mami kadang melayang ke wajah papi ... huhhuhuhu" Pipi dan Pedro tambah ngakak lebar mengiringi langkah papi masuk ke dalam.

Akhirnya perseteruan antara Pipi dan Pedro berakhir sudah. Malam ini mereka kembali ke kamar masing-masing dengan beberapa catatan, saling meminjamkan vcd dan playernya. Saling malak kalau salah satu kehabisan duit jajan untuk seminggu. Boleh minjem kaos baru dan saling menjaga rahasia. Keduanya tertidur lelap.
Dan hari ini, adalah hari raya Idul Adha, para calon Haji/Hajjah telah resmi mendapat predikat tersebut, seusai sholat Ied, hewan-hewan di kurbankan. Papi jauh-jauh dari TPH, ngumpet di balik tembok. Hiihihihi (Maaf sodara-sodara, Penulis ga tahan pengen ngakak jugak :P). Pipi, diantar Pedro ke rumah Komar bawain rantangan. Bi Ijah rapih jali nata makanan di meja. Dan mami, di depan cermin, terheran-heran sama benjol gede di keningnya. Whatever .. yang jelas, petiklah hikmah Idul Adha, semampu kita memetiknya, jangan dipaksa bila belum mengerti maknanya. Yang jelas, dengan berkurban, kita membersihkan diri dan hidup dari hal-hal kotor yang melekat padanya. Bukan begitu pembaca yang tutehman?

dibuat tootyee, 31 Janayari 2004
huahAHhaHAhahahHAHaAaHAhahHAHhahhaHAHhah

-::- P R O T E S -::-


Yeah, Pipi, si ceking tomboy yang cuek namun disayang semua orang itu, kemarin mengajukan protes ke penulis. Katanya gini, "Penulis sekarang kok jarang bikin tulisan tentang Pipi lagi? Mentang-mentang banyak cerita lain yang lebih menarik yah?!" aduh, jadi ga enak sama Pipi. Maafin saya Pi, bukannya ga mau bikin tulisan soal Pipi lagi kok, cerita Pipi mana ada matinya? Kan Pipi si ceking yang baik hati? Yang selalu rela berkorban dan suka menolong? Lihat tuh si Komar sahabat Pipi, sekarang hidupnya sudah agak lumayan berkat bantuan Pipi kan? Pipi selalu kasih contoh yang baik dan selalu memberi percikan-percikan kecil yang menyentuh hati kita semua kok.

Pipi tak hanya mengajukan protes sama penulis, tetapi juga sama papi dan mami, juga bang Pedro dan bi Ijah. Termasuk geng REWO juga. Apalagi si Rahul, cowok Pipi yang sudah jadi mahasiswa itu ikut-ikutan mendiamkannya. Pipi merasa orang-orang yang selama ini dekat dengannya mulai melakukan aksi cuek habis-habisan. Pipi merasa tersingkirkan. Sungguh, gadis yang duduk di kelas 3 SMP Angkasa itu merasa dicuekin sama orang-orang di sekelilingnya. Makanya sikap Pipi rada uring-uringan. Sikap Pipi rada aneh. Kelakuannya juga jadi aneh. Cara berpakaiannya pun turut aneh, mengikuti suasana hati pemakainya.

Seperti pagi ini, Pipi dengan sengaja memakai kaos kaki merah menyala selutut dan sepatu kets warna hijau tua. Gimana ga norak coba? Rambutnya yang biasa dan selalu di kuncir itu dibiarkan tergerai bebas. Seragam smpnya bagian lengan digulung. Persis preman deh penampilan Pipi. Ga lupa Pipi menyapu bibirnya dengan lipglos yang lebih mirip minyak bekas goreng ayam!
"Deuh Pi, mau kemana? Sekolah?!" tanya Pedro, sang abang.
"Emang ada tempat bagus di hari Rabu gini dengan seragam sekolah selain sekolah?! Terang mau ke sekolah dong bang!" Pipi dengan cueknya duduk di samping Pedro, mengembat roti lapis selai kepiting buatan mami. Yeee... selai kok kepiting? Hehehehe
"Udeh udeh, jangan ribut! Papi lagi konsen baca berita nih! Soal bus way .." papi sok sibuk baca koran, sedangkan mami masih asik di dapur kasih perintah ke bi Ijah.
"Huuuu koran bekas aja dibaca pi!" komen Pipi. Papi cuek, saking cueknya itu kopi disangka selai, otomatis jari papi yang maksudnya mencolek selai jadi melepuh! Huhuhu papi ada-ada saja deh ulahnya. Oh iya, belum pada lupa kan kalau papi juga suka membaca koran kemaren atau kemarennya lagi? Soalnya koran bekas itu lebih murah harganya, bisa menghemat pengeluaran.
"Piiiippppiiiiiiiiiiiiiiii aw!!" jeritan mami di pagi itu membuat Pedro keselek selai! Aduh mami ngapain tereak-tereak gitu?
"Kamu mau ke sekolah atau ikutan ondel-ondel?!" hardik mami. Pipi cuek menegak susu coklat dan mengibaskan rambutnya yang tergerai.
"Sekolah dong mi ... Pipi berangkat!!! Duluan yah bang Ped .. Samlekum!" tanpa basa basi Pipi melesat ke luar. Mami hanya bisa mengurut dada melihat kelakuan putri satu-satunya itu.

Di sekolah Pipi jadi pusat perhatian anak-anak dan menjadi bahan obrolan para guru. geng REWO merasa turut prihatin. Namun Pipi cuek. Menurutnya kalau orang bisa cuek padanya, kenapa dirinya ga bisa? Kelakuan Pipi lebih menjurus pada balas dendam ... hiiii Pipi ... ngeri dong kalau balas dendam. Hasil akhirnya, hari itu Pipi diskors dari sekolah, ga boleh masuk sekolah selama seminggu sampai penampilannya bisa normal kembali. Geng REWO ga brani mendekati Pipi, soalnya sikap gadis itu garang sekali. Tatapan matanya jadi ganas seolah mau menelan semua yang ada di hadapannya. Rahul sendiri tau ulah pacarnya itu, tapi cowok itu berlagak ga tau.

Siang itu, pulang sekolah, Pipi memilih jalan sendiri. Ga bareng geng REWO lagi. Si tomboy itu ingin sendiri dulu. Rasa tersisihnya dari perhatian orang-orang yang dekat dengannya membuat gadis itu ingin sendiri. Dicuekin? Pipi juga bisa kok cuek, batin nya. Diskors? Biyarin!! Gitu deh kalau abg lagi kesal. Dalam perjalanan pulangnya itu, Pipi bertemu dengan seorang anak kecil, sedang duduk mengaso di bawah rindangnya pohon johar di trotoar jalan. Pipi tertegun. Dirinya ikutan duduk di samping anak kecil itu.
"Eh dek, siang-siang gini jualan sayur, emang ada yang laku?!" tanya Pipi. Anak itu menoleh, memberi senyum lebar.
"Ada lah kak ... buat makan malam ... kan butuh sayur juga." jawab anak itu.
"Trus? Kamu ga sekolah?!" tanya Pipi lagi. Anak itu menggeleng lemah.
"Tidak kak ... orang tua saya bercerai, saya ikut nenek, hidup nenek prihatin, sudah dikasih makan saja saya bersyukur sekali. Bisa membantu nenek dengan jalan menjual sayur seperti ini pun membuat saya senang ... " Pipi tertegun lagi. Anak sekecil itu harus melihat perceraian orangtuanya? Ditinggalkan orangtuanya yang bercerai? Dicuekin orang yang dicintainya begitu saja? What a wild world! Pipi tersadar, dirinya, masih diperhatikan orang-orang yang dicintai, masih dekat dengan orangtuanya. Masih merasakan limpahan kasih sayang orangtuanya meskipun dengan cara yang berbeda.

"Dah ya kak, saya mau jualan lagi ... dahhhh" anak itu bangkit, mengusung baskomnya dan melanjutkan perjalanannya. Pipi masih terduduk di trotoar jalan. Apa yang telah dilakukannya akhir-akhir ini adalah hal bodoh yang pernah terjadi. Sampai bertingkah aneh yang menyebabkan dirinya di skors dari sekolah. Pipi harusnya lebih bersyukur. Lalu untuk apa sebenarnya Pipi bertingkah aneh?! Pipi mengutuk dirinya sendiri. Padahal papi, mami, dan bang Pedro masih mau memperhatikannya. Geng REWO masih terus bersamanya. Bang Rahul pun masih setia padanya .. barangkali karena ada kesibukan-kesibukan sendiri yang menyebabkan mereka "Kurang" memperhatikannya, namun mereka tetap dekat dengannya, tidak mencuekinya dan tetap melimpahkan sayang mereka padanya. Lalu apalagi yang kurang?! Well, Pipi tersenyum puas. Jawabannya telah ada sekarang. Pipi menoleh pada Penulis, "Well, kamu akan tetap menjadi Pipi yang menginspirasi hidup saya kok Pi!" Pipi senang mendapat jawaban itu. Siang itu Pipi bertekat, tidak akan memprotes lagi. Ga akan melakukan tindakan yang aneh lagi. Karena hasilnya akan merugikan dirinya sendiri. Good girl ... Pipi dan Penulis *TOZZ*

tootyee, 27 Jan 04